Page 2 of 2 FirstFirst 12
Results 21 to 30 of 30

Thread: Free energy, Tesla, dan piramida

  1. #21
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,958
    lha itu maksud saya memang di tataran aplikasi, apalagi membawa2 piramida giza segala. kalo tataran teori mah saya wallahu alam dah.
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  2. #22
    pelanggan setia TheCursed's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    3,231
    ^Sorry, kalau gitu. Gue yang nggak mudeng.
    A proud SpaceBattler now.

  3. #23
    Chief Cook ndableg's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    5,910
    Quote Originally Posted by Alip View Post
    Masalahnya, Bleg... piramid-piramid dimaksud umurnya lebih tua dari Giza dan mereka jelas-jelas bukan hasil percobaan pra-Tesla Giza. Semuanya makam.

    Lalu,
    Mesir bukanlah bangsa yang hilang atau punah. Tulisan-tulisan Mesir dalam bentuk Hiroglif yang selamat sampai jaman ini bisa dibilang telah bisa terbaca seluruhnya dengan kadar spekulasi yang sangat sedikit, thanks to Rosetta Stone. Pencapaian-pencapaian dan peristiwa-peristiwa penting yang tercatat oleh bangsa Mesir kuno telah terbaca dengan baik oleh para ahli, berbeda dengan sejarah suku Maya yang perlu banyak deduksi dan spekulasi karena kurangnya catatan tertulis. Nah, di dalam catatan tersebut tidak disebut soal teknologi apapun, jangankan cara pembuatannya, kisah bahwa teknologi itu pernah ada dan digunakan oleh rakyat juga tidak ada. Mengenai Piramid Giza, yang ada adalah dedikasi terhadap Fir'aun Khufu. Jadi teori tentang piramid sebagai makam lebih punya dukungan bukti ketimbang sebagai generator.
    Ok deh mas. Saya sih ga membantah, karena memang bukti bahwa Komplek giza itu digunakan sbg pembangkit listrik memang tidak digali dan diteliti lebih lanjut. Hanya karena strukturnya yg memungkinkan utk itu yg menjadi acuan dari pendapat tsb, spt bahan limestone, granit, dll yg jg digunakan dalam applikasi elektronik. Ok Stick to the tomb as what the sponsors said.

    Maksud saya bangsa yg hilang itu mengacu ke bangsa Maya, dll. Di mana yg namanya catatan2 (ilmu pengetahuan) hilang adalah hal biasa, entah dibakar, dihancurkan, atau dicuri oleh penjarah, musuh ato dituduh ilmu sihir ataupun sengaja disembunyikan. Kalo teknologi ga pernah disembunyikan, ga mungkin ada negara yg bisa jadi yg terkuat.
    Last edited by ndableg; 24-11-2013 at 06:37 PM.

  4. #24
    Chief Cook ndableg's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    5,910
    Kayaknya jadi lebih cocok ke poleksosbud neh..
    Maksudnya sih tadi pengen tanya apakah mungkin menara tesla atau sistem macam piramida diapplikasikan ke dunia sekarang. Tapi malah bahas piramdanya, yo wis.

    "All people everywhere should have free energy sources. Electric Power is everywhere present in unlimited quantities and can drive the worlds machinery wihtout the need for coal, oil, or gas."
    -Nikola Tesla

  5. #25
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Transfer energi gratisan sudah dilakukan oleh matahari. Cahaya dan panas yg sampe ke bumi tidak lain adalah energi dalam jumlah besar yg diberikan oleh matahari kepada manusia secara gratis. Karena itu orang Mesir menyembah matahari. Sementara orang modern sudah terbiasa dgn energi listrik (aliran muatan listrik) yg lebih mudah dikontrol dibandingkan cahaya dan panas. Itu juga alasan mengapa setiap bentuk energi lain selalu diubah ke bentuk listrik, mudah dikontrol.

    Ide Tesla mungkin maksudnya seperti link di bawah ini:

    http://en.wikipedia.org/wiki/Inductive_charging

    Pengisian energi dengan cara induktif, atau bahasa sekarangnya nirkabel (wireless charging), sudah dikembangkan orang, misalnya charger utk hape. Cuman masalahnya adalah efisiensi, meski katanya sudah ada yg se-efisien charger kabel. Energi yg dialirkan lewat kabel lebih efisien dibandingkan yg dipancarkan begitu saja dari sumbernya melalui antena. Kabel berfungsi sebagai pemandu energi dari sumber ke pengguna, sehingga kehilangan energinya lebih kecil dibandingkan yg wireless. Kelebihan yg wireless, dia bisa diakses dimana saja, seperti koneksi internet di bandara, gak perlu kabel yg bikin repot. Jadi, masing-masing ada lebih dan kurangnya.


  6. #26
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Soal akses energi, saya setuju bahwa energi harus tersedia seluas-luasnya dengan harga semurah-murahnya. Cuma saya masih ragu apakah metode induksi merupakan jawaban yang tepat, karena seperti kata Eyang Purba di atas, metode ini boros energi.

    Saya lebih cenderung menebak bahwa di masa depan kita perlu memiliki portable power generator yang murah dan efisien, katakanlah solar cell dengan efisiensi di atas 90%. Nah, kalau itu sudah kejadian, setiap rumah tangga atau bahkan setiap individu bisa memenuhi kebutuhan energinya sendiri. Kita tidak perlu lagi tergantung pada pemasok energi oligopolistik macam PLN dan teman-temannya, dan energi tidak lagi menjadi komoditi politik para politikus yang berkongkalingkong dengan perusahaan minyak/batubara raksasa.
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  7. #27
    Barista AsLan's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9,288
    Kalo energi matahari jadi sumber energi utama...

    Gw prediksi para kapitalis akan berusaha menguasai cahaya matahari sebanyak2nya, misalnya:

    - menguasai negara2 tropis
    - menguasai lahan2 terbuka
    - makanan menjadi mahal karena lahan pertanian bersaing dengan lahan solar cell


    Nanti dijaman itu orang miskin hidup didalam gelap, minimal hanya penerangan lampu karena cahaya matahari terlalu mahal untuk mereka nikmati.

    Mungkin anda berpikir, saat itu efisiensi solar cell sangat tinggi, wilayah yg terpapar matahari juga sangat luas trntunya takkan sampai terjadi rebutan lahan.

    Belum tentu, siapa tahu dijaman itu ada teknologi yg membutuhkan energi sangat besar yg tak bisa tercakup oleh energi nuklir karena keterbatasan bahan baku.

    Manusia akan membuat solar cell layang yg terbang membentang di angkasa, benda ini sangat ringan dan bisa mengembang hingga ukuran yg sangat luas, menyerap energi sinar matahari dan menghasilkan listrik.
    Tapi wilayah bumi dibawahnya menjadi gelap dan tak bisa ditanami.

  8. #28
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Banyak faktor yang memperngaruhi skenario energi di masa depan, tidak semata-mata seputar menemukan sumber energi yang murah dan efisien, tapi pasti melibatkan juga unsur politik, ekonomi, budaya... atau bisa dibilang, sebutlah faktor apapun, pasti akan berkontribusi pada penguasaan energi.

    Semua kebudayaan dan kerajaan dibangun dari penguasaan energi, semakin banyak energi yang dikuasai maka akan semakin besar pula kerajaan itu tumbuh. Kita bisa sebut bahwa semua kerajaan manusia yang pernah tumbuh dalam sejarah bisa menjadi besar karena energi yang mereka dapat dari rumput... baik berupa gandum maupun beras.

    Rumput merupakan tanaman yang sangat efisien, dia bisa tumbuh dan berkembang dibanyak iklim dan tempat, dan menghasilkan energi dengan pemeliharaan yang minimal. Kelompok manusia yang bercocok tanam rumput bisa menguasai energi lebih banyak dengan usaha (pengeluaran energi) yang lebih sedikit, lalu mereka menemukan pula cara menyimpan energi itu supaya bisa digunakan kala dibutuhkan, tidak langsung habis seketika (dalam bentuk tembikar dan lumbung). Bandingkan dengan kelompok pemburu... untuk mendapat sedikit energi dari daging hewan, mereka harus mengeluarkan energi begitu banyak (proses berburu). Itulah kenapa kumpulan manusia yang akhirnya berkembang menjadi kerajaan besar biasanya berasal dari kaum pecocok tanam.

    Lalu dari periode kerajaan inilah muncul konflik dan peperangan yang pada intinya adalah penguasaan energi, meskipun secara kasat mata disebut sebagai penguasaan lahan/daerah/wilayah kekuasaan (siapa yang mau menjajah "kekayaan alam" kutub selatan?).

    Barangkali konsep ini yang tanpa disadari menginspirasi Aslan soal penguasaan energi yang memunculkan masa depan suram seperti yang ditulis di atas.

    ***

    Sesungguhnya ada satu faktor utama yang menentukan arah cerah suramnya skenario energi di masa depan, yaitu perbandingan antara jumlah energi yang bisa dihasilkan dengan jumlah energi yang diperlukan.

    Katakanlah kita belum berhasil menemukan energi alternatif di tahun 2050, padahal persediaan energi fosil sudah makin habis. Kalau kita hidup seperti jaman Mesir Kuno, tidak ada masalah. Tapi karena kita sudah terlanjur punya ribuan pabrik dan jutaan rumah yang haus listrik, ribuan pembangkit listrik yang perlu batubara atau solar, jutaan mobil yang perlu bensin, ratusan ribu kapal tempur yang perlu avtur, maka kita akan jatuh pada krisis. Produksi tidak bisa memenuhi kebutuhan.

    Mungkin seperti cerita Aslan, akan ada dulu manusia-manusia serakah yang mengambil keuntungan dari kurangnya energi, mereka berusaha menguasai sumber energi yang tersisa dan menjualnya dengan harga mahal. Kemanusiaan akan jatuh di bawah tirani para penguasa energi.

    Bisa dibayangkan akan terjadi pula krisis politik, dan mungkin perang besar.

    Tapi adakah skenario yang lebih cerah?

    Saya sih percaya begitu.
    Pertama,
    ada banyak sumber energi terbarukan, yang jumlahnya sangat besar. Jauh lebih besar dari kebutuhan manusia bumi. Sebutlah matahari seperti yang disebut Eyang Purba. Bumi menerima 3.85 juta exajoule (10^18) per tahun, sedangkan konsumsi energi total seluruh dunia di abad 21 ini masih di kisaraan 474 exajoule. Masih sedikit dibanding potensi yang ada. Belum lagi memperhitungkan sumber energi lain.

    Kedua,
    kita mengembangkan sekian banyak energi alternatif, yang harapannya makin lama akan makin efisien dan murah. Sebutlah selain energi sinar matahari, ada energi panas bumi, energi air, energi kelautan, energi angin, dan lain-lain. Akan cukup banyak diversifikasi energi untuk bisa dikuasai oleh sekian banyak orang.

    Jadi kita berharap ke depan kecenderungannya alternatif energi dan penyedia energi akan semakin banyak, dus mekanisme ekonomi akan membuatnya lebih murah dan terjangkau.

    ... dan tentunya kita berharap tidak banyak lagi penguasa gila yang didukung oleh ilmuwan gila ingin membuat senjata penghancur massal yang bisa menghancurkan planet bumi (dibutuhkan 2.25 juta juta juta exajoule (10^32)). Merekalah yang akan membuat pasokan energi sedemikian besar lagi-lagi menjadi tidak cukup. Untuk apa lagi kebutuhan energi sedemikian besar selain untuk hal-hal yang jauh melampaui kebutuhan manusia untuk hidup makmur?
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  9. #29
    Barista AsLan's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9,288
    Yg kita gak tahu adalah, teknologi baru dimasa depan yg entah apa dan untuk apa, tapi membutuhkan energi yg sangat besar.

    Di skenario kelam ini, penemuan sumber energi baru tertinggal dari penemuan yg membutuhkan energi...

    Misalnya, contoh...
    Ada mesin yg bisa menghidupkan orang mati (orang2 super kaya)

    Kalo kita flash back, jaman dulu orang naik kuda, saat itu manusia tak mengira konsumsi energi bisa sedahsyat sekarang...

    Kalo skenario terang sih, kebutuhan energi makin kecil, penemuan sumber energi baru makin besar, semua orang bahagia...

  10. #30
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Quote Originally Posted by Aslan
    Di skenario kelam ini, penemuan sumber energi baru tertinggal dari penemuan yg membutuhkan energi...
    Benar bahwa kalau teknologi pemasokan energi tertinggal dari peningkatan kebutuhan, kita akan jatuh dalam krisis (skenario kelam). Sekarang banyak orang sudah menyadari pentingnya mengembangkan energi alternatif, tapi tanpa ada kemauan politik dari para pemerintah negara-negara dunia, energi alternatif ini akan tetap jadi "bahasa dewa". Sulit bagi kita untuk membayangkan bahwa perusahaan penghasil energi saat ini mau mengucurkan dana besar untuk membiayai riset teknologi energi baru, lepas dari seberapa raksasa ukuran mereka sekarang. Bagaimanapun juga mereka tetap memiliki kewajiban untuk menghasilkan keuntungan dan riset seperti ini adalah cost center selama puluhan tahun, sulit sekali mempertanggungjawabkan pengeluaran tanpa keuntungan seperti itu kepada para pemegang saham. Harus ada inisiatif, insentif, atau regulasi dari pemerintah.

    Kalau para pemerintah masih tetap "pura-pura" peduli seperti yang kita alami sekarang, maka memang kita akan menghadapi krisis energi yang berakhir pada kekacauan besar sebelum kembali lagi ke ekuilibrium (misalnya 80% penduduk bumi musnah sehingga energi yang tersedia kembali menjadi cukup untuk semua orang).

    Quote Originally Posted by Aslan
    Yg kita gak tahu adalah, teknologi baru dimasa depan yg entah apa dan untuk apa, tapi membutuhkan energi yg sangat besar.

    Kalo kita flash back, jaman dulu orang naik kuda, saat itu manusia tak mengira konsumsi energi bisa sedahsyat sekarang...
    Bedanya, kita sekarang sudah mengetahui dari mana saja energi bisa didapat, dan memperkirakan seberapa besar yang kita butuhkan untuk melakukan sesuatu. Kita bahkan bisa menghitung berapa besar energi yang kita butuhkan untuk menghancurkan planet bumi, dengan menghitung energi yang membuat planet ini kohesif.

    Sederhananya, kita membutuhkan sejumlah energi untuk membuat kita hidup makmur bahagia, dan ini seharusnya bisa dipenuhi dengan baik dengan perkembangan teknologi yang evolusioner. Hal-hal yang membutuhkan lompatan teknologi energi (technological breakthrough) adalah kebutuhan yang sifatnya juga revolusioner dan skalanya sudah melampaui dimensi planet kecil kita ini, misalnya Warp atau Skip Drive yang bisa membuat kita menjelajah jauh ke bintang-bintang. Sebagai ilustrasi, perkiraan terakhir energi yang dibutuhkan untuk menggerakkan sebuah pesawat kecil berpenumpang satu orang melampaui kecepatan cahaya adalah sebesar 6.5 exajoule atau sebesar energi yang diperlukan Amerika Serikat selama setahun. Tentunya tidak ada pihak waras yang mau mengusahakan energi segini besar sekedar untuk menggerakan sebuah pesawat kecil, sebelum prioritas-prioritas lain dipenuhi dulu, atau teknologi energi sudah memungkinkan untuk membuat drive semacam itu dengan biaya murah.

    Singkatnya, selama bumi masih waras, teknologi yang butuh energi besar akan masuk kategori barang tersier, yang belum akan digarap dulu sebelum hal lain yang lebih penting dipenuhi.

    Jauh juga nih mbicarain Piramid Giza
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

Page 2 of 2 FirstFirst 12

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •