[MENTION=62]eve[/MENTION],
Oooo....
kekerasan yang dimaksud sama eve itu yang itu toooo...
...
...
ahem
...
...
#cuci muka dulu...
...
...
ok, beginih....
***
Pertama, ini kita bahasnya dengan asumsi bahwa kekerasan bukan hal yang wajar dan boleh dilakukan loh ya... soalnya ada yang menafsirkan teks keagamaan sedemikian rupa sehingga beranggapan bahwa laki-laki boleh memukul perempuan... kalau itu 'mah lain cerita.
Lalu...
Apa yang menyebabkan laki-laki bersikap kasar terhadap perempuan yang mereka cintai... ?
Banyak orang berteori soal ini, dari yang psikologi klinis, sosial, kedokteran, antropologi, dan sebagainya. Tapi karena banyaknya ilmu tidak otomatis membuat orang jadi bijaksana (makanya jangan merasa minder kalau dibilang kita tidak punya banyak ilmu), kita lihat dari keseharian kita saja ya?
Laki-laki yang saya kenal suka bersikap kasar terhadap istrinya biasanya punya masalah dengan rasa inferior/minder. Baik disadari maupun tidak. Ada yang hasil dari ideologi keliru di masa kecil, ada yang karena merasa kurang 'perkasa', kurang 'kaya' dan sebagainya. Setiap kali hal-hal itu disentuh, jadilah emosinya meledak. Dan karena umumnya laki-laki tidak diajari untuk menyalurkan emosi melalui cara yang lebih sosial, seperti curhat, nangis, atau nyanyi... (nyanyi??) ... jadilah dia menyalurkan ledakan itu dengan cara yang lebih dia kenal, yaitu main kasar (begitulah anak laki-laki dibesarkan).
Bisakah ledakan amarah itu sampai mengalahkan cinta?
Tentu saja bisa, yaitu kalau rasa mindernya sedemikian kuat.
Jadi kalau kita perhatikan masalah KDRT, sesungguhnya ini adalah masalah ketidak-mampuan si laki-laki untuk mengatasi rasa tidak PeDe-nya sendiri. Juga sampai batas tertentu, ketidakmampuan si perempuan untuk membantu si laki-laki menemukan harga dirinya (kalau bukan malah membuat tambah parah dengan membandingkan 'kinerja' si suami melawan 'kinerja' suami tetangga).
Semua kekerasan berakar pada ego yang terluka. Orang yang dalam keseharian biasa bersikap kasar, kalau diskusi sukanya PA, apalagi sampai main fisik, biasanya memiliki cedera batin atau kebutuhan yang tidak terpenuhi. Makanya di signature saya di bawah tuh, khusus soal bedanya orang yang bersikap kasar dan mampu bersikap baik.
Jika masih pada tahap ringan, kekerasan dalam rumah tangga bisa diatasi dengan komunikasi yang baik. Laki-laki tidak perlu sungkan untuk menggunakan kosakata yang bermuatan 'perasaan' yang umumnya digunakan oleh perempuan, karena dengan cara seperti itu mereka bisa berkomunikasi dalam bahasa yang sama. Saya sendiri punya formula di bawah kalau bicara dengan istri:
perasaan + sebab + kebutuhan + permintaan
Misalnya,
"Aku belakangan ini sering kesepian, soalnya kamu ngurusi kamera terus sepanjang malem sesudah anak-anak tidur. Boleh nggak aku minta ditemenin ngobrol nanti malem?"
Saya belajar lumayan lama untuk bisa menggunakan kalimat macam itu, sebelumnya sih bunyinya, "kamera melulu... akunya dicuekin terus!!!".
Sedangkan istri kayaknya natural saja menggunakan kalimat macam itu. Kalau saya keseringan lembur dan dia minta saya pulang lebih cepat, dia malah menambahkan "Mas, aku boleh ganggu dulu gak?", untuk menjaga ego saya (men's work is his ego).
Tapi kalau memang ada cacat parah, sebaiknya minta bantuan terapis... atau polisi sekalian...
Nah jadi gitu, eve... nikahilah adam yang gak minderan... (tapi taunya gimana cobak???)
---------- Post Merged at 10:07 AM ----------
Husj... salah kaprah ituuuu... tidak perlu cinta untuk jadi keras...
Malah kalau bener-bener cinta, kerasnya agak susah... paling tidak di awal...![]()
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)








).
Reply With Quote








