[MENTION=41]kandalf[/MENTION],
Ada saja yang bikin sel-sel kelabu di kepala saya bereaksi, menarik sekali ulasan Kandalf yang di-hide itu...![]()
Seperti biasa, ada hal yang mungkin bisa bikin diskusi jadi asyik... jadi saya taruh di sini...
Satu,
Pram itu khan tipe pengarang yang justru garang menentang kekuasaan, memang dia sedang mendapat angin dengan kecondongan Sukarno pada sosialisme, tapi saya ragu kalau dia tidak bisa melihat bahwa karya Hamka punya nada sama meski balutan roman-nya jauh lebih kental ... Saya sendiri baru sempat baca empat karya Pram, yaitu Arok-Dedes, Bumi Manusia, Kisah Calon Arang, dan Mangir. Kalau melihat dari novel yang empat itu, saya rasa Pram justru akan setuju pada kritik terselubung yang disajikan oleh Hamka. Jadi kritiknya apa bukan murni kritikan terhadap plagiarisme?
Satu hal yang menarik, menurut tulisan putra Hamka, Irfan Hamka, tersebutlah Pram pernah mengirim putri-nya, Astuti, dan calon menantu-nya, Daniel Setiawan, ke Hamka dengan tujuan untuk meng-Islam-kan calon menantunya yang keturunan Cina tersebut. Irfan mengutip pernyataan Pram kepada majalah Horison “Masalah paham kami tetap berbeda. Saya ingin putri saya yang muslimah harus bersuami dengan laki-laki seiman. Saya lebih mantap mengirim calon menantu saya belajar agama Islam dan masuk Islam kepada Hamka. Dialah seorang ulama yang terbaik.” Saya rasa ini menunjukkan watak Pram yang fair dan blak-blakan tanpa agenda tersembunyi?
Dua,
Jujur saya sendiri tidak banyak lagi bersentuhan dengan budaya Ibu saya yang masih satu kampung dengan aBuya, tapi dari penuturan Ibu saya di berbagai kesempatan saya menangkap bahwa betul budaya musyawarah Minang itu seperti yang digambarkan oleh Hamka. Adapun tokoh-tokoh founding fathers kita mendapat sikap demokratis mereka dari pendidikan barat. Meski begitu, Ibu juga tidak menutup kemungkinan bahwa mungkin saja beberapa nagari tertentu sudah bersentuhan sedemikian dekat dengan pemikiran egaliter barat sehingga pada tahun 30'an sudah mampu bermusyawarah dengan pikiran terbuka.
Di Nagari tempat asal Ibu saya sendiri pengaruh budaya dan pemikiran barat sangat kental. Di tahun '30-an itu nenek saya sudah mahir berbahasa Belanda, memainkan alat musik barat seperti biola dan piano, menarikan tarian barat, dan membaca buku-buku sastra ataupun filsafat barat (dalam bahasa Belanda dan Jerman). Di sana-pun ada datuk perempuan, yang menurut Ibu saya satu-satunya sejak jaman Bundo Kandung, tapi saya belum bisa memastikan kebenaran hal ini. Jadi bisa saja memang ada demokrasi terbuka diantara adat-adat Minang lama (yang mungkin Moh. Hatta berasal dari situ), tapi mereka adalah perkecualian.
Nevertheless, good review...![]()
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)



Reply With Quote