^Nah, kalo memang sudah dipahami sebabnya 'kenapa' ya tinggal 'bagaimana' selanjutnya. Ndak usah nyari2 'kenapa'nya lagi, ntar malah muter2 ndak jelas. Itu 'pesan' yg saya tangkep dari tulisan Dimas Alip yg diamini mbakyu Chan.

Kalo dari saya, kalo memang masih mau nyari 'kenapa' ya jgn berhenti muter2 disatu titik tapi telusuri juga 'kenapa2' sebelumnya supaya bisa 'bagaimana' kedepannya. Ini poin yg ingin disampaikan Mbak Mbok saya rasa. Bagaimanapun, 'bagaimana' tsb akan menjadi 'kenapa'nya di kemudian hari.

Intinya, ambilah "hikmah kebijaksanaan" nya.

*hati2 dgn 'kenapa' krn ego sering membelokkan hal tsb menjadi 'siapa', siapa benar siapa salah. mandeg muter2 disitu tok.*