ini juga keren dokter di indo di selat panjang deket2 batam
operasi caesar tanpa stock darah
SELATPANJANG, GORIAU.COM - Kematian Suprihatina (30) warga Jalan Tanjung Harapan RT 04/ RW 01, Tanjung Mayat Kelurahan Selatpanjang Kota, Kabupaten Kepulauan Meranti Provinsi Riau setelah menjalani operasi caesar di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kepulauan Meranti, Rabu (4/12/2013) menyisakan kekesalan dari pihak keluarga. Mereka menilai dokter terlalu gegabah sehingga menyebabkan ibu empat orang anak tersebut hembuskan nafas terakhir.
Suami Korban Wawan Saputra (34), ketika ditemui wartawan, Senin (9/12/2013) mengaku kesal atas insiden yang membuat empat anaknya menjadi piatu itu. Wawan mengaku ikhlas kepada Allah, tapi tidak dengan pihak RSUD yang terkesan asal-asalan saat melakukan operasi.
"Dari awal saya sudah minta agar penanganan yang terbaik dari mereka. Itu artinya, saya tidak terima dengan cara kerja mereka,'' kata Wawan kepada wartawan.
Diceritakan Wawan, hari itu sekitar pukul 13.00 WIB, Ia bersama istrinya datang ke RSUD Selatpanjang untuk melakukan cek USG, sebab posisi janin yang ada dalam kandungan istrinya melintang.
Wawan juga mengatakan pemeriksaan itu harus dilakukannya karena petugas di Klinik Sundari, tempat istrinya pertama kali di rawat sudah tidak sanggup lagi menanganinya dan terpaksa harus dirujuk ke RSUD Selatpanjang melalui Puskesmas Selatpanjang Kota.
Usai menjalani pengecekan, Wawan mengaku diminta menandatangi surat untuk rawat inap. Melihat kondisi sang istri mulai kesakitan, maka dokter yang menanganinya pun menganjurkan agar istrinya harus dioperasi. Wawan pun setuju walaupun saat itu ia sendiri tidak tahu kalau operasi harus dilakukan hari itu juga.
Ditambahkan Wawan setelah Ia menandatangani surat pernyataan, kemudian dokter atau pihak rumah sakit memintanya agar segera mencarikan matrai 6 ribu, tiga jenis obat dan mencari darah A+ sebanyak dua kantong.
"Tapi saya tidak tahu kalau saat itu istri saya langsung dioperasi. Saya fikir pastilah harus menunggu persediaan darah,'' kata Wawan lagi.
Tidak menunggu lama, Wawan mengaku Ia langsung bergegas untuk mencari apa yang dibutuhkan pihak rumah sakit tersebut. Namun, Ia tetap meminta agar penanganan maksimal dapat dilakukan oleh dokter kepada istrinya.
Upaya Wawan untuk mencari rekan-rekannya yang bersedia mendonorkan darah akhirnya berhasil, sekitar pukul 18.25 WIB Ia kembali ke RSUD untuk mengantarkan rekan-rekannya yang mau mendonorkan darah. Sayangnya, darah orang yang hendak mendonorkan tersebut tidak sesuai dengan darah istrinya.
   Â
Wawan mengaku semakin panik, ketika mendapat kabar kalau istrinya sedang menjalani operasi yang telah dimulai sejak pukul 17.30 WIB. Pria berambut pendek ini tidak menyangka sama sekali kalau pihak dokter begitu nekat melakukan tindakan tersebut tanpa adanya persediaan darah.
Kemarahan Wawan Putra memuncak tatkala dokter mengatakan kepadanya bahwa bayi nya sudah keluar dengan selamat, tapi istrinya dalam keadaan ngedrop akibat kekurangan darah.
Karena darah A+ tidak kunjung didapatkan Wawan, akhirnya salah seorang dari dokter terpaksa mendonorkan darahnya. Wawan pun pergi ke kamar sambil menggendong bayinya. Sekitar pukul 18.45 WIB barulah Ia mendapat kabar bahwa istrinya sudah meninggal dunia.
Mendapat kabar kematian sang Istri, Wawan mengaku panik, dan marah atas kerja dokter seperti itu. Ia menyayangkan mengapa pihak dokter tidak menunggu persediaan darah baru dilakukan operasi.
"Jadi, kalau begitu kerja mereka asal-asalan saja. Itulah yang membuat saya marah dan tidak puas. Kalau darah sudah ada tak masalah, karena ini baru siaga 1,'' ungkap Wawan lagi.
Beralasankan tidak ingin kejadian serupa menimpa masyarakat lainnya, Wawan juga mengungkapkan akan membawa kasus tersebut ke jalur hukum, sebab pihak RSUD dinilai lalai dalam melakukan operasi tanpa persediaan darah dan obat-obatan.
Â
"Masalah darah yang akan saya persoalkan, dan kalau memang terbukti ada mal praktik bisa saja berlanjut. Memang, saya menandatangani surat pernyataan tapi bukan berarti mereka bisa seenaknya. Soalnya sewaktu dicek darah istri saya sangat rendah dan cumah 7 HB dan tak sampai 12 Hb, kok dipaksakan juga operasi sebelum darah datang," tutup Wawan.(***)
ini versi rumah sakitnya
SELATPANJANG, GORIAU.COM - Pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Kepulauan Meranti akhirnya mengklarifikasi atas kematian Suprihatina setelah menjalani operasi caesar di RSUD Meranti, Rabu (4/12/2013) lalu. Pihak rumah sakit memastikan penyebab kematian Suprihatina adalah murni pendarahan dan tidak ada pendonor.
Selasa, (10/12/2013) siang, Drg Viviyanti DPH MHealSc selaku Direktur RSUD Kepulauan Meranti, didampingi Azharul Yusri SPOg yang juga spesialis Kandungan dan Kepala Seksi Pelayanan Medis (Yanmed) dan Kasubbag TU RSUD Kepulauan Meran Provinsi Riau Musmulyadi menggelar jumpa pers atas kematian yang disebut mall praktek oleh pihak keluarga itu.
Viviyanti mengatakan pihak rumah sakit selalu menginginkan agar pasien tetap sembuh. Penanganan yang dilakukan oleh dokter terhadap pasien sudah sesuai prosedur. Ia juga berharap kepada semua ibu yang sedang hamil agar rutin memeriksa kandungan agar tidak terjadi hal-hal yang bisa berakibat fatal.
"Saya menghimbau, tolong kontrol kehamilan dari awal, tidak perlu membayar karena ada jampersal. Jangan sudah kasus seperti itu baru mencari kambing hitam. Kaum laki-laki, bawa istrinya untuk melakukan kontrol," kata Viviyanti.
Sebelum menjawab permasalahan terkait operasi caesar berujung maut itu, Azharul menjelaskan tentang dokter E (Erwin, red) yang menangani Suprihatina.
Menurut Azharul, ketika pasien masuk ke kamar bersalin Ia ditangani oleh dokter kebidanan, yang kebetulan dokter ini dokter penugasan khusus dari Kementerian kesehatan dengan mengantongi SK dari Kemenkes, yang dikirim resmi untuk mengisi seluruh RS yang kriterianya di Daerah Terpencil Perbatasan dan Kepulauan (DTPK), Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK) dan Daerah yang Kurang Diminati.
"Kita (RSUD, red) masuk ke semua kategori itu," kata Azharul memulai penjelasannya.
Azharul juga mengatakan, dokter bedah yang menangani Suprihatina itu merupakan dokter cief residen. Ia sudah tahap akhir, kewenangannya secara legal sah tidak bisa terbantahkan. Karena yang menugaskannya adalah otoritas kesehatan di negeri ini. Ia juga telah mempunyai SIP, kolektif diuruskan oleh RS dan dikeluarkan oleh Diskes.
"Penugasan khusus itu diatur dalam Permenkes 2052 tahun 2011, ada penugasan residen dan dokter intensif," kata Azharul.
Kemudian menjawab dugaan mall praktek dari pihak keluarga korban, menurut Azharul secara teknis medis kata-kata mall praktek itu tidak ada tercantum dalam undang-undang.
Dikatakan Azharul juga, indikasi medisnya, pasien itu datang dengan hamil kelima letak lintang dengan plasenta previa totalis. (Plasentanya menutup jalan lahir total). Dan pada saat masuk itu sudah ada kontraksi 3 x 30 detik dalam 10 menit, jadi operasi tidak bisa dimundurkan.
"Kalau ditunda operasi, begitu dia sebentar lagi terbuka, pecah, darah itu nyemprot dari plasenta karena plasenta menutup jalan lahir," ujar Azharul.
Dikatakan Azharul lagi, harusnya pada jam 14.00 Wib waktu pasien datang, setelah 30 menit ditegakkan diagnose dari USG memang harus dikerjakan, tapi dokternya minta tolong disiapkan 2 kantong darah.
"Sebelum operasi dikonfirmasi lagi, dan dijawab oleh suami pasien bahwa darah yang diminta itu ada. Satu yang sudah positif bisa mendonor darahnya," kata Azharul mulai menjelaskan detik-detik akan dilakukan caesar, lalu dokter izin untuk melakukan operasi.
Tapi celakanya, Azharul mengatakan orang yang seharusnya mendonor darah itu ketika mau diambil darahnya di lab oleh petugas RSUD, tiba-tiba dia membatalkan niatnya mendonor darah setelah melihat jarum untuk mengambil darah itu besar.
"Dia balik badan. Dia tidak mau mendonorkan darahnya, setelah melihat jarumnya besar. Itu setelah operasi," kata Azharul lagi.
Azharul juga menceritakan kronologis sebelum dilakukan operasi caesar. Menurut Azharul, pasien ini masuk jam sekitar jam 14.00 Wib di IGD, saat itulah suami pasien menandatangi surat untuk persiapan operasi dan sudah dijelaskan bahwa butuh darah. Ditambahkannya dari pukul 14.00 Wib sampai pukul 17.30 WIB (dimulainya operasi) itu lama, kalau dilakukan penundaan operasi akan fatal, pecah rahimnya dan pendarahan.
"Darah itu perlu sekali," kata Azharul.
Azharul juga menyayangkan orang yang hendak mendonor sebelumnya, anda saja dia menghilangkan rasa takutnya sudah pasti sangat menolong nyawa (pasien, red).
Namun, ketika disinggung apakah sebelum pasien selama hamil sempat melakukan perawatan/pemeriksaan, Azharul menyatakan pasien ini tidak pernah perawatan/pemeriksaan sebelumnya.
"Dan yang sangat saya sayangkan mestinya kalau pemeriksaan AntenataL Care nya di awal pemeriksaan yang bermutu dan berkualitas, tidak mungkin HB ibuk ini 7.7. Berarti dia tidak makan apa-apa selama hamil. Mestinya pasien ini datang dengan kondisi yang bagus, kalau dia datang dengan HB 12 tidak masalah, operasi pendarahan keluar 500cc paling turun jadi 10, kalau 7 jadi 4," jelas Azharul lagi.
Bukti kuat bahwa pasien tidak pernah melakukan pemeriksaan di puskesmas adalah tidak adanya surat pengantar dari bidan. Pasien hanya ada dari surat pengantar dari puskesmas tapi itu dibuat hanya untuk rujukan jamkesmas saja, jadi disitu dijelaskan pasien tidak dibawa ke puskesmas untuk melakukan pemeriksaan rutin.
Mujur tak bisa diraih, malang tak bisa ditolak, usai operasi bayi Suprihatina selamat namun kondisi Suprihatina ngedrop/syok akibat pendarahan, sementara darah A+ yang sedari awal dibutuhkan tak kunjung didapatkan. Akhirnya salah seorang dari dokter terpaksa mendonorkan darahnya.
Dari cerita suami pasien (korban) Wawan, Ia pergi ke kamar sambil menggendong bayinya. Sekitar pukul 18.45 WIB barulah Ia mendapat kabar bahwa istrinya sudah meninggal dunia.
- See more at: http://www.goriau.com/berita/kep-mer....twHOVg1n.dpuf
![]()
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)


Reply With Quote
