klo adegan sholat = menghina/mengurangi kesakralan sholat gak?
klo adegan buka puasa = menghina/mengurangi kesakralan puasa gak?
klo adegan manasik haji = menghina/mengurangi kesakralan berhaji gak?
ada2 aja![]()
klo adegan sholat = menghina/mengurangi kesakralan sholat gak?
klo adegan buka puasa = menghina/mengurangi kesakralan puasa gak?
klo adegan manasik haji = menghina/mengurangi kesakralan berhaji gak?
ada2 aja![]()
mbregegeg ugeg-ugeg hemel-hemel sak dulito
Ane bisa paham keberatan MUI tsb. Mungkin faktor yg memberatkannya adalah aspek lisan. Misalnya adegan akad nikah. Pada adegan tsb ada pengucapan ijab kabul misalnya. Pengucapan tsb melibatkan tuhan (?). Bagaimana tuhan yg maha agung dijadikan bohong-bohongan (baca: adegan)?
Mungkin MUI bisa memaklumi jika adegan sebatas gerakan saja. Misalnya adegan berupa aktifitas akad nikah tanpa perlu menunjukkan adegan lisan seperti pengucapan ijab kabul tadi.
Adalah logis bahwa mereka yg meyakini keberadaan tuhan dengan segala sifatnya yg maha tinggi tidak akan menerima kepura-puraan pengucapan nama tuhannya.
Coba, apakah mungkin seorang aktor muslim yg berperan menjadi orang kafir mengucapkan: "Aku tidak percaya Allah swt."? Kecuali aktornya muslim KTP. Jika pun tidak, itu akan menjadi konflik batin di dalam dirinya sendiri.
![]()