Simbol adalah bagian dari kebudayaan, salah satu cara untuk mewariskan pikiran dan kebijaksanaan kolektif yang dihimpun oleh suatu masyarakat selama ratusan tahun ke generasi berikutnya. Yang memang, dampaknya adalah simbol menjadi identifikasi dari 'jati diri' suatu masyarakat.

Mengadopsi simbol dari suatu kebudayaan memang salah satu cara ampuh untuk bisa menyelami, memahami, dan menghayati budaya bersangkutan. Misalnya, latihan kenjutsu lebih asyik kalau mengenakan Gi dan Hakama, mirip samurai, ketimbang pakai baju pangsi.

Dalam kasus ini, ada kelompok masyarakat yang merasa lebih mudah menghayati agama Islam dengan cara mengenakan simbol-simbol yang dicirikan sebagai Islami, maka itu sah-sah saja. Memang ada tentangan, misalnya, bahwa gamis itu sesungguhnya adalah pakaian tradisional Yaman, bukan fashion dari Arab di abad kelima masehi. Tapi simbol memang tidak harus benar, karena yang penting adalah makna dari si simbol bagi pemakainya.

***

Memang ada masalah identitas... yaitu ketika seseorang mengenakan sesuatu yang berbeda dari lingkungan sekitarnya, dia dianggap mbalelo, meninggalkan jati dirinya sebagai anggota masyarakat tempat dia lahir dan tinggal.

Di sinilah perlunya kita memahami apa yang ada di balik semua simbol-simbol itu dan menemukan persamaan yang membuat kita bisa hidup bersama. Suka atau tidak, kita hidup di tengah banyak simbol dan jati diri, apalagi setelah budaya saling bertemu dan berbaur berkat makin canggihnya komunikasi dan transportasi.

Jadi inget main Sid Meier's civilization jaman SMA dulu... sekarang udah jilid berapa ya?

***

Cuma dua perak... (terjemahan Indonesia, supaya kesannya menggunakan simbol ke-Indonesia-an)