Page 2 of 2 FirstFirst 12
Results 21 to 30 of 30

Thread: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (2013)

  1. #21
    juragan kopi noodles maniac's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    Noodle Cafe
    Posts
    15,927
    Artikel nih...

    Dalam Sepekan Raih 500 Ribu Penonton



    VIVAlife - Akhir tahun 2013 seakan menjadi kebangkitan dari film-film Indonesia. Beberapa film Indonesia berkualitas tayang hampir berdekatan satu dengan yang lainnya.

    Dari beberapa film tersebut bahkan berhasil meraih prestasi yang cukup membanggakan, karena meraih ratusan ribu penonton dalam waktu singkat sejak penayangannya. Salah satunya adalah film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

    Film besutan rumah produksi Soraya Intercine Films itu berhasil meraih ratusan ribu penonton selama tujuh hari sejak ditayangkan 19 Desember lalu di bioskop-bioskop Indonesia.

    "Data yang kami dapat, film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck memasuki hari ketujuh meraih 570 ribu penonton," kata Dewi Yulia Razif, PR and Promotion Manager Soraya Intercine Films, Kamis, 26 Desember 2013.

    Film yang dibintangi oleh Herjunot Ali, Pevita Pearce, dan Reza Rahadian itu pun bersaing dengan film lainnya seperti Soekarno dan 99 Cahaya di Langit Eropa. Hingga saat ini, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck masih tayang di 150 layar bioskop seluruh Indonesia.

    Sementara itu, menurut data dari filmindonesia.or.id, Senin lalu, 99 Cahaya di Langit Eropa saat ini sudah menyedot 800.299 penonton. Peringkat pertama masih diduduki film Raditya Dika, Cinta Brontosaurus, dengan 892.915 penonton. Selanjutnya, Coboy Junior The Movie dengan 683.604 penonton, dilanjutkan Soekarno: Indonesia Merdeka dengan 532.179 penonton.

    Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck diadaptasi dari novel laris karya HAMKA bergenre drama romantis dan berlatar nusantara tahun 1930-an. Mengisahkan perbedaan latar belakang sosial yang menghalangi hubungan cinta sepasang kekasih hingga berakhir dengan maut. Film ini juga ibintangi oleh Randy Nidji, Arzetti Bilbina, Jajang C. Noer, dan Niniek L. Karim. (art)
    Habibie & Ainun bakal pecah gak nih
    Jika menurutmu hidup ini tidak menarik, maka buatlah hidupmu semenarik mungkin - Shinsaku Takasugi

    Impossible is nothing!

  2. #22
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    daripada iseng, siang ini nonton ahhh
    "And this world of armchair bloggers who created a generation of critics instead of leaders, I'm actually doing something. Right here, right now. For the city. For my country. And I'm not doing it alone. You're damn right I'm the hero."

    --Oliver Queen (Smallville)

  3. #23
    juragan kopi noodles maniac's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    Noodle Cafe
    Posts
    15,927
    Udah baca reviewnya [MENTION=41]kandalf[/MENTION]

    Buset! Jadi novel ini ada ide 'terselubung' yang diusung? sampe ini menjadi pertentangan Hamka vs Pram

    Jadi novel ini salah satunya mengkritisi pelaksanaan demokrasi yang terjadi di adat Minangkabau ya? Ada kritisi yang lain kah?
    Jika menurutmu hidup ini tidak menarik, maka buatlah hidupmu semenarik mungkin - Shinsaku Takasugi

    Impossible is nothing!

  4. #24
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    itu sih cuma terjadi di novel...
    anak gw anak pisang, karena ibunya bukan orang
    minang, namun pada kepulangan gw pertama ke
    kampung pasca menikah, prosedur malakok itu su
    dah dilakukan... jadi istri gw sudah bersuku, dan
    anak gw ikut suku ibunya, Chaniago

    kalau membaca tulisan Kandalf, maka Hamka hanya
    meminjam adat minangkabau untuk menyindir demo
    krasi Belanda dan Demokrasi Terpimpin
    "And this world of armchair bloggers who created a generation of critics instead of leaders, I'm actually doing something. Right here, right now. For the city. For my country. And I'm not doing it alone. You're damn right I'm the hero."

    --Oliver Queen (Smallville)

  5. #25
    pelanggan setia kandalf's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,050
    Saya harus baca bukunya.
    Tapi pas nonton filmnya, pas musyawarah itu bagian yang paling bikin kaget.

    Selama ini saya selalu mendengar hal positif tentang budaya musyawarah di Minang.
    Jadi antara Hamka pernah menemukan satu kasus begitu atau nyindir Belanda. Belanda dahulu juga sering merasa budayanya itu tinggi lho. Lebih mulia daripada inlaander. Ketika akhirnya membentuk volksraad pun masih diatur-atur.
    Lomba peluk2an di Citos: 30 November 2013
    Lomba dorong2an di Candra Naya (dkt Glodok): 8 Desember 2013

  6. #26
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    [MENTION=41]kandalf[/MENTION],

    Ada saja yang bikin sel-sel kelabu di kepala saya bereaksi, menarik sekali ulasan Kandalf yang di-hide itu...
    Seperti biasa, ada hal yang mungkin bisa bikin diskusi jadi asyik... jadi saya taruh di sini...

    Satu,
    Pram itu khan tipe pengarang yang justru garang menentang kekuasaan, memang dia sedang mendapat angin dengan kecondongan Sukarno pada sosialisme, tapi saya ragu kalau dia tidak bisa melihat bahwa karya Hamka punya nada sama meski balutan roman-nya jauh lebih kental ... Saya sendiri baru sempat baca empat karya Pram, yaitu Arok-Dedes, Bumi Manusia, Kisah Calon Arang, dan Mangir. Kalau melihat dari novel yang empat itu, saya rasa Pram justru akan setuju pada kritik terselubung yang disajikan oleh Hamka. Jadi kritiknya apa bukan murni kritikan terhadap plagiarisme?

    Satu hal yang menarik, menurut tulisan putra Hamka, Irfan Hamka, tersebutlah Pram pernah mengirim putri-nya, Astuti, dan calon menantu-nya, Daniel Setiawan, ke Hamka dengan tujuan untuk meng-Islam-kan calon menantunya yang keturunan Cina tersebut. Irfan mengutip pernyataan Pram kepada majalah Horison “Masalah paham kami tetap berbeda. Saya ingin putri saya yang muslimah harus bersuami dengan laki-laki seiman. Saya lebih mantap mengirim calon menantu saya belajar agama Islam dan masuk Islam kepada Hamka. Dialah seorang ulama yang terbaik.” Saya rasa ini menunjukkan watak Pram yang fair dan blak-blakan tanpa agenda tersembunyi?

    Dua,
    Jujur saya sendiri tidak banyak lagi bersentuhan dengan budaya Ibu saya yang masih satu kampung dengan aBuya, tapi dari penuturan Ibu saya di berbagai kesempatan saya menangkap bahwa betul budaya musyawarah Minang itu seperti yang digambarkan oleh Hamka. Adapun tokoh-tokoh founding fathers kita mendapat sikap demokratis mereka dari pendidikan barat. Meski begitu, Ibu juga tidak menutup kemungkinan bahwa mungkin saja beberapa nagari tertentu sudah bersentuhan sedemikian dekat dengan pemikiran egaliter barat sehingga pada tahun 30'an sudah mampu bermusyawarah dengan pikiran terbuka.

    Di Nagari tempat asal Ibu saya sendiri pengaruh budaya dan pemikiran barat sangat kental. Di tahun '30-an itu nenek saya sudah mahir berbahasa Belanda, memainkan alat musik barat seperti biola dan piano, menarikan tarian barat, dan membaca buku-buku sastra ataupun filsafat barat (dalam bahasa Belanda dan Jerman). Di sana-pun ada datuk perempuan, yang menurut Ibu saya satu-satunya sejak jaman Bundo Kandung, tapi saya belum bisa memastikan kebenaran hal ini. Jadi bisa saja memang ada demokrasi terbuka diantara adat-adat Minang lama (yang mungkin Moh. Hatta berasal dari situ), tapi mereka adalah perkecualian.

    Nevertheless, good review...
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  7. #27
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,958
    super sekali ulasannya [MENTION=41]kandalf[/MENTION].

    aku nggak ingat udah pernah belom baca buku yg ini karna roman jaman dulu rasanya banyak yang endingnya sedih.
    sedangkan buku Pram satu2nya yang pernah kubaca cuma Arok-Dedes, jadi daku tahapnya masih menyerap dan belum bisa banding2in.
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  8. #28
    pelanggan setia kandalf's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,050
    Quote Originally Posted by Alip View Post
    Pram itu khan tipe pengarang yang justru garang menentang kekuasaan, memang dia sedang mendapat angin dengan kecondongan Sukarno pada sosialisme, tapi saya ragu kalau dia tidak bisa melihat bahwa karya Hamka punya nada sama meski balutan roman-nya jauh lebih kental ... Saya sendiri baru sempat baca empat karya Pram, yaitu Arok-Dedes, Bumi Manusia, Kisah Calon Arang, dan Mangir. Kalau melihat dari novel yang empat itu, saya rasa Pram justru akan setuju pada kritik terselubung yang disajikan oleh Hamka. Jadi kritiknya apa bukan murni kritikan terhadap plagiarisme?
    Yang membuat saya penasaran adalah, ini novel tahun 1938, diterbitkan delapan kali, bahkan paling sering tahun 1950-an. Bila benar alasannya murni plagiarisme, kenapa baru tahun 1962 dikeluarkan?

    Saya sendiri belum membaca novel Magdalena: Di Bawah Pohon Tilia yang konon dijiplak tetapi saya sudah membaca beberapa resensi yang telah membacanya dan walau ceritanya sangat mirip, plotnya sangat mirip, selain perubahan lokasi dan nasib akhir tokohnya, tampaknya karakter yang wanita pun berbeda dan detail bagaimana si wanita menolak lamaran si cewek pun berbeda.

    Jadi saya cenderung sepakat dengan HB Jassin bahwa kisahnya adalah saduran.

    Saya kemarin mencoba mencari Magdalena dan buku 'Saya Mendakwa Hamka Plagiat' tetapi belum saya temukan karena jujur saja, saya ingin tahu, seberapa detail metode idea-sketch yang digunakan Pram untuk mengukur plagiarisme.

    Saya pernah membaca Bumi Manusia, Jejak Langkah, Anak Segala Bangsa, Gadis Pantai, Mangir, dan memang tema anti kekuasaan kental. Tetapi yang diperangi Pram adalah kekuasaan feodalisme berdasar status. Yang dikritik Hamka adalah bagaimana 'kekuasaan' itu menyamarkan diri sebagai 'demokrasi'.



    Quote Originally Posted by Alip View Post
    Satu hal yang menarik, menurut tulisan putra Hamka, Irfan Hamka, tersebutlah Pram pernah mengirim putri-nya, Astuti, dan calon menantu-nya, Daniel Setiawan, ke Hamka dengan tujuan untuk meng-Islam-kan calon menantunya yang keturunan Cina tersebut. Irfan mengutip pernyataan Pram kepada majalah Horison “Masalah paham kami tetap berbeda. Saya ingin putri saya yang muslimah harus bersuami dengan laki-laki seiman. Saya lebih mantap mengirim calon menantu saya belajar agama Islam dan masuk Islam kepada Hamka. Dialah seorang ulama yang terbaik.” Saya rasa ini menunjukkan watak Pram yang fair dan blak-blakan tanpa agenda tersembunyi?
    Benar, saya pernah membaca kisah ini dari Irfan Hamka, putra Hamka.
    Tetapi yang saya lihat adalah bahwa Pram sesungguhnya sama sekali tidak membenci Hamka secara pribadi.
    Ada beberapa kasus di mana tokoh-tokoh komunis tahun 50-60an begitu keras menyerang lawan politiknya tetapi di luar politik justru malah bisa akrab dengan lawannya.

    Jadi itu alasan saya menolak tuduhan pro-Hamka bahwa Pram cemburu atau Pram benci pada Hamka karena Hamka ulama. Masalah itu pasti pada karyanya.

    Yang perlu ingat, Hamka tidak menyerang Pram maupun Demokrasi Terpimpin saat menulis ini. Indonesia saja belum merdeka, kok.
    Selain itu, masih ada pesan tentang nasionalisme, anti kedaerahan yang picik, pentingnya pendidikan untuk kemajuan zaman, yang terkandung dalam novel ini.

    Bab mengenai musyawarah itu sendiri hanya satu bab tetapi benar-benar satu bab itu digunakan sepenuhnya untuk adegan musyawarah dan bab itu terletak di tengah.

    Dugaan saya sih begini:

    1. Di tahun 1930-an akhir, Hamka lagi sebal sebagai pemuda di akhir 20-an, mengelola surat kabar, mendengar atau membaca banyak pemuda galau, sementara ia melihat ada hal lain yang lebih penting;

    2. Hamka terkesan ama cerita Majdulin yang pernah ia baca dan ia menjadikannya sebagai kerangka untuk menulis karya ini dan ia selipkan serta ubah lokasi dan bahkan beberapa bagian dari cerita;

    3. pasca penyerahan kedaulatan Indonesia, buku ini mulai diterbitkan lagi dan laris hingga dicetak berkali-kali. Kemungkinan besar, Pram sebenarnya sudah membaca novel ini berkali-kali dan pasti sudah tahu kalau novel ini sangat mirip dengan Magdalena

    4. di tahun 1962, Pramoedya, yang mengasuh salah satu koran yang pro-Lekra, punya misi untuk menyatukan rakyat untuk mendukung sepenuhnya program-program Bung Karno dan mengecilkan suara-suara yang menentang demi kepentingan umum,

    5. di tahun 1963, konflik antara Manikebu dan Lekra mulai. Manikebu sendiri didirikan tahun 1963

    Yang unik adalah keberadaan novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.
    Dia gak bisa dibilang sebagai murni kontra revolusi. Banyak pesannya yang bagus.
    Hamka sendiri bukan seorang 'seniman' murni yang percaya 'seni untuk seni'. Dia seorang ulama, yang bagus.

    Kalau dituduhkan novel TVDW sebagai kontra-revolusi, niscaya malah banyak yang akan membacanya.
    Jadi lebih baik dikerdilkan sajalah novelnya. Dituduhkan label paling hina dalam dunia sastra, 'plagiat'. Bahkan Pram sampai menggunakan nama samarannya ketika menggunakan tuduhan itu.

    Saya melihat tuduhan ini karena kewajiban politik Pram untuk menyatukan rakyat.

    Atau... mungkin Pram hanya kebetulan mengeluarkan kritikan itu di tahun 1963, dan murni hanya tentang plagiarisme.


    Quote Originally Posted by Alip View Post
    Jujur saya sendiri tidak banyak lagi bersentuhan dengan budaya Ibu saya yang masih satu kampung dengan aBuya, tapi dari penuturan Ibu saya di berbagai kesempatan saya menangkap bahwa betul budaya musyawarah Minang itu seperti yang digambarkan oleh Hamka. Adapun tokoh-tokoh founding fathers kita mendapat sikap demokratis mereka dari pendidikan barat. Meski begitu, Ibu juga tidak menutup kemungkinan bahwa mungkin saja beberapa nagari tertentu sudah bersentuhan sedemikian dekat dengan pemikiran egaliter barat sehingga pada tahun 30'an sudah mampu bermusyawarah dengan pikiran terbuka.

    Di Nagari tempat asal Ibu saya sendiri pengaruh budaya dan pemikiran barat sangat kental. Di tahun '30-an itu nenek saya sudah mahir berbahasa Belanda, memainkan alat musik barat seperti biola dan piano, menarikan tarian barat, dan membaca buku-buku sastra ataupun filsafat barat (dalam bahasa Belanda dan Jerman). Di sana-pun ada datuk perempuan, yang menurut Ibu saya satu-satunya sejak jaman Bundo Kandung, tapi saya belum bisa memastikan kebenaran hal ini. Jadi bisa saja memang ada demokrasi terbuka diantara adat-adat Minang lama (yang mungkin Moh. Hatta berasal dari situ), tapi mereka adalah perkecualian.

    Nevertheless, good review...
    Tentang Minang.. kayaknya ini menarik buat diskusi baru.


    Tapi beneran,
    adegan musyawarah itu di filmnya benar-benar membekas di kepala.
    Lomba peluk2an di Citos: 30 November 2013
    Lomba dorong2an di Candra Naya (dkt Glodok): 8 Desember 2013

  9. #29
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,958
    ee....bentar-bentar...
    setelah diingat2 lagi saya sudah pernah baca novel Magdalena ini jaman dolo. Hore....
    #nggakpenting

    Plotnya emang ada kemiripan sih, walaupun karya Hamka cuma tau garis besarnya. Yang jelas isinya Magdalena syahdu banget, padahal cuma baca sekali dan itu udah belasan tahun lalu tapi masih ingat persis endingnya gimana.
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  10. #30
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Quote Originally Posted by kandalf View Post
    Yang membuat saya penasaran adalah, ini novel tahun 1938, diterbitkan delapan kali, bahkan paling sering tahun 1950-an. Bila benar alasannya murni plagiarisme, kenapa baru tahun 1962 dikeluarkan?...

    Atau... mungkin Pram hanya kebetulan mengeluarkan kritikan itu di tahun 1963, dan murni hanya tentang plagiarisme.
    ... keduanya bisa jadi dan kita tidak bisa mengetahui lagi, karena semua tokoh terkait sudah berpulang Secara prinsip argumen kandalf punya dasar yang kuat, meski bisa jadi juga Pram memang hanya membahas masalah plagiarisme tapi kemudian berkembang ke ranah politik dengan sendirinya karena dua kubu yang seolah-oleh "diwakili" oleh kedua belah pihak.

    All in all, begitulah asyiknya menyingkap dan menafsirkan sejarah.
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

Page 2 of 2 FirstFirst 12

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •