Quote Originally Posted by Alip View Post
Justru itu pertanyaan saya, Kakang Tumenggung... semua di atas itu 'kan berupa kemungkinan, bisa terjadi tapi mungkin juga tidak...

Melihat hasil yang sekarang sudah terpapar, apakah tampaknya hasil tersebut merupakan keluaran dari sebuah proses yang wajar (dengan tingkat kecurangan yang tidak signifikan) atau tidak wajar (dengan kecurangan yang berhasil merubah hasil nasional secara signifikan)?
pada sebagian besar daerah dimana "birokrat" te
lah "dikuasai" parpol tertentu, makan itulah proses
yang terjadi.

Tidak jarang, secara ekstrim surat suara sudah di
coblos, dan para pemilik suara diminta pasrah un
tuk pura-pura masuk bilik suara, tuma'ninah, dan
keluar seolah sudah mencoblos.

---------- Post Merged at 06:28 AM ----------

Quote Originally Posted by danalingga View Post
Kalo menurutku belum. Jika pintar dan dewasa maka partai pengusung presiden
pilihan harusnya menang mutlak.

Jika seperti sekarang ini, presiden bakal dipaksa untuk berkoalisi. Kita tahulah
koalisi itu gimana. Koalisi hanya akan memasung kaki Presiden. Dari hal ini,
saya berkesimpulan bahwa para pemilih kurang paham sistem dan mungkin juga paham,
tapi tidak berpikiran kedepan.
yup... masyarakat yang menukar arah kebijakan
politik negara dengan sembako/souvenir/uang se
nilai 50rb, jelas bukan masyarakat yang matang
dalam beraspirasi.

Dan wajar saja rakyat yang "sakit" hanya akan
menghasilkan wakil-wakil yang sakit pula.