Results 1 to 5 of 5

Thread: Sindrom ACA

  1. #1

    Sindrom ACA

    Sindrom ACA atau APS atau sindrom Hughes adalah penyakit autoimun yang menyebabkan darah menjadi kental. Itulah mengapa, penyakit ini disebut juga sindrom darah kental. Memang, jelas Karmel, tubuh memiliki kemampuan alamiah untuk mencegah terjadinya pembekuan yang tidak wajar. "Tetapi pada sindrom ini terdapat suatu protein darah (antibodi) yang mengakibatkan darah lebih kental dan mudah membeku."





    Penyakit ini mengakibatkan pasokan darah ke organ di dalam tubuh dapat berkurang atau terhenti sama sekali, tergantung tingkat gangguannya. Seperti halnya mesin mobil, bila pelumas di dalam mesin terlalu kental, pasti mekanisme kerja mesin tidak bisa berjalan sempurna, tersendat-sendat hingga macet. "Jika darah yang mengalir dalam tubuh melewati pembulu darah terlalu kental, pasti semua sistem kerja tubuh tak bisa berjalan sempurna, jadi tersendat-sendat hingga macet. Efeknya, penurunan daya ingat dan yang terekstrem adalah stroke hingga kematian."





    Di Indonesia, penyakit yang ditemukan pada awal 1980-an oleh Dr. Graham Hughes dkk. ini, baru ditemukan dan mendapatkan penanganan serius sejak Oktober 1997. Dalam arti, setiap pasien yang darahnya dicurigai mengandung antibodi antiphospholipid dianjurkan menjalani tes ACA. Lewat pemeriksaan ACA, akan diketahui kadar IgG dan IgM penderita. "Parameter laboratorium inilah yang bisa dijadikan pegangan untuk memastikan terkena ACA tidaknya seseorang, karena APS tak memperlihatkan gejala spesifik," jelas Karmel. Sayangnya, tes ini baru bisa dilakukan di kota besar dan rumah sakit tertentu, mengingat biayanya lumayan mahal, sekitar Rp300 ribu untuk tiap pemeriksaan.





    Apa penyebab ACA, hingga kini belum diketahui secara pasti. Tetapi ada beberapa dugaan, di antaranya faktor keturunan/genetik, alergi obat-obatan, adanya kanker dan infeksi virus atau bakteri. Yang jelas, penyakit ini tergolong misterius, susah dideteksi karena gejalanya dapat berbeda pada tiap orang, bisa terjadi pada siapa saja, kapan saja, dan di mana saja.


    Sumber : bidankita.com
    Last edited by freak_and_geek; 17-01-2014 at 11:54 AM.

  2. #2
    Gejala atau ciri umum dari sindrom ACA berikut ini dapat dialami oleh orang dewasa maupun anak-anak: sering merasa pusing, migrain, sakit kepala, pegal-pegal di leher atau tengkuk, tangan sering kesemutan atau merasa baal, pandangan berkunang-kunang, pandangan kabur, daya ingat menurun, sesak napas, telinga sering mendengung hingga tuli mendadak.





    Gejala lain yang perlu dicermati adalah peningkatan tekanan darah tanpa penyebab pasti. Peningkatan tekanan darah ini diduga akibat pengentalan darah yang membuat aliran darah jadi tak sempurna, lantaran fungsi organ-organ tubuh terganggu. Mereka yang APS-nya tergolong tingkat tinggi, bisa mengalami stroke atau kelainan jantung di usia dewasa muda atau sebelum usia 40 tahun.





    Bagi wanita yang sudah menikah, disamping yang telah disebutkan di atas, gejala lainnya adalah infertiliti primer, sering mengalami keguguran, janin/bayi mati dalam kandungan, bayi yang lahir meninggal, dan preeklamsia.





    Akan tetapi, kata Karmel, gejala-gejala yang disebutkan tadi tak bisa dijadikan pegangan kuat. Pasalnya, bisa jadi si A jarang pusing tapi terkena ACA, sementara si B yang sering mengalami pusing malah tak terkena ACA. Karena itulah, ciri-ciri atau gejala yang dicurigai harus lebih dari satu. Contoh, sering pusing dibarengi sering pegal, dan tangan kerap kesemutan. "Kalau wanita yang sudah menikah, disamping sering keguguruan, juga memiliki keluhan lain, semisal pusing, baal, dan pegal-pegal." Tetapi untuk kepastiannya, pasien tetap harus diperiksa darahnya di laboratorium untuk menjalani tes ACA.





    GEJALA & PENANGANAN PADA ANAK





    Selain mengalami gejala umum seperti halnya yang terjadi pada orang dewasa, "ada juga gejala khas yang ditemukan pada balita dan anak," ujar Karmel. Yaitu, pegal-pegal, lebih mudah capek, berat badan susah naik, konsentrasi kurang, sering sakit, suka mengalami kejang-kejang, dan menderita epilepsi.





    Sekalipun begitu, penanganan sindrom ACA pada anak dan dewasa sama saja, harus mengonsumsi obat pengencer darah. "Kalau sudah berat harus menjalani terapi obat dengan cara suntik."





    Adapun lamanya menjalani terapi, sama seperti dewasa, tak bisa dipukul rata dan dipastikan. "Bisa tahunan atau selama hidupnya." Hal ini bergantung pada pemeriksaan darah di laboratorium setiap enam bulan atau satu tahun sekali.

  3. #3
    Barista lily's Avatar
    Join Date
    May 2012
    Location
    a place called home
    Posts
    12,753
    Nah kayanya ini yang saya alami , waktu saya sakit stroke di usia 25.

    Tiap hari saya dipasang infus dan disuntik cairan obat pengencer darah lewat suntikan yang buat masukin cairan infus.

    Abis gitu... Ngilu setengah mampus di seluruh tubuh saya.

    Dan berdasarkan informasi dari dokter...

    Ini juga yang menyebabkan baby saya kecil dan meninggal setelah berjuang beberapa bulan lalu

    Sekarang saya lagi berusaha mengatasi ACA ini tanpa obat.
    - I'm such a very lucky woman and have a very lucky life -

  4. #4
    coba-coba
    Join Date
    Jan 2014
    Posts
    45
    Untung lily dah sembuh yah..semoga sehat trus yah lily..

  5. #5
    Barista lily's Avatar
    Join Date
    May 2012
    Location
    a place called home
    Posts
    12,753
    Amen

    Thanks maimen.
    - I'm such a very lucky woman and have a very lucky life -

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •