Tanpa bermaksud meremehkan ikatan hubungan pasangan suami-istri, menurutku kehilangan seorang anak yg pernah dikandung dan dibesarkannya itu ndak kalah berat guncangan batinnya bagi seorang ibu.
So, bagaimanapun...
Nasi udah menjadi lontong. Makam Uje udah dipugar.
Kira2 sebaiknya bagaimana langkah selanjutnya? Apakah tetap dibiarkan seperti bentuknya yg sekarang? Ataukah dibongkar lalu dikembalikan ke bentuk semula? Ataukah kalo ada jalan tengah, seperti apakah itu bentuknya?
Kalo pendapat saya pribadi sih, apapun langkah yg dipilih, sebaiknya dibicarakan dan disepakati scr legowo antara kedua belah pihak, artinya jgn sampe ada salah satu pihak yg nantinya merasa 'kalah dan tersakiti', baik itu pihak mertua (ibu alm) maupun menantu (istri alm).
Dan kalopun ada pihak ketiga yg dilibatkan (misalnya MUI) sebaiknya hanya bersikap sbg mediator yg netral ndak berpihak agar hubungan kedua belah pihak ke depannya tetap terjaga dgn baik. Yg jelas jgn pernah libatkan pihak media impotenmen lagi untuk ikut campur. Silence is golden alias 'no komen' dlm hal ini adalah sikap terbaik kalo menghadapi media.
Kalo tidak, ujung2nya ya anak2 alm jugalah yg malah akan 'menanggung beban' kedepannya akibat ketidakharmonisan hubungan yg mungkin timbul antara emaknya dgn keluarga neneknya.
Tapi kalo memang dasarnya kedua belah pihak cuman pengin cari sensasi lewat media impotenmen yo wis itu juga hak mereka. Saya cuman bisa bilang: Kebangetan!
![]()
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)



Reply With Quote