Buat saya sih iyah... apalagi sebangsanya MMA...
Jangan deket-deket simbok dulu...
saban hari gini, mBok? ato kadang-kadang aja?
Nah loh... ini serem... menghindari kekerasan tapi teteup mencapai tujuan... (lewat kekerasan)
Learned violence...#manggut-manggut![]()
"Mille millions de mille milliards de mille sabords!"
Mencapai tujuan sih sebisa mungkin nggak lewat kekerasan, om.
Beberapa tahun yang lalu saya nggeledah saku jaket preman yang saya curigai mencopet dompet saya di pasar tanpa kekerasan.
Sekedar geledah biasa. Begitu nggak ketemu dan ternyata dompetnya masi dalam tas saya, ya udah saya melangkah pergi.
There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.
Everyone wants happiness, no one wants pain.
But you can't make a rainbow without a little rain.
loh..itu gimana caranya menggeledah tanpa kekerasan?
jadi tucsy punya 'keahlian'kah?![]()
Popo Nest
bukan keahlian, melainkan kepanikan
panik uang bulanan ilang, maklum anak kos![]()
There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.
Everyone wants happiness, no one wants pain.
But you can't make a rainbow without a little rain.
Biar adil
- Seringkah melihat adegan kekerasan, entah itu nyata ato film?
Belakangan ini jarang, dan anehnya saya merasakan pergeseran selera nonton film. Sekarang lebih suka drama ketimbang action, apalagi action Hollywood... rasanya kok jadi muak...
- Apakah kalian menikmatinya? Apa yang dirasakan waktu nonton adegan itu (kalau ini kayaknya film deh, tapi kalo ada dari kejadian nyata juga bole)?
Seperti juga beberapa teman lain di sini, saya menikmati kekerasan sebagai bagian dari seni atau keterampilan, atau semangat juang. Di luar itu rasanya gak menarik.
- Adakah batasannya? Misalnya, adegan brantem gaya kungfu hustle boleh, tapi gore abis bikin mual... ato the nastier the better?
Tidak. Saya tidak terganggu dengan adegan paling sadis sekalipun. Tapi biasanya langsung ada gejala siap tarung kalau kekerasannya itu dalam bentuk penindasan terhadap pihak yang tidak bisa melawan.
- Akankah enjoy juga kalo harus beneran melakukan adegan kekerasan? Misalnya korbannya adalah orang yang kita benci abis...
Saya hanya enjoy kalau bertanding... semakin tangguh lawannya semakin asyik. Tapi di luar pertandingan kayaknya tidak. Dulu pernah menjatuhkan seseorang yang menyerang saya, tapi sebelum saya hajar dia lebih lanjut, otomatis gerakan saya berhenti...
- Kondisi apa yang dibayangkan bisa membuat kita melakukan kekerasan dan sampai sejauh apa kekerasan itu akan dilakukan (antara cubitan sayang sampai mutilasi abis)?
Kadang membayangkan bisa sampai membelah-belah tubuh orang dan mengeluarkan isinya... apalagi saya memang suka berlatih senjata tajam. Tapi ketika acara potong kambing di acara Ied, jadinya malah kasihan...
"Mille millions de mille milliards de mille sabords!"
Oh iya, belum jawab
- Seringkah melihat adegan kekerasan, entah itu nyata ato film?
Belakangan ini sering tapi hanya di film. Waktu masih kecil pernah shock lihat orang berantem, sampai berdarah-darah, I could smell blood in the air. Sekarang kalau mencium bau darah langsung pusing.
- Apakah kalian menikmatinya? Apa yang dirasakan waktu nonton adegan itu (kalau ini kayaknya film deh, tapi kalo ada dari kejadian nyata juga bole)?
Hanya menikmati yang di film-film. Exciting!
- Adakah batasannya? Misalnya, adegan brantem gaya kungfu hustle boleh, tapi gore abis bikin mual... ato the nastier the better?
Ndak ada. Adegan berantem gaya Kill Bill atau sampai biji mata loncat gaya The Man with the Iron Fist juga ndak apa-apa.
- Akankah enjoy juga kalo harus beneran melakukan adegan kekerasan? Misalnya korbannya adalah orang yang kita benci abis...
Enjoy kalau lawan juga bermain dengan sportif. Tapi kalau dia nafsu ingin menang sampai nyakar segala, mendingan mbok ngalah.
- Kondisi apa yang dibayangkan bisa membuat kita melakukan kekerasan dan sampai sejauh apa kekerasan itu akan dilakukan (antara cubitan sayang sampai mutilasi abis)?
Kalau marah dan hanya sebatas nonjok. I've hurt somebody in the past and I'm not going to let it happen again.
Wuih.. anak km sangar2..
Yg gw ga bisa liat itu orang ud ga bisa ngelawan masih dipukulin jg. Pengen rasanya mukulin yg mukulin itu.
-lihat adegan kekerasan yaa di film, klo di dunia nyata di itung pake jari di satu tangan aja gak genep.
-yg menikmati cuma di film, klo di dunia nyata antara biarin ajaa deh(contoh kasus yg digebuki maling) atau kasiiiaannn(yg di kampleng-i maling sandal yg kira" masih SMP)
-adegan di film yg dinikmati : badges of fury, semua di film action kecuali "SAW" & kekerasan di film horror yg sejenis, bikin ilfil+mual
-beneran melakukan adegan kekerasan?
Terakhir nonjok teman di pipi pas SMA. setelah itu tdk pernah lagi.
-terakhir membayangkan hendak melakukan kekerasan ke atasn q di kantor. abis beliau bener" ajaib sih.
Tapi gak sampai kejadian, paling mentok pas q bener" udah marah q cuma berkata dg suara keras "orang ini apa musti dijejeg mukanya dulu baru bisa berkelakuan yg baik"
q berkata seperti di atas saat beliau ada di ruangan, sedang duduk di kursinya.
q berkata keras begitu sbg efek karena temen q nanya kenapa q nendang kursi di ruang rapat. Yaa q jawab "lebih baik nendang kursi toh, daripada nendang muka orang .... .dst"
Tapi fyi q skrg masih sekantor dg beliau & kurasa antara aku & beliau telah saling memahami & no hard feeling.
Yes kurasa keajaiban itu memang ada![]()