Edukasi dini![]()
Edukasi dini![]()
you meet someone
you two get close
its all great for awhile
then someone stops trying
Talk less, awkward conversations, the drifting
No communication whatsoever
Memories start to fade
Then the person you know become the person u knew
That how it goes. Sad isn't it?
edi tansil, buronanmertuanegara..
![]()
udah 4 halaman, jadi kesimpulannya apa sih?![]()
maksud saya ini poinnya (imo) kenapa para istri/pasangan/wanita itu langsung lari saat kekerasan perttaama terjadi pada mereka.
dan tentu saja basicnya mereka cinta pada si cowok, lalu menyadari hal yang dibilang om alip... makanya mereka bertahan... mereka berusaha untuk "menyembuhkan" batin pasangannnya yang terluka.
awalnya saya gak habis pikir kenapa wanita itu tidak langsung pergi saat pasangan melakukan kekerasan sejak pacaran sampai berlangsung bertahun2...
mungkin ya....
karena di benak saya, kalau sekali laki2 bisa melakukan kekerasan, berarti bisa berkali2 lagi..dan kalau itu menimpa saya sekali, saya pasti kabur..
tapi, si laki2 sebenrnya menyadari gak si kalau dia sakit? kalau egonya terluka? apa mereka gak ada usaha untuk berobat gitu? kok bisa bertahun2 sampai menyiksa pasangannya...??
---------- Post Merged at 01:34 PM ----------
bukan edukasi om... tapi ejakulasi dini... si istri mau mau naik, suami udah keluar...
---------- Post Merged at 01:35 PM ----------
saya hanya gak abis pikir kenapa wanita korbat kdrt bisa bertahan bertahun2 om....
oooo KDRT, wah replynya ga ada satupun yang nyangkut KDRT![]()
you meet someone
you two get close
its all great for awhile
then someone stops trying
Talk less, awkward conversations, the drifting
No communication whatsoever
Memories start to fade
Then the person you know become the person u knew
That how it goes. Sad isn't it?
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India
Oh, itu...
Itu maksudnya tidak semua penyelesaian cepat itu bagus... beberapa hal perlu penyelesaian yang agak diperlambat...
Kalau detil skenarionya sih bisa macam-macam, tapi pada umumnya kekerasan yang berlebihan merupakan dampak dari rasa takut. Perempuan atau laki-laki sama saja, karena takut ego-nya terluka (lagi), mereka melindungi diri secara berlebihan.
Ada beberapa teori yang berakar pada neurologi yang berusaha menjelaskan fenomena ini... tapi kalau diungkapkan dengan bahasa sederhana, perempuan mempunyai kapasitas mencintai yang unik (dibandingkan laki-laki). Perempuan melihat hubungan (personal maupun sosial) sebagai prioritas utama, sehingga sulit sekali untuk bisa mengakhiri suatu hubungan. Bagi otak perempuan, kesejahteraan hubungan malah lebih penting daripada kesejahteraan individu, karenanya mereka selalu berusaha untuk mencari kemungkinan untuk mempertahankan suatu hubungan, meskipun sering harus mengorbankan diri atau berharap secara irasional.
Ungkapan indah saya baca di sebuah buku, ketika seorang ibu menasihati anak laki-lakinya;
"kalian para laki-laki (men) selamanya akan jadi anak-anak (boy), namun berbahagialah karena kalian akan selalu ditemani oleh perempuan, yang selalu bisa menerima dan memaafkan kalian apapun yang terjadi."
Ketika perempuan mengalami menopause, hormon-hormon yang mendukung disain otak ini berhenti berproduksi dan otak perempuan berfungsi sama independennya seperti otak laki-laki. Jadi jangan heran bahwa banyak terjadi perceraian setelah pernikahan berlangsung 30-40 tahun. Hal ini bisa terjadi karena si perempuan akhirnya bisa melihat bahwa pengorbanannya selama ini sia-sia, dan dia sudah bisa mengambil sikap untuk mengutamakan kesejahteraannya sendiri ketimbang terus mengusahakan suatu hubungan yang merugikan.
Kesimpulan saya; celakalah laki-laki yang tidak bisa menghargai kehadiran perempuan.
Jadi harap selektif dalam melakukan kekerasan terhadap perempuan...![]()
"Mille millions de mille milliards de mille sabords!"
^^^
Maksdnya kekerasannya pada sedikit bagian tubuhnya atau cuma sedikit keras aja om alip?![]()
surj... adi dan edi apa bedanya kong?![]()
[MENTION=249]Alip[/MENTION], jadi om, apa saya termasuk monopouse dini jika saya sudah sadar bahwa pengorbanan saya bakal sia2 padahal jalan baru 3th?
Karena saya sedikit merasa otak saya kea otak laki2 yang indepeden ? (Kemudian berusaha mensejahterakan diri saya sendiri daripada mempertahan hubungan yang merugikan)..
Saya hanya gak habis pikir (lagi lagi), disisi saya lari dari hubungan yang saya rasa merugikan saya, padahal suami saya tidak selingkuh, tidak kdrt, tapi disisi lain banyak wanita yang masih bertahan dengan pasangan yang sering menyiksa fisik...
Karena logika saya, saya pasti langsung lari setelah gelagat kekerasan pertama kali...
Saya baru ngeh, apa diksi saya salah ya? Seharusnya kekasaran, bukan kekerasan?
Mohon maaf kepada kopmayers... Keanya saya salah pilih judul...
iya..harusnya judulnya ada KDRT nya, soalnya kalau cuman "keras" pikiran laki2 bisa melayang kemana mana.
Tadi om Alip udah jelasin secara gamblang, saya cuman mau nambahin dikit :
kenapa kok masih ada yg bertahan walaupun udah dikasari?
jawab :
1. karena kemauan untuk mempertahankan pernikahan sangat kuat
2. materi/uang, biarin dikasari, asal dibeliin berlian, kapal pesiar, pesawat pribadi
3. cinta (?) Ini biasanya buat 3-5 th pertama perkawinan--> nanti buat thread lain aja Eve
4. kelainan seksual (S/M), makin nikmat kalau dikasari
4a. atau sebaliknya, misalnya.. suami kamu ngaku ke kamu, bahwa dia hanya bisa terangsang kalau sudah melakukan kekerasan, dan setelahnya mohon2 maaf, apa yg harus kamu lakukan? Masak ditinggal pergi?
5. bagi kebanyakan orang, pernikahan adalah kejadian sekali seumur hidup. Bukan kejadian beli baju baru, sebulan sekali gak cocok, ganti baju baru.
6. anak, saking cintanya sama anak, rela berkorban asal tidak cerai
7. tidak ingin bikin malu keluarga besar
Kok banyak ya?
[MENTION=62]eve[/MENTION]
Kecuali eve menikah di umur 42, atau memiliki early menopause syndrome, maka eve belum akan menopause dulu. Gak usah buru-buru laaah...Disain otak dan hormon itu hanya faktor genetik yang akhirnya dipengaruhi pula oleh pendidikan, budaya, dan latar belakang. Kalau kita masih hidup di jaman batu, maka para perempuan harus sangat mengandalkan kemampuan membina hubungan itu, karena mereka perlu hidup bergerombol di gua yang sama, saling membantu menyiapkan makanan dan mengasuh anak-anak sementara para laki-laki pergi berburu. Tapi di jaman sekarang ini ketika penghasilan suami saja tidak cukup dan istri terpaksa harus jadi menejer di kantor, maka sikap independensinya akan lebih berkembang meskipun sistem hormonnya tidak bicara begitu.
Banyak hal yang menyebabkan perempuan berusaha mempertahankan pernikahannya, yang semuanya sebenarnya diturunkan oleh kemampuan istimewa perempuan untuk lebih menghargai kesejahteraan suatu hubungan. Meskipun mungkin harta dan anak disebut sebagai alasan, hakikat dari keduanya sesungguhnya adalah hubungan juga. Misalnya, harta itu digunakan si perempuan untuk menyokong kehidupan dan pendidikan anaknya, jadi meskipun dikasari dan dicueki habis-habisan, si istri tetap bersabar demi kebahagiaan si anak. Si anak sendiri tidak bisa dilihat sebagai manusia yang tanpa ada perannya, dia adalah obyek cinta dan kasih sayang si perempuan... kemudian lagi, si perempuan memikirkan bagaimana jadinya hubungan antar keluarga besar mereka kalau pernikahan mereka bubar? Atau lagi, "apa kata masyarakat?", ini sesungguhnya, "bagaimana kelak hubungan saya dengan para tetangga setelah mereka tahu saya bercerai...?" Perempuan menginginkan hubungan yang harmonis dengan kalau bisa seluas mungkin alam semesta.
So, muter di situ-situ juga. Coba tanya sama laki-laki, apakah begitu juga cara mereka berpikir?
Kalau cuma ingin tau "kenapa", jawabannya bisa dicari. Tapi seperti saya tulis sebelumnya, ilmu tidak ada gunanya tanpa hikmah, atau kalau di Pancasila tuh disebutnya "hikmah kebijaksanaan" (apalagi nih?) ... kemampuan kita untuk melihat konteks suatu keadaan, dan menggunakan ilmu itu untuk membuat keadaan menjadi lebih baik.
Daripada sibuk memikirkan "kenapa", saya lebih suka memusatkan perhatian pada "bagaimana". Bagaimana agar pernikahan bisa bahagia.
Dalam hal ini perempuan sudah memiliki modal yang luar biasa bagus, kemampuan mereka untuk menghargai suatu hubungan. Tinggal bagaimana mengomunikasikannya kepada spesies ndableg (tidak ada hubungan keluarga dengan teman kita ndableg yang "itu") yang disebut laki-laki. Karena spesies satu itu sangat hebat dalam melihat suatu obyek apa adanya, tidak melihat hubungan antar obyek (yang oleh mereka disebut rasionalitas atau obyektifitas).
Obyektifitas seorang laki-laki mungkin dianggap kekasaran atau ketidak pedulian oleh perempuan, sedangkan harmonisasi perempuan mungkin dilihat sebagai kelemahan atau kecengengan oleh laki-laki. Menjembatani dua hal ini (disamping banyak hal lain) dalam pernikahan membutuhkan ketekunan dan komitmen.
---------- Post Merged at 07:27 AM ----------
Itu sekarang jadi variasi yang asyik... mulai dari gigit-gigit sedikit, sampai yang agak keras...![]()
"Mille millions de mille milliards de mille sabords!"
Wowww.... Um alip bisa menjelaskannya dengan gamblang dan pemilihan kata yang tepat,,,,
Saya jadi belajar banyak... Ayo tulis lagi dunk om... Thankyou um [MENTION=249]Alip[/MENTION] ...