Quote Originally Posted by Alip View Post
Pram itu khan tipe pengarang yang justru garang menentang kekuasaan, memang dia sedang mendapat angin dengan kecondongan Sukarno pada sosialisme, tapi saya ragu kalau dia tidak bisa melihat bahwa karya Hamka punya nada sama meski balutan roman-nya jauh lebih kental ... Saya sendiri baru sempat baca empat karya Pram, yaitu Arok-Dedes, Bumi Manusia, Kisah Calon Arang, dan Mangir. Kalau melihat dari novel yang empat itu, saya rasa Pram justru akan setuju pada kritik terselubung yang disajikan oleh Hamka. Jadi kritiknya apa bukan murni kritikan terhadap plagiarisme?
Yang membuat saya penasaran adalah, ini novel tahun 1938, diterbitkan delapan kali, bahkan paling sering tahun 1950-an. Bila benar alasannya murni plagiarisme, kenapa baru tahun 1962 dikeluarkan?

Saya sendiri belum membaca novel Magdalena: Di Bawah Pohon Tilia yang konon dijiplak tetapi saya sudah membaca beberapa resensi yang telah membacanya dan walau ceritanya sangat mirip, plotnya sangat mirip, selain perubahan lokasi dan nasib akhir tokohnya, tampaknya karakter yang wanita pun berbeda dan detail bagaimana si wanita menolak lamaran si cewek pun berbeda.

Jadi saya cenderung sepakat dengan HB Jassin bahwa kisahnya adalah saduran.

Saya kemarin mencoba mencari Magdalena dan buku 'Saya Mendakwa Hamka Plagiat' tetapi belum saya temukan karena jujur saja, saya ingin tahu, seberapa detail metode idea-sketch yang digunakan Pram untuk mengukur plagiarisme.

Saya pernah membaca Bumi Manusia, Jejak Langkah, Anak Segala Bangsa, Gadis Pantai, Mangir, dan memang tema anti kekuasaan kental. Tetapi yang diperangi Pram adalah kekuasaan feodalisme berdasar status. Yang dikritik Hamka adalah bagaimana 'kekuasaan' itu menyamarkan diri sebagai 'demokrasi'.



Quote Originally Posted by Alip View Post
Satu hal yang menarik, menurut tulisan putra Hamka, Irfan Hamka, tersebutlah Pram pernah mengirim putri-nya, Astuti, dan calon menantu-nya, Daniel Setiawan, ke Hamka dengan tujuan untuk meng-Islam-kan calon menantunya yang keturunan Cina tersebut. Irfan mengutip pernyataan Pram kepada majalah Horison “Masalah paham kami tetap berbeda. Saya ingin putri saya yang muslimah harus bersuami dengan laki-laki seiman. Saya lebih mantap mengirim calon menantu saya belajar agama Islam dan masuk Islam kepada Hamka. Dialah seorang ulama yang terbaik.” Saya rasa ini menunjukkan watak Pram yang fair dan blak-blakan tanpa agenda tersembunyi?
Benar, saya pernah membaca kisah ini dari Irfan Hamka, putra Hamka.
Tetapi yang saya lihat adalah bahwa Pram sesungguhnya sama sekali tidak membenci Hamka secara pribadi.
Ada beberapa kasus di mana tokoh-tokoh komunis tahun 50-60an begitu keras menyerang lawan politiknya tetapi di luar politik justru malah bisa akrab dengan lawannya.

Jadi itu alasan saya menolak tuduhan pro-Hamka bahwa Pram cemburu atau Pram benci pada Hamka karena Hamka ulama. Masalah itu pasti pada karyanya.

Yang perlu ingat, Hamka tidak menyerang Pram maupun Demokrasi Terpimpin saat menulis ini. Indonesia saja belum merdeka, kok.
Selain itu, masih ada pesan tentang nasionalisme, anti kedaerahan yang picik, pentingnya pendidikan untuk kemajuan zaman, yang terkandung dalam novel ini.

Bab mengenai musyawarah itu sendiri hanya satu bab tetapi benar-benar satu bab itu digunakan sepenuhnya untuk adegan musyawarah dan bab itu terletak di tengah.

Dugaan saya sih begini:

1. Di tahun 1930-an akhir, Hamka lagi sebal sebagai pemuda di akhir 20-an, mengelola surat kabar, mendengar atau membaca banyak pemuda galau, sementara ia melihat ada hal lain yang lebih penting;

2. Hamka terkesan ama cerita Majdulin yang pernah ia baca dan ia menjadikannya sebagai kerangka untuk menulis karya ini dan ia selipkan serta ubah lokasi dan bahkan beberapa bagian dari cerita;

3. pasca penyerahan kedaulatan Indonesia, buku ini mulai diterbitkan lagi dan laris hingga dicetak berkali-kali. Kemungkinan besar, Pram sebenarnya sudah membaca novel ini berkali-kali dan pasti sudah tahu kalau novel ini sangat mirip dengan Magdalena

4. di tahun 1962, Pramoedya, yang mengasuh salah satu koran yang pro-Lekra, punya misi untuk menyatukan rakyat untuk mendukung sepenuhnya program-program Bung Karno dan mengecilkan suara-suara yang menentang demi kepentingan umum,

5. di tahun 1963, konflik antara Manikebu dan Lekra mulai. Manikebu sendiri didirikan tahun 1963

Yang unik adalah keberadaan novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.
Dia gak bisa dibilang sebagai murni kontra revolusi. Banyak pesannya yang bagus.
Hamka sendiri bukan seorang 'seniman' murni yang percaya 'seni untuk seni'. Dia seorang ulama, yang bagus.

Kalau dituduhkan novel TVDW sebagai kontra-revolusi, niscaya malah banyak yang akan membacanya.
Jadi lebih baik dikerdilkan sajalah novelnya. Dituduhkan label paling hina dalam dunia sastra, 'plagiat'. Bahkan Pram sampai menggunakan nama samarannya ketika menggunakan tuduhan itu.

Saya melihat tuduhan ini karena kewajiban politik Pram untuk menyatukan rakyat.

Atau... mungkin Pram hanya kebetulan mengeluarkan kritikan itu di tahun 1963, dan murni hanya tentang plagiarisme.


Quote Originally Posted by Alip View Post
Jujur saya sendiri tidak banyak lagi bersentuhan dengan budaya Ibu saya yang masih satu kampung dengan aBuya, tapi dari penuturan Ibu saya di berbagai kesempatan saya menangkap bahwa betul budaya musyawarah Minang itu seperti yang digambarkan oleh Hamka. Adapun tokoh-tokoh founding fathers kita mendapat sikap demokratis mereka dari pendidikan barat. Meski begitu, Ibu juga tidak menutup kemungkinan bahwa mungkin saja beberapa nagari tertentu sudah bersentuhan sedemikian dekat dengan pemikiran egaliter barat sehingga pada tahun 30'an sudah mampu bermusyawarah dengan pikiran terbuka.

Di Nagari tempat asal Ibu saya sendiri pengaruh budaya dan pemikiran barat sangat kental. Di tahun '30-an itu nenek saya sudah mahir berbahasa Belanda, memainkan alat musik barat seperti biola dan piano, menarikan tarian barat, dan membaca buku-buku sastra ataupun filsafat barat (dalam bahasa Belanda dan Jerman). Di sana-pun ada datuk perempuan, yang menurut Ibu saya satu-satunya sejak jaman Bundo Kandung, tapi saya belum bisa memastikan kebenaran hal ini. Jadi bisa saja memang ada demokrasi terbuka diantara adat-adat Minang lama (yang mungkin Moh. Hatta berasal dari situ), tapi mereka adalah perkecualian.

Nevertheless, good review...
Tentang Minang.. kayaknya ini menarik buat diskusi baru.


Tapi beneran,
adegan musyawarah itu di filmnya benar-benar membekas di kepala.