Disalin tanpa izin dari catatan Fesbuk Kang Iwan Setiawan dengan menyunting alinea agar enak dibaca.
Seorang tukang masak menganggap ilmu memasaknya tak berguna, merasa perlu belajar bela diri agar bisa mengalahkan dan tak terkalahkan maka datanglah ia pada guru bela diri yang mengajarkan ilmu dari alam. Ketika diajarkan padanya ketenangan yang bersumber dari bunga padma di kolam, dalam renungannya ia tergoda ketika melihat murid lainnya berlatih menyerang dan bertahan menggunakan teknik binatang. Tertarik ia mempelajari teknik binatang, belajarlah ia teknik pagutan ular, selang berapa lama ia belajar, iapun bertemu dengan yang mempelajari teknik sambaran rajawali yang menurutnya dapat mengalahkan pagutan ularnya. Iapun mempelajari cengkaram rajawali. Dengan bangganya iapun sering memamerkan cengkaram rajawalinya pada siapapun yang ditemuinya.
Suatu saat sang tukang masakpun bertemu seorang pedagang yang memiliki ilmu bela diri, maka diperlihatkan dan dicobanya cengkraman rajawalinya pada si pedagang, namun dengan mudahnya teknik tersebut dimentahkan, berulang kali dicobanya namun selalu gagal, ketika ia bertanya teknik apa yang pedagang itu gunakan, sang pedagangpun menyebut tekniknya sebagai teknik belut putih. Iapun penasaran dan mempelajari perilaku belut langsung dari alam, dengan melihat dan mengamati pergerakan belut sampai mengerti dan mahir memperagakannya, hingga suatu ketika ia bertemu dengan pelaku bela diri lain yang menggunakan teknik kucing hutan, tekniknyapun berhasil dikalahkan. Untuk kesekian kalinya ia belajar teknik yang mengalahkannya. Tak kepalang tanggung langsung berguru dan menimba ilmu pada alam Namun inipun tak berselang lama, iapun mengetahui teknik ini dapat dikalahkan oleh jurus srigala mengoyak mangsa, ketika ia mempelajarinya, iapun melihat dengan mata dan kepalanya sendiri ternyata srigala takut pada harimau, dengan berbekal keinginan kuat dan rasa kepenasaran, iapun pergi jauh ke tengah hutan untuk melihat dan mempelajari secara langsung sang raja hutan bertempur.
Sekian lamanya di dalam hutan, sering ia melihat harimau menerkam mangsa, berburu dan berkelahi, dengan gembira iapun menganggap inilah bela diri alam terampuh yang pernah ada, hingga terbersit di hati tak akan ada yang sanggup mengalahkan jurus sang raja hutan. Namun itu tak berlangsung lama, ketika ditemuinya pemburu harimau memasuki hutan, bersama anjing pemburu, bersenjatakan bedil dan parang, seekor raja hutan terkulai mati dikuliti dan dipanggul keluar hutan. Iapun tercenung, apakah ini berarti yang tergagah adalah pemburu? Iapun mengikuti pemburu yang gagah berani tersebut hingga sampai di depan pekarangan rumahnya. Sang pemburu yang telah berhari-hari meninggalkan istrinya, langsung disambut dengan lemparan sandal kayu dan berbagai perabot dapur oleh sang istri karena terlalu lama meninggalkannya, sang pemburupun terbirit-birit ketakutan.
Kini ia tertawa melihat semua ini, ketika ditawarkan dirinya untuk membuatkan masakan untuk pemburu dan istrinya, tentu saja sang istri pemburupun reda amarahnya, karena ternyata ada orang yang dapat memasak dan membuatkan masakan enak untuk hari itu. Sang pemburu dan istrinyapun belajar pada tukang masak tentang berbagai menu yang ia ketahui, hingga akhirnya sang tukang masakpun mengerti apa yang dialaminya tentang segala kelebihan dan kekurangan tentang belajar dan ilmu kehidupan.
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)

Reply With Quote
