-
Ketika melihat kakak semakin lemah, bernafas dengan terputus-putus, pingsan ketika menahan sakit, menangis ketika istrinya jatuh sakit, ketika anak laki-lakinya ndak mau main bola karena ndak ada lagi yang menemani, ketika nilai-nilai rapor anak perempuannya merosot karena ndak semangat belajar lagi, rasanya kesedihan mbok ndak ada apa-apanya.
We are very close, he's like my twin brother. It is heartbreaking melihat kakak yang ketika sakitpun ndak mau menyusahkan keluarganya, ndak mau menggunakan tabungannya karena ndak mau anak dan istrinya nanti hidup susah if something happens to him.
Bagaimana mbok bisa egois kalau dalam sakitpun kakak lebih mementingkan yang sehat.
Posting Permissions
- You may not post new threads
- You may not post replies
- You may not post attachments
- You may not edit your posts
-
Forum Rules