@nudel: i know it's a joke bro, santaiii *pikunya


gw belum punya anak, dan tidak mengeneralisasi keluarga manapun.

dalam kasus yang menjadi topik utama posting #1 kan kontrol orang tua yang sudah tidak wajar, memberi kebebasan, dalam hal ini mobil en 'ijin' setir.
Oleh itu gw bilang, orangtua perlu menggali lagi info parenting, entah itu dari sumber media, guru, maupun sesama ibu-ibu. Karena, ada sekolah buat anak, tapi ga ada sekolah khusus buat orang tua.
bisa saja hal yang kita anggap di luar kewajaran, oleh karena kesibukan, pola hidup, atau kebiasaan masing-masing malah dianggap hal yang biasa atau ga masalah...yang ternyata ngejerumusin anak (kayak contohnya mbok, anak tetangga pada berkeliaran naik motor padahal kakinya aja belum mantap nahan motor via jejakin tanah)
Jadi kontrol orangtua yang menurut gw peran yang besar. Bukan juga bermaksud nyalahin orang tua. Kesian juga dikit2 anak bermasalah, orangtua yang kena, padahal orangtua kan mengupayakan kehidupan anak ga cuma dari satu atau dua segi, mis: ekonomi, dll
tapi selama mereka masih anak, masih dibawah pengawasan ortu, dan imho sih emang yang ditekankan dalam artikel ya peran orang dewasa (ortu/guru).

gw sih menangkapnya bahwa sebagai orang yang menangani anak (baik orangtua/guru) ya memang harus terus belajar supaya bisa mengajari.

---------- Post Merged at 09:24 PM ----------


@nudel: i know it's a joke bro, santaiii *pikunya


gw belum punya anak, dan tidak mengeneralisasi keluarga manapun.

dalam kasus yang menjadi topik utama posting #1 kan kontrol orang tua yang sudah tidak wajar, memberi kebebasan, dalam hal ini mobil en 'ijin' setir.
Oleh itu gw bilang, orangtua perlu menggali lagi info parenting, entah itu dari sumber media, guru, maupun sesama ibu-ibu. Karena, ada sekolah buat anak, tapi ga ada sekolah khusus buat orang tua.
bisa saja hal yang kita anggap di luar kewajaran, oleh karena kesibukan, pola hidup, atau kebiasaan masing-masing malah dianggap hal yang biasa atau ga masalah...yang ternyata ngejerumusin anak (kayak contohnya mbok, anak tetangga pada berkeliaran naik motor padahal kakinya aja belum mantap nahan motor via jejakin tanah)
Jadi kontrol orangtua yang menurut gw peran yang besar. Bukan juga bermaksud nyalahin orang tua. Kesian juga dikit2 anak bermasalah, orangtua yang kena, padahal orangtua kan mengupayakan kehidupan anak ga cuma dari satu atau dua segi, mis: ekonomi, dll
tapi selama mereka masih anak, masih dibawah pengawasan ortu, dan imho sih emang yang ditekankan dalam artikel ya peran orang dewasa (ortu/guru).

gw sih menangkapnya bahwa sebagai orang yang menangani anak (baik orangtua/guru) ya memang harus terus belajar supaya bisa mengajari.

---------- Post Merged at 09:30 PM ----------

Duh, merasa tertohok bacanya.
Soalnya, pengalaman pribadi.
Klo disuruh jagain ponakan atau anak temen or anak orang, supaya simple biar ga rewel memang suka gw kasih nnton tv, or main gadget...(anak jaman skrg mainannya ud touchscreen ya..ga kayak kita dulu)
Nggak nyangka deh, yg simple kayak gitu aja trnyata punya impact gede bgt buat psikologisnya mereka. duh kacian.
Gw juga suka liat temen2 gw yg ngasuh anaknya, kalo rewel suka dikasih TV atau tablet.
Padahal sih TV itu nggak menyelesaikan masalah, tapi cuman men-distract anak spy lupa sama “alasan utama” kerewelannya yah...
Itulah... yg tua2 ini mnurut gw ikut bersalah krn yg pertama bikin anak2 mereka ke “distract”
Padahal biasanya anak rewel krn minta perhatian aja. Diajak ngobrol juga selesai.
Tapi kita yg suka nyari jalan pintas,
Biar nggak capek.
What a selfish human being.
iya, klo kata salah satu konsultan anak khusus bagi orangtua anak bu cynthia *er..saya lupa ini dari mana, padahal seminarnya baru bulan lau
kebanyakan orangtua memang memilih memberi anak ipad supaya mereka bisa melakukan hal yang lain
cara paling simpel dan efektif agar perhatian anak teralihkan sementara, tapi emang efeknya anak ga ter-connect dengan kondisi dunia nyata
it robs them from empathy, time management, and mostly social skills

memang bagusnya sih ikut terjun terlibat sama anak, tapi capeknya itu looh
apalagi yang tipe 'ngerjain semua sendiri'