Page 1 of 2 12 LastLast
Results 1 to 20 of 32

Thread: Boys and Their Toys

  1. #1
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544

    Boys and Their Toys

    Tentang laki-laki.
    Ini saya dapatkan dari apa yang saya temui, mulai di rumah, ada ayahku, ada adik laki-laki, suami, lalu sekarang ditambah teman2 di kampus, teman-teman di kantor dst.
    Kesimpulannya satu, cara pandang mereka benar2 seperti anak kecil, dan yang bisa dilakukan oleh kaum perempuan adalah menerimanya serta memanipulasinya dengan tepat (manipulasi, kesannya negatif banget ya? hihihi).

    Mereka memandang sesuatu yang menarik bagi mereka adalah permainan, toys. Apa saja permainan mereka? hobi, pekerjaan, teman-teman, bahkan pasangan dan anak bagi mereka adalah permainan. Saya tidak sedang berpikiran negatif tentang laki2 atau sedang membuat laki2 menjadi lebih rendah posisinya dari perempuan. Sama sekali tidak. Saya hanya berusaha memahami laki-laki sehingga saya tidak sampai kebingungan, atau paling parah sakit hati.
    Umur sangat tidak berpengaruh, NO, they are still boys with their toys.
    So what must we do about that? change them? if you want to get depressed, just try it.

    Dari apa yang saya jalani, hal yang perlu diajarkan pada laki-laki adalah bahwa permainan-permainan itu memiliki konsekuensi. Dalam kenikmatan besar, ada tanggung jawab yang besar pula
    Pada pekerjaan jelas, mereka ada aturan dan mereka ada tanggung jawab terhadapnya.
    Dalam hobinya, mungkin mereka perlu pula mengelola waktunya, punya hobi menanam? hobi merakit kertas? bahkan hobi main puzzle ada konsekuensinya.
    Begitu pula ketika mereka punya pasangan dan anak2. Permainan satu ini memang tidak mudah dikelola, tapi apa yang didapatkan juga ga kalah mendebarkan dan mengasikkan (kalau dikelola dengan benar).
    Tinggal mengarahkannya pada jenis-jenis permainan yang tetap mengasikkan baginya, tapi aman dan menguntungkan bagi kita perempuannya

    Bisa jadi renungan ini salah, waktu saya mengobservasi bisa jadi masih kurang untuk dapat memahami laki-laki.
    coleh dulu sepuh2 [MENTION=249]Alip[/MENTION] [MENTION=912]234[/MENTION] [MENTION=239]ancuur[/MENTION]

    ~ditulis sambil menunggu ayah yang janji ngajak makan ke luar nanti setelah puas sama permainannya, menekuni bisnis baru
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  2. #2
    dokter RSJ - KM ancuur's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Location
    RSJ - KM Jabatan:____ Dokter Jiwa
    Posts
    15,694
    gak semua sih... cha_n pass ketemu yg satu karakter kali
    waktu bujangan aku lebih condong ke game.. tapi game yg ada tantangannya,
    dari mulai pekerjaan s/d wanita dari pada permainan aku lebih condong ke game..
    tapi seiring dgn semakin bertambahnya umur aku sudah banyak berubah dibanding
    dgn masa2 lalu walau kadang suka iseng/jail jga

  3. #3
    ★★★★★ itsreza's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    10,216
    gelar tikar

    *menyimak sambil makan kacang*

  4. #4
    pelanggan setia mbok jamu's Avatar
    Join Date
    Oct 2012
    Posts
    3,417
    Geser dikit, Ja.

    *ikut menyimak sambil tingwe*

  5. #5
    pelanggan setia Alethia's Avatar
    Join Date
    Jan 2012
    Posts
    4,059
    women are one of their fave toys....?
    Jangan kamu bilang dirimu kaya, bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
    -Rendra

  6. #6
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,635
    Haduh.... saya disegolongkan dengan KangMas 234 dan PakDhe Ancuur...


    ya baiklah... mari kita dengarkan yang ini dulu...



    ***

    Istilah "boys will be boys" adalah idiom yang laku di Amerika sana, dengan menganggap bahwa cowok berapapun umurnya bakal sama saja reseh, berantakan, dan kurangajarnya... yang dilanjutkan dengan boys and their toys...

    Well... actually saya punya istilah tandingan, girls are born mothers... buktinya anak cewek saya yang umur 4 tahun sudah sibuk nyuruh kakaknya beresin mainan, bahkan nyuruh saya cepet mandi...

    Apakah cowok memang boys... yah, kalau saya sendiri terus terang iyah
    Segala sesuatu adalah permainan, makin asyik, makin kepingin. Misalnya, saya hobi main civilization-nya Sid Meier, yang ternyata perasaan sama saya alami dengan kerjaan di kantor. Kalau diturutin sih bisa-bisa saya gak pulang ke rumah

    Mainan,
    Mainan saya sangat terbatas. Sudah bolak-balik melirik-lirik mobil, motor, gadget, komputer, atau apapun yang konon mainan cowok, tapi saya tidak tertarik. Untungnya saya adalah yang paling pelit di keluarga. Masih inget pertanyaan saya soal sabak di utasan sebelah? Saya nabung dikit-dikit buat beli benda itu... eh, sekarang setelah tabungannya sudah dua kali lipat dari harga sabak yang paling mahal, malah akhirnya saya ngerasa gak perlu. Jadi deh nambah satu lagi rekening tabungan di bank.

    .... karena mainan saya yang paling utama dan mengasyikkan adalah: rekening tabungan.

    Makanya saya betah banget sama game semacam civilization, colonization, monopoly, empire builder, transport tycoon, imperialism, dan sejenisnya.

    Apakah perlu dikontrol cewek?
    Tergantung orangnya kali ya... buat mereka yang dari kecil sudah dididik jadi cowok bertanggung jawab (misalnya anak yatim), biasanya tidak perlu kontrol apa-apa lagi. Tapi tipe cowok bengal semau sendiri kayak saya, ya perlu juga...

    • saya mati-matian menunda nikah, soalnya sayang tabungan... akhirnya mengalah ke desakan pacar, calon mertua, dan orang tua
    • saya juga mati-matian menolak beli mobil... cukup motor atau bis kota... soalnya sayang tabungan... akhirnya mengalah ancaman istri... (itupun jenis mobil dan warnanya ditentukan istri)
    • saya ngotot nolak beli rumah... lagi-lagi sayang tabungan... tapi lagi-lagi juga istri punya kuasa (lokasi, tipe dan harganya juga ditentukan istri)

    Sekarang setelah mengalami hidup dengan rumah, mobil, dan istri yang mencereweti... ternyata hidup mapan itu enak juga. Lebih tenang di hati.

    Jadi memang petuah dan kecerewetan istri itu -sampai batas tertentu- layak diikuti...
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  7. #7
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    Quote Originally Posted by Alethia View Post
    women are one of their fave toys....?
    indeed
    tapi ya tergantung ceweknya juga sih.

    *
    suatu kali saya ngobrol sama teman saya yang bahas PS3, what a life! seharian main ps3 mentang2 lagi break kerjaan.
    trus dia tanya "lho, emang cewek ga bisa menyenangkan dirinya sendiri?"

    jadi mikir lagi, konsep kebahagian cewek dan cowok itu ternyata beda ya. main ps3 seharian bisa bikin cowo hepi banget, ngumpul ama teman2nya, ada lagi yang hobinya tanam cabe, cabe langka segala macem dia koleksi (aku ikutan grup pecinta cabe, dan mayoritas cowok, dan mereka tergila2 banget, kayaknya obsesi banget ama cabe) bahkan beli biji2 cabe langka yang sangat mahal (ada yang 5 seed 30rb atau bahkan lebih mahal)
    entahlah, aku suka menanam cabe, tapi ga sampe seobsesi gitu juga sih. Atau itu aku aja ya yang belum benar2 menemukan hal yang sangat aku cintai?
    adikku udah punya anak satu, mainan hotwheels, punya track2an macem2 (masa kecil dia perasaan udah main mulu deh, ga pernah di rumah. masih aja ya kurang bahagia?)
    papaku juga punya hobi, suami beli majalah2 aneh mulu yang ga bakal aku pahami (tentang pesawat, sejarah, senjata, taktik perang, buat apaan cobak )
    ahhhh lagi coba memahami dan menikmati perbedaan ini.

    Pesan orang tuaku, selama positif jangan terlalu dibatasi, memang akan mengurangi jatah waktu kebersamaan dengan kita pasangannya, tapi tiap laki2 butuh mainannya untuk bisa lengkap jadi manusia
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  8. #8
    pelanggan setia serendipity's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Location
    Jakarta
    Posts
    4,769
    Keponakan gw yang cewek-cewek pada tergila-gila main PS 3 gw ampe bingung ini cewek beneran apa enggak sih
    Nyatanya itu didapatkan dari hasil kekerabatan dengan sodara laki2nya. Mungkin ini yang dinamakan tergantung lingkungan.

    Kalo bokap gw dulu hoby koleksi buku kungfu yg jadul2 itu, terus koleksi DVD sama CD beatless, Freddy Mercury, Bonny M, Elvis... dll. Awalnya gw iseng nyeletuk, papa hobynya mehong juga koleksi itu.. Fyi dia gak mau beli yg bajakan
    eh nyokap gw bilang, 'ya udah gak apa-apa hobynya itu... asal positif..'

  9. #9
    pelanggan setia Porcelain Doll's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    6,347
    hubby hobi ngegame, ngikutin bola sama baca2 majalah militer gitu
    dibiarin ajalah selama ga ngeganggu hal yg lainnya
    kalo udah ada yg terganggu....baru saatnya g ngomel2 ngingetin, kalo perlu ngancam karena dia lupa kewajibannya yg lain

    well...g juga punya hobi sih...
    jadi sedikit banyak tau gimana menikmati hobi itu memang bisa menghabiskan waktu dan membuat lupa diri
    Popo Nest

  10. #10
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,673
    konsep kebahagiaan berbeda gimana?
    urusan hobi dan toys gini ngga harus hanya cowo deh
    soalnya saya termasuk yang banyak hoby dan toysnya juga
    saat tua nanti ga usah kuatir kekurangan hobi untuk dikerjakan deh, dan untungnya rata2 hobinya yang bisa dilakukan secara soliter dan ga mahal2
    and honestly, saya merasa setiap manusia seharusnya mempunyai kegiatan yang suka dilakukannya

    Quote Originally Posted by Alip View Post
    Mainan,
    Mainan saya sangat terbatas. Sudah bolak-balik melirik-lirik mobil, motor, gadget, komputer, atau apapun yang konon mainan cowok, tapi saya tidak tertarik. Untungnya saya adalah yang paling pelit di keluarga. Masih inget pertanyaan saya soal sabak di utasan sebelah? Saya nabung dikit-dikit buat beli benda itu... eh, sekarang setelah tabungannya sudah dua kali lipat dari harga sabak yang paling mahal, malah akhirnya saya ngerasa gak perlu. Jadi deh nambah satu lagi rekening tabungan di bank.

    .... karena mainan saya yang paling utama dan mengasyikkan adalah: rekening tabungan.
    saya ada sedikit kecenderuan seperti ini nih

    kadang mikir mo beli ini, ah, nabung dulu deh. by the time tabungan udah ada, udah ngerasa ga perlu, moodnya uda ilang anggap aja jadi ekstra buat di tabungan. kalo pun ternyata keinginan itu masi ada setelah melewati masa2 'kontemplasi', maka brarti barangnya pantes dibeli karena masa2 depan kemungkinan besar akan terus dimainkan, ibaratnya udah melewati test 'waktu'

    in general, dalam keluarga, saya memang termasuk *penabung* sih walo ga pelit ya
    untung saya maupun hobi saya termasuk yang low maintenance, bukan impulsive shopper, dan bukan jenis suka shopping

    makanya pernah dikomentarin:
    "gampang miara kamu, low maintenance. cukup dikasi makan dan make sure ada asuransi kesehatan"

  11. #11
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    hmmm gimana ya, beda aja ya rasanya.
    saya pernah main game 3 hari ga tidur ya, main jaringan LAN ama anak2 pas kuliah dulu, di rumah masing2 tapi kita pasang LAN.
    tapi aku bosenan sih, abis itu ya udah ga sampe tergila2 amat
    ah bisa jadi itu hanya saya aja ya, masalah hobi itu ga tergantung gender
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  12. #12
    pelanggan setia Porcelain Doll's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    6,347
    g juga bosenan, chan
    tapi ya itu...karena hobinya berganti2...jadi tetep punya hobi
    ada yg long lasting, ada yg baru dan berumur pendek
    Popo Nest

  13. #13
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Ini pointnya apa yak?

    Ttg 'boys n toys'? Kok yg pertama terlintas di kepalaku malah kepikiran ternyata orang bule/barat pun ndak ada bedanya sama orang Jawa yak: suka utak-atik-gatuk. Krn kata2nya mirip terus di-pas2in.

    Atau ini ttg 'memahami laki2 (itu seperti apa)'? Hati2 lho, menurutku salah satu tipikal laki2 itu, kalo dibandingkan cewek lho, adalah bahwa laki2 itu justru (dlm batas2 tertentu) TIDAK suka lho kalo terlalu dipahami. Sebaliknya dgn cewek, cenderung "menuntut" agar laki2 mau/bisa memahami mereka. Akibatnya, laki2 jadi cenderung melihat perempuan itu disatu sisi "caper" sekaligus di sisi lain "kepo".

    ***
    Oke ttg "mainan (toys)".

    Mainan saya dari jaman kecil sampe sekarang itu ganti2 mulu. Dari mainan anak2 kecil kampung/jadul, sepeda mini, sepeda balap, rubik, puzzle, TTS, bilyar, catur, bridge plus segala macam bentuk permainan kartu turunannya, tanaman (bonsai, palem,dll), burung ocehan, pernak-pernik antik (kuno/jadul/loakan), aktifitas outdoor plus pernak-perniknya (camping, naik gunung, dll) sampe MTB, sudoku,...mmm...apalagi yak kayaknya masih banyak lagi deh.

    Tapi saya kok malah ndak bisa menikmati games elektronik yak? Ndak pernah nyentuh yg namanya PS dan games komputer apalagi games online. Dulu waktu kecil tahunya gamewatch trus pas awal kenal PC sempet suka main Digger, PC Man, Load Runner, Gomoku, dan sejenisnya eh sejamannya.

    Intinya sih saya tipe angin2an kalo soal hobi, cuek sak karepe dewe. Cuek juga dgn sekeliling? Ndak juga kok, setidaknya ndak pernah ada omongan dari kiri-kanan kalo saya termasuk orang yg cuek ndak peduli dgn, misalnya, keluarga. Sebaliknya malah. *sambil ngelus jenggot eh dagu*

    Cuek pada diri sendiri? Kalo ini kayaknya bener banget. Saya sempat beberapa kali singgung di posting lain, eksplisit atopun implisit, pendidikan formal saya itu berantakan. Saya ndak tamat kuliah alias DO. Dan sebabnya sangat jelas, ya mainan2 yg ndak jelas yg diatas itu.

    Dan bedanya dgn dimas Alip yg hobi "ngumpulin uang", konsekuensi dr mainan2 saya diatas itu adalah ya "ngabisin duwit".

    Tapi sekarang udah "sadar" kok. Sulungku baru SMA klas 1 dan si bungsu masih SD kelas 2, kayaknya ceritanya masih panjang ndak bisa saya sak karepe terus nurutin hobi. Hobi sih tetep jalan, cuman soal budget udah mulai "berhitung". Penginnya balik lagi main catur sama bridge yg murah meriah cuman sayangnya itu akan cukup menyita waktu mengingat sekarang lagi butuh waktu buat "ngejar setoran" jadinya belum sempat. Plus gowes ding untuk hobi "fisik"nya.

    *saya masih bingung itu nyambung ndak ya dgn konteks dlm tret ini*

    ***
    Ttg (memahami) laki2.

    Quote Originally Posted by Cha_n
    Kesimpulannya satu, cara pandang mereka benar2 seperti anak kecil,...
    Objection! Saya ndak terima kalo itu dikaitkan dgn persoalan hobi dan mainan (boys n toys). Sisi "seperti anak kecil" dari laki2 itu menurut saya bukan disitu.

    Saya kebetulan punya dua anak cewek-cowok yag sebaya bedanya 2thn yaitu anak ke-2 dan ke-3. Mereka sangat "kompak" dlm arti selalu runtang-runtung berdua kalo bermain meskipun sering juga "berantem". Mereka punya "dunia sendiri", saling paham satu sama lain yg ndak diketahui/dipahami oleh "dunia luar" (ortu ato orang dewasa).

    Nah si kakak (ce) itu cenderung "ndak bisa pegang rahasia", suka cerita ke saya (ortu) menceritakan ttg adiknya (co). Dan si cowok terlihat sangat ndak suka itu, protes, terkesan malu bahkan bisa agresif memukul kakaknya kalo apa yg diceritakan oleh kakaknya itu dianggapnya sbg sebuah "aib" (sesuatu yg memalukan) meskipun di mata saya sbg ortu itu sama sekali bukan aib.

    Nah sering muncul pepatah/petuah untuk kaum perempuan yg berbunyi: "Jangan suka mengumbar 'aib' pasangan/suami kepada orang lain".

    Jangankan "aib", lha wong "prestasi" pun kadang laki2 itu ndak suka kok kalo terlalu di-umbar2 oleh pasangannya. Persis seperti kelakuan bungsuku yg baru kelas 2 SD itu.

    Itulah sisi "boys" yg ndak berubah pada laki2. Orang tua pun kelakuannya bisa kayak anak SD. Ndak suka kalo cerita ttg dirinya diumbar ke-mana2, apalagi kalo...di-banding2in. Bisa perang tuh.

    Just my 2 cents.

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  14. #14
    pelanggan setia mbok jamu's Avatar
    Join Date
    Oct 2012
    Posts
    3,417
    *pegel duduk di tikar

    Simbok justru suka lihat boys with their toys. Mungkin karena mbok juga punya toys ya.

  15. #15
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    ah makasih ya yang udah komen2 di sini
    nyambung atau ngga itu bukan intinya, yang penting bisa menambah wawasan

    thread ini hasil renungan akibat kegalauan yang mendalam memahami cara pandang lawan jenis yang cenderung berbeda.
    saya tidak sedang mengeneralisasi, sebaliknya butuh input, siapa tahu saya salah (seperti yang sudah saya katakan juga di awal tulisan)
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  16. #16
    ikut nongkrong sambil beresin 3 kerdus maenan bocah..fiuuhh..*elap iler*
    Good friends, good books, and a sleepy
    conscience: this is the ideal life.
    Mark Twain

  17. #17
    pelanggan setia mbok jamu's Avatar
    Join Date
    Oct 2012
    Posts
    3,417
    Mainan pak mbok: motor gede, mini moto, aircraft models, kayak, peralatan montir, peralatan ahli bangunan, peralatan mancing, peralatan tukang kayu, majalah moge, majalah kapal terbang, majalah sepeda, majalah membuat perahu, baru-baru ini mulai merestorasi kompas dan jam antik dari pesawat tempur tahun 30an. Mbok ndak pernah lihat barang-barang antik itu sebelumnya, tiba-tiba jreng.. ada pameran dirgantara di ruang tamu. Mahal lho, dia bilang. Mbok cuma nyengir, whatever, dude.

    Kalau sudah asik dengan hobinya, bisa seharian dan saban wiken. Then I would feel neglected in my relationship. Jadi mellow, boo hoo. Tapi kalau melihat skill-nya, mcgyver-nya, everything that he fixed and built even just to bring smile to my face, mbok ndak bisa marah.

    Sekarang mbok sudah terbiasa dengan hobinya. Never try to discuss anything when he's busy with his toys coz he will not listen. Kalau dia sedang sibuk, mbok juga cari kesibukan. Kalau mbok ingin waktunya, mbok tanya plan-nya. Kalaupun ada tapi ndak penting banget, I still ask him out, like a date. Biasanya hubby ndak nolak karena mbok juga ndak sering-sering ngajak. I like having my me-time too. Waktu berduaan itu lah mbok ajak dia ngobrol, curhat dan sebagainya coz he will be listening.

  18. #18
    Boys will be boys, and boys with their toys, memang kalau dilihat praktik lapangannya bener sih.

    Misalnya, saya. Sampai umur segini, masih punya banyak hobi dan mainan, yang akhirnya mengamini urusan boys and their toys.

    Contohnya, hobi yang paling lama masih saya tekuni sampai sekarang adalah gitar. Meski gak separah dulu pas era SMP dan SMA, ketika saya masih bermimpi jadi rockstar (sampe sekarang juga sih), dan uang jajan yang ditabung selalu dipake untuk beli segala sesuatu yang terkait dengan gitar. Tuner yang aneh2, capo, senar yang aneh2, amplifier, multieffect, sampe koleksi gitar (mau nyombong nih, punya 8 biji, belum separah gitaris beneran yang sampe puluhan).

    Jaman itu, kesukaan terhadap gitar dikarenakan beberapa hal. Satu, saya buruk dalam olahraga, jadinya berusaha untuk bisa tebar pesona ke wanita melalui musik. Dua, menghasilkan duit dari gitar. Jadi saya anggap pengeluaran untuk hobi ngegitar itu toh pada akhirnya menghasilkan uang juga.

    Pas sekarang, ketika karir bermusik sudah mentok dan hampir habis, hobi ini masih tetap saya jalani. Meski gak segarang dulu lagi. Paling banter beli yang memang kepake untuk perawatan gitar. Walaupun masih nabung untuk beli gitar paling kece buat senjata pamungkas, karena niatnya bener2 ngejadiin ini sebatas hobi, bukan kaya dulu yang memang menjadi ladang penghasilan utama.

    Hobi selanjutnya, tentunya buku. Saya gak tau sih, apakah ini bisa disebut sebagai toys atau bukan. Tapi yang jelas, koleksi buku saya, sangat amat banyak. Sampe ibunda di rumah ngomel-ngomel kalau tiap pulang dari gramedia, pameran buku, atau toko buku apapun, saya selalu bawa beberapa kresek isinya buku. Ibunda sampe pusing ngeliat kamar isinya buku, tapi baju kantor dan baju ke gereja udah bertahun-tahun gak ganti.

    Setelah buku, hobi yang masih saya jalani tentunya cubing, atau yang lebih populer dengan nama generik “Rubik’s Cube”. Koleksi saya sendiri cukup masif, ada sekitar 57 puzzle. Mulai dari yang paling kecil (2x2), sampe ke yang agak besar (7x7). Pengennya ngelengkapin sampe 10x10, tapi kok ya mahal bener.

    Belakangan, setelah kepergian Ayahanda karena kanker. Saya memutuskan untuk menambah hobi baru, OLAHRAGA. Tentunya, seperti hobi2 saya yang lain, saya cukup obsesif dengan hobi ini. Apalagi saya langsung memutuskan untuk menekuni tiga olahraga sekaligus: renang, sepeda, dan lari.

    Berbagai ornamen saya usahakan untuk beli. Jam tangan khusus renang, jam tangan khusus sepeda dan lari, ransel khusus sepeda, bike mount, sepatu sepeda, sepatu lari, dan lainnya. Sekarang, saya sendiri sudah berniat untuk mengikuti triathlon, yang berarti pengeluaran untuk hobi olahraga ini kemungkinan akan semakin membesar.

    Kalau mau dilihat dari pengalaman orang lain, misalnya saja di kantor saya, hampir semua rekan-rekan pria punya hobi yang cukup membuat mereka obsesif. Entah itu otomotif, gadget, olahraga, tahu (believe it or not. Tahu, temennya tempe), dan masih banyak lagi.

    From my point of view, hal-hal seperti ini sebenarnya sehat kok. Dengan catatan, pengeluaran harus dipertimbangkan dengan matang. Jangan gara-gara terlalu obsesif, malah bikin kita ngutang di sana-sini. Lagipula, saya menganggap, daripada menghabiskan uang untuk nongkrong, minum2 gak jelas, mendingan penghasilan yang sedikit saya punya dipakai untuk sesuatu yang berwujud.

  19. #19
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    sampai lupa pernah bikin thread ini. makasih ya komennya.
    makin kesini saya jadi punya pemahaman baru, ternyata punya hobi itu memang bagus, karena berarti seseorang bisa menikmati hidupnya, membuat hidupnya berkualitas dan lengkap. artinya, seseorang bahagia dengan itu, asal bisa mengelola konsekuensinya ya, misal hobi yang menyita waktu dan biaya.

    jadi ingin curhat, belakangan ini saya malah ga bisa menikmati hobi, cabe sudah pada mati, soalnya ga ada yang rawat, dalam seminggu, 4 hari di luar kota
    hobi baca sudah lama nggak sempat juga.
    sangat terasa hampa
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  20. #20
    pelanggan setia Alethia's Avatar
    Join Date
    Jan 2012
    Posts
    4,059
    nah, kalau hobinya minum-mnum gimana? hobi juga kan itu?
    Jangan kamu bilang dirimu kaya, bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
    -Rendra

Page 1 of 2 12 LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •