Totally agree with you, Mbok... and that exactly is my question. Asumsinya manusia itu rasional dan akan menyesuaikan pola konsumsi mereka dengan kondisi ekonomi di kampung masing-masing, maka sudah seperti apakah kondisi ekonomi tersebut? Apakah masih hidup di kampung yang makanan tinggal petik di pohon sehingga tiap bayi yang lahir dijamin akan berkecukupan sampai tua, atau sudah di kampung yang 80% populasinya hanya sanggup memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga tidak bisa menabung dan harus selibat? Seperti kata Danalingga tuh, ada negara yang sudah sampai tahap itu...
Saya sendiri masih optimis dengan kampung saya saat ini, tapi tampaknya anak-anak harus menempuh jalan berbeda dari kami bila ingin hidup lebih baik. Saat mereka masuk usia produktif nanti, dugaan saya negara yang salah asuh ini tidak akan sanggup lagi menyediakan kesempatan produksi yang bisa dinikmati banyak orang. Sebagian kecil masyarakat akan menguasai sebagian besar kekayaan dan produksi, sementara sebagian besar lainnya harus berjuang keras untuk sekedar sustainable.
Maybe just my skepticism...
---------- Post Merged at 09:46 AM ----------
Sebenarnya Tumenggung Sepuh memiliki asset lebih banyak dari 500 juta. Beliau memiliki rumah, tanah, dan sawah di kampung halaman yang bisa menghidupi beliau (kalau dirupiahkan bisa milyaran) dan sekian banyak senapati yang masih produktif yang akan ikut menyokong (juga asset yang bisa diakuntansikan)...
Jika nanti Ki Tumenggung Anom Ronggolawe akan Purna Bakti, apakah asset yang sama masih akan tersedia?
Bukan jualan asuransi..., waktu ambil Manajemen Keuangan II dulu, dapet juga soal Personal Financial Management, walopun tanpa sertifikasi
![]()
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)





, waktu ambil Manajemen Keuangan II dulu, dapet juga soal Personal Financial Management, walopun tanpa sertifikasi
Reply With Quote