Terima kasih atas tanggapannya... maap baru muncul... habis dipaksa nonton motogp padahal bukan penggemar...
Nah, para teman-teman itu hidup berkecukupan tapi mereka punya sudut pandang sendiri soal pengelolaan keuangan karena menurut mereka kehidupan berkeuangan itu haruslah direntang (
stretched) sampai mati... jadi bukan sekedar memenuhi kebutuhan hidup, tapi juga memenuhi kebutuhan selama hidup. Faktor yang perlu diperhitungkan antara lain:
- Pemenuhan kebutuhan dasar seperti pangan sandang papan kendaraan, termasuk biaya perawatan, pengembangan (nambah kamar, renovasi), penggantian (ganti motor/mobil yang sudah terlalu tua) ke depannya
- Uang sekolah anak sampai lulus S1, dengan asumsi si anak akan masuk universitas swasta dan tidak mendapat beasiswa (kalau dapat beasiswa penuh itu bonus, tapi bikin asumsi ya harus konservatif). Dihitung menggunakan perkiraan biaya kuliah ketika si anak kelak berumur 18 tahun (inflasi dkk.)
- Biaya kesehatan ketika nanti tua dan tidak terlalu produktif lagi
- Tabungan yang cukup untuk hidup sederhana pasca pensiun tanpa membebani anak-anak, dengan perkiraan harapan hidup sampai 75 tahun
Kesimpulannya, meski sekarang cukup atau bisa dicukupkan, mereka merasa perlu banget
double income untuk akumulasi uang guna mengantisipasi perkembangan kebutuhan-kebutuhan di masa depan... begitu cara mereka berpikir...
Minggu lalu saya ngobrol sama dua teman, satu tinggal di Missouri dan satu lagi di California, yang masing-masing umurnya sudah 60 tahun dan masih aktif di kantor. Alasannya, "
I cannot afford to retire yet!!! Our economy is so jumbled that senior citizen like us must still work to survive".
Memang sih, kasus dua orang itu melibatkan banyak faktor eksternal ekonomi makro yang saya harap tidak akan terjadi di Indonesia (
fingers crossed, I'm bit skeptical)... tapi lumayan membuka cara pandang baru.