Quote Originally Posted by jojox
Asing mah, cuman sering digunakan untuk bumper dan embel2 teknologi, investasi capital, dan pengembangan pembangunan masa depan, ....aslinya, sekalian jg kambing hitam kalo ada masalah2 sosial yang kena panah dan demo kan pasti kedutaan Amerika, Malaysia, Aussie, Perancis, dan negara2 barat lainnya. Perlu dicermati stakholder matriksnya, kalo pemerintah indonesia dan pengusaha indonesia = tidak sama (alias tidak merepresentasikan suatu kepentingan bersama/common interest, pemda itu fungsinya pelaksana konstituensi lokal fokus pada pembangunan daerah, pengusaha indon tuh pelaksana pengerukan profit di manapun ada potensi exploitasi).
Ini ada benarnya, tapi gak semuanya benar
Bgmn dng IMF dan anasir2nya yng mampu mempengaruhi pembuat kebijakan negeri ini?
sebagai contoh, lihat UU no:22/2001 yng nafasnya begitu birokratis dan liberal
fenomena bernafsunya tuk menjual BUMN vital agar beralih kepemilikan dng dalih
agar bisa efisien n berdaya saing ... cuih (alasan menjijikkan)
untuk membenahi BUMN kurang sehat apakah satu2nya cara harus dng menjualnya?
hallooo!..... fatwa darimana ini?, sudah tidak adakah anak bangsa ini yng mampu
membenahi tanpa menjualnya? [kuwalat deh ntar ama founding father kita]

lantas dimana kedaulatan Negara n anak bangsa ini
jika BUMN-BUMN strategis sudah tidak lagi dalam kontrol penuh
(baca dikelola sepenuhnya) oleh Negara sbg perwujutan amanat UUD pasal 33?

Sptnya ada benarnya jg statemen salah seorang pengamat MIGAS
"bhw bisnis MIGAS itu sarat kepentingan dan sarat mafia"

hmm ......
carut marut negeri ini rupanya udah gak mempan diatasi dng "REFORMASI"