
Originally Posted by
Alethia
waktu itu kami sedang duduk menghadap jendela, hujan turun entah sejak kapan, sulit rasanya menghitung mundur waktu ketika pikiranmu berharap akan sesuatu di detik-detik berikutnya. Dia lalu menyentuh ujung jari manisku, pelan sekali..lalu petir menggelegar. Kami sama-sama terhenyak dan sentuhannya terlepas. Petir itu seperti suara nenek yang tiba-tiba muncul dari balik pintu dan menghardikmu agar tidak berbuat macam-macam. Kami cukup lama saling terdiam, tanpa terasa perutku mulai keroncongan, dan karena jendela agak sedikit terbuka...dia masuk angin dan mulai hitut-hitut....(bersambung)