Saya copy-paste saja tinjauan umum saya atas buku ini, dari blog buku saya sendiri :
Buku ini cocok bagi pembaca tekun nan tabah. Jangan mengharapkan plot dramatis dan ketegangan. Saya bertaruh, kebanyakan pembaca di dunia ini akan jemu dengan gaya seperti ini. Namun jika seseorang pada akhirnya mampu menghabiskannya, saya pikir akan menangkap nuansa liris dan sendu, dua kata sifat yang yang selalu ada di benak saya ketika membaca karya-karya Orhan Pamuk ( anda sudah membaca Istanbul yang berasa impresionistik itu ?).
Mengambil latar masa menjelang kejatuhan Imperium Ottoman, cerita ini dimulai ketika sebuah kapal yang berlayar dari Venesia ke Napoli, diserbu pasukan Turki. Sang Narator beserta kru kapal ditangkap. Ia berasal dari Venesia, menguasai sains terkhusus astronomi. Oleh situasi dan berbekal pengetahuan anatomi tubuh manusia, ia kerap berpraktik sebagai dokter dan berhasil memperoleh kepercayaan orang-orang sekitarnya.
Pada akhirnya ia bertemu hoja (master, guru), seseorang yang kemudian menjadi Sang Majikan, memiliki hasrat membara terhadap ilmu pengetahuan, gelisah, melulu bereksperimen, bujang lapuk, semena-mena terhadap Sang Budak.
Baik Sang Majikan dan Budak adalah cendekiawan. Saya merasakan mereka bak cendekiawan mbambung yang membutuhkan lembaga dan dukungan finansialSelain sama bernafsu terhadap berbagai penemuan dan eksperimen, keduanya pun mirip secara fisik.
Ada kejengahan dan manipulasi dalam relasi keduanya. Dinamika relasi ini dituturkan sepanjang cerita. Sang Majikan mencoba menggali pengetahuan Sang Budak. Sang Budak menyembunyikan pengetahuannya. Tarik ulur terjadi.
Hidup bersama bertahun-tahun, kebencian dan rasa membutuhkan naik-turun. Situasi politik Kekhalifahan Turki berimbas pada karier dan nasib keduanya.
Awalnya saya mengira kisah pertukaran identitas kedua lelaki ini akan mengambil porsi banyak. Dua orang serupa bertukar identitas, bukankah menarik ? Sang Majikan, Si Hoja itu, pergi ke kampung halaman Sang Budak, mengaku-aku, lalu menikahi tunangan Sang Budak. Sang Budak akan memata-matai simetri dirinya itu.
Namun soal itu diceritakan sekilas di ujung penghabisan. Pengarang tidak berminat sinetron semacam itu. Eksplorasi novel ini adalah relasi Sang Majikan-Budak dalam sepotong sejarah Turki : intrik kekuasaan, ambisi-ambisi orang-orang seputar Sultan, kekuasaan ilmu-pengetahuan, modernisasi teknologi, dogma agama yang dijadikan mainan kekuasaan.
Novel ini sangat minim dialog. Seingat saya hanya ada tidak lebih sepuluh kalimat langsung. Gaya penceritaan sudut pandang orang pertama, Aku Sang Budak.
Yang jelas butuh kesabaran membaca novel berplot lurus-datar ini. Kabar baik-nya, nuansa Turki (yang bagi saya eksotis) terasa kental, membawa pembaca ke masa ketika negara itu terjerembab setelah pernah menjadi penguasa
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)



Selain sama bernafsu terhadap berbagai penemuan dan eksperimen, keduanya pun mirip secara fisik.
Reply With Quote
