Results 1 to 10 of 10

Thread: Kuburan/Pemakaman dlm ajaran ISLAM

  1. #1

    Kuburan/Pemakaman dlm ajaran ISLAM

    Dear pelanggan


    Terinspirasi dari heboh bangunan makam alm. Ustadz Jefri Al-Bukhori
    sebenarnya adab/ketentuan pemakaman itu diatur gak sih dlm ajaran islam?
    jika diatur, harusnya spt apa dan dasarnya apa?

    Menilik di jazirah arab (khususnya arab Saudi) yng notabene menjalankan syariat islam
    fenomena makam atau kuburan umum tidak gitu2 amat (bahkan batu nisanpun gak ada)
    cmiiw.

    Jadi, fenomena kuburan di Indonesia itu merujuk ke ajaran islam atau
    katakanlah semacam buah akulturisasi dng budaya lokal atau nilai2
    dari ajaran lain?

    bagi yng memiliki refrensi silakan dishare untuk menghangatkan lapak ini

    monggo .......
    mbregegeg ugeg-ugeg hemel-hemel sak dulito

  2. #2
    pelanggan tetap Asum's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    1,217
    أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا ؟ فَإِنَّمَا شَفَاءُ الْعِيِّ السَّؤَالُ
    ”Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengerti ? Sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya” (Sunan Abu Dawud no.336)

  3. #3
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Buah akulturasi lokal om. Dri budaya asli nusantara yg menghargai orangtua-sesepuh-nenek moyang.

  4. #4
    Banned
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    https://t.me/pump_upp
    Posts
    2,004
    nah meninggikan makam jelas adalaha tidak boleh... gmn dengan nisan kop asum? apakah itu termasuk meninggikan makam??

  5. #5
    Quote Originally Posted by sedgedjenar View Post
    Buah akulturasi lokal om. Dri budaya asli nusantara yg menghargai orangtua-sesepuh-nenek moyang.
    nah kan?
    sayapun cenderung berpendapat bhw hal tsb buah akulturisasi dng kepercayaan lain
    demikian jg dng makam wali/tokoh yng dihormati, klo menurut kutipan riwayat artikel [MENTION=17]Asum[/MENTION]
    jadinya berlebihan jg kan?

    anehnya, para ustadz pendukung pembangunan makam uje justru menjadikan
    makam para wali sbg contoh untuk diikuti, apa gak salah kaparah tuh?
    mbregegeg ugeg-ugeg hemel-hemel sak dulito

  6. #6
    pelanggan setia eve's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    4,120
    Jelas salah kaprah...

    Mungkin mereka dilenakan dengan sorotan dan nama besar...

  7. #7
    Chief Cook GiKu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    10,315
    kelakuan pedagang kijing

  8. #8
    pelanggan tetap
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    1,352
    Baca somewhere, cuma judl doang. Dinas pemakamamn udah kirim surat ke keluarga uje.

    Paling persoalan makam. Mendingan pindah aja ke pesantrenya. Denger2 uje punya pesantren ya? Nah, mending dibikin megahnya disana aja.

  9. #9
    [MENTION=203]sedgedjenar[/MENTION]

    sebenernya, mao dikubur dimanapun tdk masalah
    inti dari topik adlh mendiskusikan spt apa sih cara pemakaman menurut ajaran islam?
    mbregegeg ugeg-ugeg hemel-hemel sak dulito

  10. #10
    pelanggan tetap Asum's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    1,217
    Quote Originally Posted by hajime_saitoh View Post
    nah meninggikan makam jelas adalaha tidak boleh... gmn dengan nisan kop asum? apakah itu termasuk meninggikan makam??
    Meninggikan dimaksud jika melebihi 1 jengkal, maka itu tidak boleh.

    حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُقَاتِلٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ سُفْيَانَ التَّمَّارِ أَنَّهُ حَدَّثَهُ أَنَّهُ رَأَى قَبْرَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسَنَّمًا
    Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqatil, telah mengabarkan kepada kami 'Abdullah, telah mengabarkan kepada kami Abu Bakr bin Iyyas, dari Sufyan At-Tammar, dia menceritakan bahwa dia melihat kubur Nabi saw seperti punuk (HR. Bukhari no.1390, no.1302 versi Lidwa)


    Terkait nisan, maka hal ini termasuk yang dibolehkan sesuai hadits berikut : Sunan Abu Dawud no.2791-versi Lidwa-, selama bertujuan untuk memberikan tanda di antara kubur lainnya.

    حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ نَجْدَةَ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ سَالِمٍ ح و حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ الْفَضْلِ السِّجِسْتَانِيُّ حَدَّثَنَا حَاتِمٌ يَعْنِي ابْنَ إِسْمَعِيلَ بِمَعْنَاهُ عَنْ كَثِيرِ بْنِ زَيْدٍ الْمَدَنِيِّ عَنْ الْمُطَّلِبِ قَالَ لَمَّا مَاتَ عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونٍ أُخْرِجَ بِجَنَازَتِهِ فَدُفِنَ فَأَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا أَنْ يَأْتِيَهُ بِحَجَرٍ فَلَمْ يَسْتَطِعْ حَمْلَهُ فَقَامَ إِلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَحَسَرَ عَنْ ذِرَاعَيْهِ قَالَ كَثِيرٌ قَالَ الْمُطَّلِبُ قَالَ الَّذِي يُخْبِرُنِي ذَلِكَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِ ذِرَاعَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ حَسَرَ عَنْهُمَا ثُمَّ حَمَلَهَا فَوَضَعَهَا عِنْدَ رَأْسِهِ وَقَالَ أَتَعَلَّمُ بِهَا قَبْرَ أَخِي وَأَدْفِنُ إِلَيْهِ مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِي
    Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab bin Najdah telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Salim, dan telah diriwayatkan dari jalur yang lain: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Al Fadhl As Sijistani telah menceritakan kepada kami Hatim bin Isma'il dengan maknanya; dari Katsir bin Zaid Al Madani, dari Al Muththalib, ia berkata; tatkala Utsman bin Mazh'un meninggal maka jenazahnya dikeluarkan dan dikuburkan. Kemudian Rasulullah saw memerintahkan seseorang agar datang kepadanya membawa batu, namun ia tidak mampu membawanya. Kemudian beliau pergi menuju batu tersebut dan menyingsingkan kedua lengannya. -Katsir berkata; Al Muththalib berkata; telah berkata orang yang mengabarkan hal tersebut kepadaku dari Rasulullah saw; sepertinya aku melihat putih kedua lengan Rasulullah saw ketika beliau menyinsingkan keduanya. Kemudian beliau membawanya dan meletakkannya di sisi kepalanya. Beliau berkata: aku memberi tanda kubur saudaraku dengannya dan kepadanya aku menguburkan keluargaku yang meninggal (Sunan Abu Dawud No.3206, Syaikh Mahiyuddin 'Abdul Hamid mengatakan -pentahqiq kitab- hadits ini derajatnya "Hasan", Ibnu Majah no.1550 versi Lidwa)
    Last edited by Asum; 04-12-2013 at 04:24 AM.
    أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا ؟ فَإِنَّمَا شَفَاءُ الْعِيِّ السَّؤَالُ
    ”Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengerti ? Sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya” (Sunan Abu Dawud no.336)

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •