ternyata Sang Hyang Tunggal dan Istrinya kopimaya'ers juga![]()
ternyata Sang Hyang Tunggal dan Istrinya kopimaya'ers juga![]()
Para Punakawan adalah buah kecerdikan dan kebijaksanaan para juru cerita Jawa. Adaptasi agar kisah yang kental bermuatan budaya India-Hindu bisa dicerna dengan baik oleh rakyat Jawa. Peran para Punakawan yang bahasanya konyol, tol0l, dan ngoko abis ini adalah bentuk keakraban dengan masyarakat penonton di kalangan bawah. Tanpa Punakawan, wayang hanya akan jadi tontonan filsafat kelas atas yang hanya bisa dinikmati oleh para bangsawan saja (lupa baca referensinya di mana).
Di sisi lain, sosok Punakawan yang cuma kacung wulu cumbu tapi ternyata merupakan titisan dewa (bahkan diantara dewa, trah mereka tergolong tinggi), adalah bentuk ajaran pula bagi para bangsawan bahwa suara kebenaran datangnya dari rakyat jelata yang nyerocos polos tanpa tedeng aling-aling. Bahwa rakyat, dibalik kesetiaan dan kepolosannya, adalah sumber kebijaksanaan tak terhingga.
"Mille millions de mille milliards de mille sabords!"
Wah, membahas silsilah dan asal usul diriku yhaaa....????
Seperti yang sudah diulas di atas; Sang Hyang Wenang menciptakan sebutir telur; kemudian diremasnya telur itu hingga pecah dan muncullah 3 "derivat" dari Sang Hyang Wenang. Sanghyang Tejamaya terwujud dari pecahan cangkang telur; Sanghyang Ismaya dari putih telur; dan Sanghyang Manikmaya dari kuning telur.
Sanghyang Ismaya dan Sanghyang Tejamaya beradu argumen tentang siapa yang paling tua; kemudian mereka adu kesaktian. Siapa yang bisa menelan Bumi akan menjadi yang dianggap paling dihormati. Sanghyang Tejamaya berhasil mengulum Bumi dan kemudian Sanghyang Ismaya berhasil menelan bumi. Sanghyang Wenang yang merasa jengkel atas ulah kedua derivatnya menyabda Tejamaya menjadi lebar mulutnya (jw = dower) dan Ismaya menjadi buncit perutnya. Kemudian Sanghyang Wenang memilih Manikmaya untuk menjadi penguasa triloka.
Sanghyang Tejamaya setelah berubah wujud turun ke Bumi menjadi Togog; dan disusul Sanghyang Ismaya turun ke bumi dengan nama Semar. Togog menjadi pamong para Kurawa; yang selalu mengingatkan yang diasuhnya agar senantiasa berbuat baik. Semar menjadi pamong para Pandawa yang juga selalu mengingatkan mereka agar selalu berbuat baik. Ini adalah kaca benggala; mereka yang berwatak KSATRIA bukan mereka dilahirkan sebagai golongan ningrat; namun siapapun yang selalu memihak kebenaran patut disebut ksatria. Itu sebabnya Eyang Mangkunagara IV dalam serat Wulangreh menyatakan :
Poma kaki padha dipun eling
Mring pitutur ing ong
Sira uga satriya arane
Kudu anteng jatmika ing budi
Ruruh sarta wasis
Samubarang tanduk
Artinya:
Wahai semuanya harap diingat
Akan nasehatku
Engkau juga disebut satria
Harus selalu berbuat baik
Rajin dan terampil
di segala perbuatan
Mengenai sejak kapan munculnya Sanghyang Ismaya ya sejak beliau diciptakan oleh Sanghyang Wenang. Saya pribadi merasa bahwa cerita wayang itu bukan sekedar cerita atau kaca benggala; melainkan pernah di suatu masa terjadi dan kisah mereka dituturkan kepada anak cucu manusia.
Togog dan Semar juga hadir pada masa pemerintahan Kerajaan2 Besar di Nusantara; yang terdeteksi antara lain pada masa Majapahit menjadi Sabdapalon dan Nayagenggong; kemudian di masa Mataram menjadi Bancak dan Doyok....
Togog memiliki wilayah di bidang IPTEK sementara Semar di bidang SPIRITUAL; bangsa yang diasuh oleh KEDUANYA akan menjadi bangsa yang besar. Nampaknya saat ini belum ada terlihat dimana Eyang Semar dan Eyang Togog mengasuh...
Catatan :
Kalau tidak keliru dari hasil diskusi dengan Bli DB di sebuah bale bengong dekat Pura Silayukti pada pertengahan tahun 2011: Di Bali Sangut - Merdah ; dan Delem - Tualen bukan Semar - Gareng - Petruk - Bagong; tetapi Semar - Bagong dan Togog - Bilung; nampaknya Gareng dan Petruk tidak dikenal di sana...
Last edited by Sanghyang Ismaya; 31-12-2011 at 01:27 PM. Reason: tambahan inpo
=================
Lae... lae... mbegegeg ugeg ugeg sadulita hemel hemel...
tokoh/penokohan punakawan hanya terdapat
dalam buku babon (baca pakem pedalangan) hasil kreasi ahli kesenian jawa, cmiiw
versi aslinya (baca India) baik dlm episode Ramayana maupun Mahabarata
tokoh punakawan tidak ada, apa benar demikian?
(mohon pencerahan dari penemban Ismaya)![]()
mbregegeg ugeg-ugeg hemel-hemel sak dulito
ndak ada mbah *hasil nonton pilem mahabarata versi india*
malah gak ada itu Srikandi yang digambarkan cewek ksatria. Malah di India Srikand itu bences loh
Sepanjang yang saya ketahui, memang benar demikian adanya. Mahabharata maupun Ramayana versi India tidak terdapat para punakawan. Punakawan sendiri yang lengkap (Semar, Gareng, Petruk, Bagong) pun baru terdeteksi pada jaman kapujanggan. Saya tidak tahu kalau ada catatan yang lebih tua yang memuat kisah tentang punakawan sebelum era Kapujanggan. Masing - masing Punakawan pun membawa sifat2-nya masing masing dan dengan ditambah Pandhawa Lima; maka akan membentuk susunan "sedulur papat kalima pancer".
Srikandhi Nusantara bertukar kelamin menjadi ksatria pada akhir perang Bharatayudha juga adalah salah satu "kejeniusan" para sastrawan di jaman Kapujanggan. Aselinya memang Srikandhi adalah "wandu"; alias bences. Supaya sinkron dengan ajaran yang pada saat itu sedang ngetrend, dimana hubungan dengan sesama jenis diharamkan maka para Pujangga membuat sosok Srikandhi adalah perempuan titisan dewi Amba; yang karena sumpahnya kelak akan membuat Bisma menemui ajalnya. Oleh karena itu supaya tetap nyambung dengan babon induknya, maka Srikandhi dibuat "bertukar kelamin" dengan seorang resi raksasa.
=================
Lae... lae... mbegegeg ugeg ugeg sadulita hemel hemel...
eh kalau tokoh Lesmono di TVRI yang ada punawakan jaman dahulu kala itu bences bukan?
Lesmana itu siapanya punawakan?
Lesmono itu kalau gak salah putranya Duryudana dan Dewi Banowati.
Eh,
aku baru tahu kalau Sangut-Delem-Tualen-Merdah itu lebih menggambarkan Semar-Bagong-Togog-Bilung.
Oh iya,
Di versi Bali, bukannya Srikandi itu juga wanita?
*duh gambarnya kutaruh di mana ya...
Lomba peluk2an di Citos: 30 November 2013
Lomba dorong2an di Candra Naya (dkt Glodok): 8 Desember 2013
Betul, Lesmana adalah putra Prabhu Suyudana (Duryudana) dengan Dewi Banowati... Lesmana bukan bences, tetapi lebih ke anak lelaki yang manja dan nggak dewasa. Makanya kelakuannya menye2 kaya gitu.
Aku juga baru tahu, pas kebetulan ke Bali pertengahan tahun lalu, sempat berdiskusi tentang wayang dan perbedaan wayang Jawa dengan wayang Bali. Saat itu aku sedang mengerjakan script pertunjukan wayang orang dengan judul "Ismaya Jati - Pandhawa Kembar"; dimana konsepnya adalah menggabungkan karakter Wayang Wong Jawa dengan Wayang Wong Bali. Dari hasil diskusi itu terbuka bahwa karakter Sangut, Delem, Tualen, Merdah, justru tidak memiliki karakter Petruk dan Gareng. Tualen-Merdah menjadi pendherek Pandhawa; Sangut-Merdah menjadi pendherek Kurawa... Eh... apa kebalik ya..??? wkwkwkwk...
Bisa jadi ya, karena sastra Jawa kuna kebanyakan lari ke Bali dan disana tidak mendapat pengaruh luar.
=================
Lae... lae... mbegegeg ugeg ugeg sadulita hemel hemel...
Hmm terus terang saya ga gampang inget soal wayang
kalau punakawan lebih gampang lah,
dari baju ama postur badan.
nah kalau duryudana ciri khasnya apa ya?
Spoiler for Duryudana:
trus kalau banowati ciri khasnya apa?
Spoiler for banowati:
eh kenapa lesmana yang diikutkan dalam acara Punawakannya TVRI?
kenapa bukan tokoh lain?
adakah korelasinya antara Lesmana dengan Punakawan?
setahu gw, ciri khas kurawa selalu mendongak, se
dangkan pandawa selalu menunduk.
Lesmana ikut di acara itu mungkin karena sosok pemerannya pas betul dengan wujud lesmana mandrakumara...
Kalo bentuk kaya gitu jadi Wrekodara ya jelas ndak cocog toh om etca? Wkwkwkwk...
=================
Lae... lae... mbegegeg ugeg ugeg sadulita hemel hemel...