Page 1 of 2 12 LastLast
Results 1 to 20 of 40

Thread: si Dul, by Rhenald Kasali

Hybrid View

Previous Post Previous Post   Next Post Next Post
  1. #1
    Barista AsLan's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9,288

    si Dul, by Rhenald Kasali

    KITA tentu tak menyangka bagaimana mungkin seorang bocah berusia 13 tahun sudah dilepas membawa mobil sendiri pada tengah malam.

    Memang ia ditemani seseorang, tetapi ia juga masih terbilang bocah. Bukan mengemudi di dekat rumah dengan pengawasan orangtua, melainkan di jalan tol, menempuh jarak yang terbilang jauh. Dan apesnya, enam orang tewas, dan beberapa anak langsung menjadi yatim piatu.

    Ini tentu sangat memprihatinkan. Namun setiap kali melihat bagaimana masyarakat mendidik anak-anak, saya sebenarnya sangat khawatir. Tak dapat dipungkiri, tumbuhnya kelas menengah telah menimbulkan gejolak perubahan yang sangat besar.

    Namun reaksinya sangat ekstrem: Yang satu mengekang habis anak-anak dengan dogma, agama dan sekolah sehingga melahirkan anak-anak alim yang amat konservatif, yang satunya memberi materi dan servis tiada batas, sehingga menjadi amat liberal.

    Di segmen atas anak-anak diberikan mobil, di bawah menuntut dibelikan sepeda motor meski usianya belum 17 tahun. Kebut-kebutan menjadi biasa, korban pun sudah sangat sering berjatuhan. Karena mereka bukan siapa-siapa maka kecelakaan dan kematian yang ditimbulkan tidak masuk dalam orbit media massa. Kematian yang ditimbulkan Dul mengirim sinyal penting bagi kita semua.

    Business class
    Di pesawat terbang, mungkin hanya di Indonesia, Anda bisa menyaksikan keluarga-keluarga muda membawa anak-anaknya duduk di kelas bisnis. Dua orang baby sitter, duduk sedikit di belakang, tak jauh dari batas kelas eksekutif mengawal anak-anak yang sudah bukan bayi lagi itu. Di masa liburan, bukan hal aneh menemukan keluarga menunggu di business lounge, dan naik pesawat dengan tiket termahal.

    Sayang sekali, cara makan anak-anak belum dididik layaknya kelas menengah. Berteriak-teriak di antara kalangan bisnis, makan tercecer di jalan, dan di atas pesawat memperlakukan pramugari seperti pembantunya di rumah. Sebentar-sebentar bel dipijit, dan pramugari bolak-balik sibuk hanya melayani dua orang kakak-beradik yang minta segala layanan. Menjelang tiba di tujuan, orangtua baru mulai menyentuh anak-anaknya, dibantu baby sitter yang terlihat gelisah. Orangtua mereka umumnya adalah pemilik areal pertambangan, pedagang, atau ada juga seleb-seleb muda yang belakangan banyak bermunculan. Ayah dan ibu memilih tidur.

    Jarang ditemui percakapan yang memotivasi, atau mengajarkan sikap hidup. Paling banter, mereka bermain video game, dari iPad yang dibawa anaknya. Padahal di luar negeri, iPad adalah alat kerja eksekutif yang dianggap barang mewah. Kesulitan orangtua tentu bukan hanya berlaku bagi kelas menengah saja. Di taman kanak-kanak yang diasuh istri saya di Rumah Perubahan, di tengah-tengah kampung di dekat Pondok Gede hal serupa juga kami temui. Belum lama ini sepasang suami-istri menitipkan anaknya untuk sekolah di tempat kami, dan setelah mengecek status sosial-ekonominya, anak itu pun diputuskan untuk diterima.

    Namun ada yang menarik, setelah diobservasi, anak berusia lima tahun itu seperti belum tersentuh orangtuanya. Ia seperti rindu bermain, motorik halus dan kasarnya belum terbentuk, jauh tertinggal dari teman-teman sebayanya. Setelah dipelajari dan orangtua diajak dialog, kami menjadi benar-benar paham pergolakan apa yang tengah terjadi dalam masyarakat kita. Orangtua selalu mengatakan, “Saya bekerja keras untuk menyiapkan masa depan anak-anak. Saya juga sering mengajak mereka berlibur”. Namun, anak-anaknya menyangkal semua pemberian itu.

    Faktanya, anak-anak tak terbentuk. Sikap sosialnya, termasuk modal dasar yang disebut para ahli pengembangan anak sebagai executive function dan self regulation tidak terbentuk. Orangtua hanya fokus pada kemampuan anak berhitung dan membaca. Padahal, mereka juga harus pandai mengelola “air traffic control” yang ada dalam pikiran anak-anaknya agar kelak mampu menjadi insan mandiri yang bertanggung jawab.

    Executive function
    Anak-anak kita menghadapi dunia baru yang benar-benar berbeda dengan kita, sehingga mudah sekali “berpaling” dari hal-hal rutin seperti sekolah dan belajar. Mereka hidup dalam dunia yang penuh dengan “gangguan” (distraction) seperti sosial media dan telekomunikasi yang saling bersahutan. Kita semua akan sangat kesulitan menjaga dan membimbing anak-anak kita bila modal dasar executive function tidak ditanam sejak dini. Apalagi bila sekolah hanya fokus pada angka dan huruf, seakan-akan pengetahuan dan rumus adalah segala-galanya.

    Menurut berita yang saya baca, Dul ternyata sudah sejak Juni lalu tak sekolah. Saya tak tahu tentang kebenaran berita ini. Tetapi Minggu dini hari dia masih mengendarai mobil, mengantar pacar lewat jalan tol, tentu mengindikasikan anak itu (ini juga bisa terjadi pada anak-anak kita, bukan?) telah hidup dalam abad distraction, sulit untuk fokus sekolah dan belajar. Studi-studi tentang executive function dalam child development antara lain banyak bisa kita temui dalam buku dan video yang diberikan psikolog-psikolog terkemuka, seperti Ellen Galinsky dan Debora Philip.

    Mereka menemukan, di abad ini, anak-anak perlu mendapat fondasi hidup yang jauh lebih penting dari sekadar tahu angka dan huruf. Anak-anak itu perlu dilatih tiga hal: Working memory, Inhibitory control, dan Mental flexibility. Ketiga hal itulah yang akan membentuk generasi emas yang bertanggung jawab dan produktif. Mereka sedari dini perlu dibentuk cara bekerja yang efektif, fokus, tahu dan bekerja dengan aturan, sikap positif terhadap orang lain, mengatasi ketidaknyamanan, dan permintaan yang beragam, serta cara mengelola informasi yang datang bertubi-tubi.

    Pikiran mereka dapat diibaratkan menara Air Traffic Control di Bandara Cengkareng dengan ratusan pesawat yang datang dan pergi, semua berebut perhatian dengan sejuta masalah yang harus direspons cepat. Maka itu, masalah Dul bukanlah sekadar masalah Ahmad Dhani yang menjadi seleb, atau masalah keluarga broken home. Ini adalah masalah kita bersama, masalah yang dihadapi anak-anak kita. Dari kita yang tidak fokus dan sibuk mencari uang atau mengurus orang lain. Kita yang dibentuk oleh sistem pendidikan model revolusi industri yang masih berpikir cara lama.

    Ditambah guru-guru yang juga banyak tidak fokus, tidak paham problem yang dihadapi generasi baru, yang punya ukuran kecerdasan menurut versi mereka sendiri, dalam model persekolahan yang materialistis dan old fashion. Sekolah yang menjenuhkan dan tidak membuka fondasi yang diperlukan anak-anak sehingga mereka lari dari rutinitas.

    Ini pun sama masalahnya dengan orangtua yang lari dari dunia nyata dan berlindung dalam benteng-benteng dogma dengan menyembunyikan anak dari dunia riil ke tangan kaum konservatif yang menjadikan anak hidup dalam dunia yang gelap dan steril. Anak-anak kita perlu pendekatan baru untuk menjelajahi dunia baru. Mereka perlu dilatih keterampilan-keterampilan hidup, fokus dan selfregulations, menjelajahi hidup dalam aturan, yang ditanam sedari usia dini.

    RHENALD KASALI
    Pendiri Rumah Perubahan

  2. #2
    Barista kupo's Avatar
    Join Date
    Dec 2012
    Location
    Jog Ja karta
    Posts
    3,850
    saya setuju sama pendapat pak Rhenald..

  3. #3
    ★★★★★ itsreza's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    10,216
    KM merupakan salah satu produk abad gangguan. Jangankan diakses
    anak-anak, situs ini diakses dewasa yang telah berkembang dan tahu
    cara bekerja efektif pun tetap dapat mengurangi produktivitas.

  4. #4
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    Quote Originally Posted by itsreza View Post
    KM merupakan salah satu produk abad gangguan.
    ntah bagaimana dengan yang laen
    yang pasti saya sendiri juga merasa produk abad gangguan. kerasa banget attention span saya cukup pendek. sangat mudah terganggu (distracted) dan susah fokus.

  5. #5
    pelanggan setia TheCursed's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    3,231
    Naaaa....h.
    Gue ngga' nyalahin internet(atau KM).
    Gue emang udah di curigai ADHD sejak jaman gue SD.
    A proud SpaceBattler now.

  6. #6
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    saya liat sodaraku juga ada yang begitu, malah lebih parah. susah diajak ngomong mata ke mata, karena pandangan dan perhatian dia sering teralih ke hal2 laen (seperti gadget, dll), menjawab pun seperti tidak fokus mendengar. padahal dulu kecil ngga begitu, jadi saya tau itu bukan adhd.

    saya sedikit begitu juga, walo dengan cara yang berbeda (saya masih bisa tetep menjaga pandangan mata kalo berbicara), tapi kadang kurang bisa fokus dengan isi. dan bahkan saat beraktivitas yang laen, juga kurang bisa fokus. dan saya menyalahkan teknologi juga

  7. #7
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    teknologi itu bagai pisau bermata dua.
    saya pribadi juga kadang teralihkan gara2 gedget. emang butuh selfcontrol yang besar untuk tetap fokus. harus punya aturan main sendiri.
    misal kapan aku harus fokus main sama anak2. kapan harus fokus belajar,kapan aku punya "me time" dlsb
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  8. #8
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    nah itu keywordnya, self control teori sih udah ada, tapi disiplin yang ga ada

    eh tapi buatku kadang diluar disiplin aja lho. biarpun saya sudah 'disiplin' melakukan aktivitas itu, tapi masih susah fokus. misalnya contoh tadi, saat berbicara dengan orang, saya dengan sadar membuat keputusan untuk tetep mendengarkan dan memperhatikan (at least saya kelihatan seperti itu), tapi internally saya tau perhatiannya kurang bisa dipertahankan. dan ini tidak hanya untuk aktivitas berbicara aja ya, kadang hal2 laen juga begitu. perhatian sangat mudah teralihkan.

  9. #9
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,958
    Penyakitnya pada samaan ya

    Pas kerja kudu nyabar2in hati supaya nggak buka KM sering-sering, kalo nggak target bakal meleset lalu malah tambah susah recovery.
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  10. #10
    pelanggan setia Porcelain Doll's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    6,347
    nah kalo gitu tadi g udah lumayan berhasil ya berkonsentrasi
    nyaris 8 jam sibuk ngurusin kue tanpa teralihkan sama gadget
    paling lirik tv bentar, tapi tangan masih utak-atik kue
    Popo Nest

  11. #11
    juragan kopi noodles maniac's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    Noodle Cafe
    Posts
    15,927
    Rhenald Kasali emang top

    Setuju banget sama yang ini..

    Anak-anak kita menghadapi dunia baru yang benar-benar berbeda dengan kita, sehingga mudah sekali “berpaling” dari hal-hal rutin seperti sekolah dan belajar. Mereka hidup dalam dunia yang penuh dengan “gangguan” (distraction) seperti sosial media dan telekomunikasi yang saling bersahutan.
    Anak-anak itu perlu dilatih tiga hal: Working memory, Inhibitory control, dan Mental flexibility. Ketiga hal itulah yang akan membentuk generasi emas yang bertanggung jawab dan produktif. Mereka sedari dini perlu dibentuk cara bekerja yang efektif, fokus, tahu dan bekerja dengan aturan, sikap positif terhadap orang lain, mengatasi ketidaknyamanan, dan permintaan yang beragam, serta cara mengelola informasi yang datang bertubi-tubi.
    Jika menurutmu hidup ini tidak menarik, maka buatlah hidupmu semenarik mungkin - Shinsaku Takasugi

    Impossible is nothing!

  12. #12
    pelanggan setia Bi4rain's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Location
    Neverland
    Posts
    2,539
    parenting skill itu perlu dipupuk. Kadang memang orang tua, sudah ditambah kesibukan bekerja, ga didukung pula dengan pengetahuan tentang pendidikan perkembangan anak.
    Dengan artikel ini, gw jadi pengen state ke para parents supaya lebih sering ikutan seminar pendidikan anak atau seminar parenting buat cari info juga tentang pengasuhan anak yang benar.
    miris juga sih sekarang, emang bener yang diomongin, anak pada dikasih pembantu klo ga yaaa...daripada ganggu kesibukan malah dikasih gadget aja.
    ga berkembang dong sebagai manusia yang utuh.
    A kid at heart

  13. #13
    pelanggan setia mbok jamu's Avatar
    Join Date
    Oct 2012
    Posts
    3,417
    Hmm.. mbok koq pesimis ya. Sering baca tulisan-tulisan cerdas seperti ini tapi mbok ndak melihat perubahan ke arah itu. Orangtua sekarang sepertinya yakin that their kids will be just fine, regardless. Dan ndak hanya di kota-kota besar dan anak-anak kelas menengah, di kampung pun mbok lihat sendiri anak-anak kecil sudah mengendarai motor tanpa helm, kakinya saja belum bisa nginjek tanah sangkin kecilnya. Di mana-mana seperti ndak ada common sense lagi. CMIIW.

  14. #14
    pelanggan setia Bi4rain's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Location
    Neverland
    Posts
    2,539
    Quote Originally Posted by mbok jamu View Post
    Hmm.. mbok koq pesimis ya. Sering baca tulisan-tulisan cerdas seperti ini tapi mbok ndak melihat perubahan ke arah itu. Orangtua sekarang sepertinya yakin that their kids will be just fine, regardless. Dan ndak hanya di kota-kota besar dan anak-anak kelas menengah, di kampung pun mbok lihat sendiri anak-anak kecil sudah mengendarai motor tanpa helm, kakinya saja belum bisa nginjek tanah sangkin kecilnya. Di mana-mana seperti ndak ada common sense lagi. CMIIW.
    itu sebabnya klo mau bina anak harus mulai dari ortu-nya dulu...
    A kid at heart

  15. #15
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,681
    mungkin gaji babysitter perlu dinaekkan
    dengan demikian ortu bakal mikir2 dulu sebelum hire babysitter, and perhaps handle anak sendiri

  16. #16
    Barista AsLan's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9,288
    handle anak sendiri sambil main bb... mending pake suster

  17. #17
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    Quote Originally Posted by AsLan View Post
    handle anak sendiri sambil main bb... mending pake suster
    gw pegang anak sendiri, sambil masak, sambil pegang hp, sambil bersih2 rumah, sambil bawa motor. salah?

  18. #18
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    lipet2 aja si aslan bun
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  19. #19
    ★★★★★ itsreza's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    10,216
    jadi siapa yang salah terus kenapa dia salah?

  20. #20
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,958
    Quote Originally Posted by itsreza View Post
    jadi siapa yang salah terus kenapa dia salah?
    Kurang kereatif nih, one linernya kopi paste dari tret lain
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

Page 1 of 2 12 LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •