Quote Originally Posted by Alip View Post
@mbok jamu
I understand your principle, Mbok... tapi tentunya saya tidak pada posisi untuk menentukan bagi orang-orang di kampung sinih tentang bagaimana seharusnya sebuah natural cycle of human life. Paradigma yang ada adalah given, yang di dalamnya ada faktor budaya, agama (dengan berbagai interpretasinya), pandangan hidup, dan macam-macam lagi.


Yang saya maksud dari diskusi ini adalah bagaimana tuntutan dari kondisi perekonomian yang sedang kita hadapi. Misalnya;


Digambarkan oleh Kakang Tumenggung Ronggolawe kisah kondisi sosial ekonomi kampung di sini beberapa waktu lalu, yaitu ketika seorang Tumenggung Sepuh memutuskan untuk purna bakti, beliau masih bisa hidup berkecukupan tanpa banyak pusing soal perencanaan. Barangkali karena sedikit tabungan beliau tidak tergerus oleh inflasi, atau struktur budaya yang masih mewajibkan (secara moral) para senapati muda untuk menyokong kehidupan sang Tumenggung Sepuh yang Madeg Pandito.


Apakah generasi yang sekarang masih bisa berharap seperti itu? Melihat pertumbuhan nilai properti, ketersediaan lapangan kerja, kemungkinan jenjang karir yang ditawarkan (pertumbuhan pendapatan), perubahan demografi, dan pertumbuhan biaya pendidikan? Apakah kita masih bisa berharap saat pensiun nanti kondisi perekonomian masih sama dengan ketika Tumenggung Sepuh Purna Bakti? Apakah kita harus menyiapkan hal yang berbeda? Apakah pada akhirnya pendidikan dan kesejahteraan yang menyertainya hanya bisa dinikmati sedikit orang sedangkan selebihnya harus hidup selibat karena lapangan pekerjaan yang tersedia tidak akan cukup untuk menghidupi seorang istri dan anak-anak (seperti prinsip siMbok)?

Lha ya realistis saja, Pakde, kalau di usia produktif megap-megap apalagi nanti ketika sudah pensiun. Berarti harus ada yang disesuaikan dan itu tergantung pada prinsip masing-masing individu, paradigma yang membentuk pola pikir individu tadi toh?


Kakak simbok mungkin ndak tahu apakah dengan single income tabungannya nanti akan mencukupi di hari tua tapi untuk bekerja sampai meninggalkan anak-anak pada babysitter juga dia ndak tega. Pertimbangannya adalah lebih baik mereka berdua nanti hidup seadanya daripada sekarang anak-anaknya ndak terawat dengan baik. They made their choice dan pilihan itu bukan berarti mereka ndak memikirkan saat pensiun nanti.


Orang hidup selibat? Mungkin pada akhirnya menjadi salah satu pilihan which is not so bad karena setidaknya mereka bertanggungjawab ndak mewariskan kemiskinan kepada generasi yang selanjutnya, the biggest crime of all.


Ketika hidup di kota besar seperti Jakarta misalnya, otomatis harus menaikkan standar mereka sementara kemampuan itu belum ada. Gaya hidup menjadi tuntutan ekonomi, sehingga harus kerja ekstra, harus double income, dan akhirnya hanya gali lubang tutup lubang. Segala kredit cicilan laku, 2nd income akhirnya untuk mengembalikan pinjaman. Single dan double income jadi beda-beda tipis.