Nah, ternyata teman-teman yang lain malah paham apa yang saya maksud...
Kalau ada gerakan ogah-ogahan massal seperti itu, maka ada masalah yang lebih dalam dan mengakar di baliknya. Memecat para ogahers atau memberi SP pada para atasan cuma akan membuat masalah lebih buruk, karena pesan yang disampaikan kepada mereka "ini perusahaan owe yang punya!!! Lu orang ikut apa owe mau...". Itu bukan manajemen, buat saya itu namanya tirani.
Coba perhatikan apakah ada harapan karir di kalangan bawah? Kalau mereka percaya mereka punya harapan berkarir ke depannya, maka mereka pasti bisa menahan sekedar tidak dapat bonus... anggaplah kesempatan belajar. Nyatanya mereka tidak puas? Apa artinya? Apakah selama ini para manajer hidup di negeri dongeng, berpikir positif dan bermimpi indah, dapat bonus dan rumah, tapi hal yang sama tidak dipercayai oleh para lini bawah?
Satu orang menjadi direksi dengan berangkat dari foreman, bagus. Setelah berapa tahun? Limabelas. Dari berapa karyawan? Tujuh ratus.
... apakah ini menjanjikan untuk para lini bawah? Atau mereka melihat bahwa mereka akan seumur hidup bekerja di tataran itu?
Ada supervisor dapat bonus tapi tidak tahu dapatnya kenapa? Jangan salahkan kalau akan ada orang yang merasa dicurangi, ditekan, atau dieksploitasi. Itu sangat manusiawi... selama masih memimpin manusia, hal seperti itu akan selalu ada. Jangan merasa bahwa dengan manajemen sudah berpikir positif dan mengindoktrinasi karyawan dengan pikiran-pikiran positif maka emosi macam itu tidak boleh ada. Manajemen adalah pihak yang berurusan dengan realita, bukan mimpi.
Jadi dari awal saya sudah merasa pertanyaannya salah. Bukan penjelasan yang dibutuhkan, tapi perubahan disain pekerjaan. Apalagi katanya ini masalah klasik... setiap tahun kejadian terus? Masak masih nggak berasa juga kalau ada hal yang lebih mendasar yang harus dilakukan?
btw,
- hanya 10 ogahers dari 700 orang? So much fuss for a prick of sweat?
- Turn-over 4 dari angka 10? C'mon, masak perusahaan nggak punya statistik? Apa aja kerja HRD? Atau memang menerapkan management by perception?
Saya sependapat dengan eve, tapi bahasanya beda 'dikit'...
Gak bisa lagi, Mbel...
Tunjangan diberikan untuk kompensasi atas suatu hardship, diberikan secara tetap selama seseorang menjabat sesuatu yang memberi dia tingkat kesulitan tertentu ... bonus adalah urusan prestasi diberikan setelah seseorang mencapai kinerja tertentu. Bonus sifatnya tidak rutin, baik jumlahnya maupun konsistensinya...
"Mille millions de mille milliards de mille sabords!"
Lagipula kalau kejadian terus menerus tiap tahun, pasti ada yang gak beres dengan manajemennya. Sama seperti tempat yang hampir menjadi tempat kerja saya dulu, saya diam2 memperhatikan berapa turn over karyawan yang ada. Rata-rata yg kerja di sana diperlakukan dengan tidak semestinya. Jadi gak heran bawahan langsung pada kabur. Kalau mau jujur, gak mungkin perusahaan gak punya dana buat ngasih bonus kan. Semua ada perhitungannya pasti.
Jadi berbelas kasihanlah sama bawahan kalian, karna tanpa mereka.. perusahaan anda juga gak bisa berjalan lancar.
ikut nyimak aja, ane kerja freelance soalnya![]()
nyimaka aja deh, gw cuma karyawan biase![]()