Quote Originally Posted by BundaNa View Post
Sebenernya kalau saya lebih ke omongan si sitok ini yang anti poligami, tapi eh tapi melakukan perselingkuhan/pemerkosaan/pelecehan seksual/penistaan perempuan
Saya jujur aja, sekarang gak berani komentar.
Soalnya saya sendiri tipe mudah tergoda..
Takut ntar kena.

Quote Originally Posted by BundaNa View Post
sitok, gak tau cakepnya dari mana dan kharisma apa, sepertinya sadar betul bisa memanfaatkan apa yang dia punya untuk melakukan tindakan hina itu. Mungkin dia punya nama besar di repubik ini, tapi masak polisi sampe ga berani memproses? kenapa takut dibilang tidak demokratis kah? atau takut dibilang mengkriminalisasi seorang sastrawan liberal?
Itu pernyataan dari pengacaranya, Iwan Pangka.
http://kabar3.com/blog/2013/12/iwan-...ta-semua-kalah

" Dari pertama kami sepakat memang mau melaporkan kasus ini ke kepolisian. Asal tahu saja, laporan pertama kami ditolak di Polres Jakarta Selatan. Sangat menyakitkan (suaranya meninggi). Lazimnya orang melapor di SPK. Itu tidak ditanya deskripsinya apa, cuma ditanya pelakunya sopo (siapa). Pelakunya Sitok Srengenge, langsung tidak ada register, kosong. Langsung dibawa ke PPA ditanyakan lagi, siapa pelakunya, kami bilang, Sitok Srengenge, langsung di-drop."

" Oooo tidak bisa, ini sudah sama-sama dewasa (Iwan menirukan gaya polisi). Ada perempuan di sana kayaknya Kanit-nya, menanyakan klien saya seperti nanya maling, tambah ketakutan anak ini. Perempuan ini bilang, kamu harus mengetuk hatinya Sitok supaya mau mengawini kamu. Mengetuk hati Sitok, mengetuk hati Sitok. Bayangkan! Saya bilang, pulang, karena saya tahu bukan ini maksud dari pelaporan (Iwan mengatakan dengan nada tinggi)."

"Ya, saya sudah mendampingi.
Dengan empat orang teman korban. Saya sempat tidak boleh ikut bicara. Saya berdebat, saya katakan saya pengacaranya. Saya bilang, anda penyidik atau siapa sih, saya pelapor lho, bukan maling, bukan terlapor."

" Kami membuat surat ke Komnas Perempuan, diterima bukan oleh komisioner tapi bagian pemantauan. Saya tidak ketemu komisioner nya dan disarankan untuk membawa korban ke psikolog di Yayasan Pulih, setelah itu baru ke Polda Metro Jaya."


Tapi bahkan saya sendiri berapa kali ketemu baca komentar para polisi di berita tentang pelecehan seksual di mana mereka tidak peka. Salah satunya kasus 'Briptu Rani' di mana salah seorang polisi pernah bilang bahwa 'atasannya berbuat tidak pantas tetapi belum bisa disebut pelecehan seksual'.


Quote Originally Posted by BundaNa View Post
Masalah pemerkosaan dengan cara halus memang akhirnya jadi pro kontra, kemarin tante gwe nguping pembicaraan 2 cewek anggota komunitas utan kayu yang menyalahkan si RW, yang dianggap mereka ga bisa jaga diri dan cari sensasi (bukankah begitu kata sitok sebelum semua lawan menyerang dia?), menandakan bahwa banyak dari perempuan sendiri tidak punya empati kepada korban2 perkosaan model halus begini.


Itu urusan anak, gimana dengan nama RW yanag sudah terlanjur diumbar si [MENTION=63]ishaputra[/MENTION] dan kawan2nya yang pro sitok? Berarti mental si RW harus jatuh lagi dan bangkit lagi gara2 orang2 ga sensi masalah perempuan kayak Isha?


Katanya pejuang HAM, kog memberangus korban pemerkosaan, amit2

Itu sebabnya saya langsung 'Hide'. Sedang mikir-mikir apa mendingan saya hapus saja postingannya Isha dan diganti dengan deskripsi mengenai postingan dihapus seadanya? Karena kalau topik ini dihapus juga sayang, ini buat peringatan untuk yang tidak sensitif terhadap kasus pemerkosaan.'

Ngomong2, BundaNa, memangnya BundaNa nguping percakapan utan kayu di mana? Di kota tempat BundaNa memangnya ada komunitas utankayu?

---------- Post Merged at 01:43 PM ----------

Quote Originally Posted by etca View Post
karena kejadian ini jadi ada perubahan sistem

Ini tugas RW saat jadi LO Sitok Srengenge di festival budaya UI

Merdeka.com - Liaison Officer (LO) adalah jabatan yang yang diemban RW (22) sewaktu bertemu dengan Sitok Srengenge, sastrawan yang kemudian menghamilinya. Hubungan keduanya diketahui kian dekat saat RW menjadi LO dan Sitok menjadi juri dalam festival budaya Universitas Indonesia (UI) Desember tahun lalu.

Apa sebenarnya tugas RW saat dirinya menjadi LO? "Kita semacem yang ngebantuin kerja bantu-bantuin, ada permintaan kita yang urus," kata Nabila Dinda LO, Petang Kreatif 2013 untuk juri Rita Matumona kepada merdeka.com, Jakarta, sabtu (7/12).

Selain itu, terkadang LO pun datang ke rumah si juri untuk mengurus M0U, jadwal dan sebagainya.

"PJ penjurian bisa menyuruh LO-nya ke rumah juri untuk keperluan bisa sampai tiga kali janjian dengan juri di rumah atau di teaternya. Tapi untuk tahun ini saya yang turun sendiri. LO kerja di hari H," tambah Reza selaku PJ penjurian.

Oleh karena itu, LO kali ini hanya bertemu juri di hari H. Tentunya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

"Kalaupun mau LO mau ketemu juri semua ada briefing dari saya," pungkas lelaki yang menunjuk para LO ini.

Menyusul kejadian Sitok dan RW, panitia Petang Kreatif telah mengubah sistem kerja. Juri harus dipilih yang benar-benar punya nama yang baik. LO pun dipilih sesuai dengan jenis kelamin sang juri.

saus
Nah, itu dia,
berarti kekuasaan Sitok sebenarnya cukup gede.
Di posisi si mahasiswi, pasti ada perasaan tidak nyaman untuk menolak sementara dia punya tugas sebagai Liason Officer.

---------- Post Merged at 01:44 PM ----------

Quote Originally Posted by ishaputra View Post
Kok pada nuduh saya bela SS ya? Lah wong di twitter saya tukang bully SS.

Topik di atas cuma modal penasaran siapa sebenernya RW itu, soalnya wajahnya gak pernah muncul.
Saya gak nuding.
Tapi postingan membuka identitas RW itu menunjukkan ketidaksensitifanmu terhadap kasus pemerkosaan.

Bahwa Sitok menanggapi itu sudah membuktikan RW adalah sosok nyata, bukan fiktif. Itu sudah cukup.