- K – L – A – T – E – N -
Kamis, pukul 22.30wib aku sampai klaten, travelku berhenti di depan rumah tante ira. Umi sudah menungguku di depan teras rumah tante ira. Kupeluk umi dan kucium punggung tangannya.
“assalamualaikum wr wb umi… sehat mi?” tanyaku sama umi.. duh, melihat mata umi, air mataku ingin menetes lagi… dan tanpa bisa kutahan, air mataku menetes. Umi tersenyum sambil mengusap air mataku.
“kamu itu lo ve.. masih aja kebiasaan lama… nangis gak pakai isak.. umi sehat ve.. ayo masuk,. Semua udah beres?” Tanya umi
“iya mi.. beres kok.. tuh di koper.. salam dari mas arya, katanya mas arya mau datang besok malam.. terus bareng2 ke solo. Semuanya udah ve siapin mi, cincin, baju, souvenir juga jadinya dititipin ke ve… “ Jelasku pada umi
“iya iya.. ayo masuk dulu.. istirahat.. tante ira masih sibuk ngurus catering. Belum pulang juga.. mungkin bentar lagi.. kamu istirahat dulu ya ve.. “ ucap umi. Aku mengangguk dan masuk ke kamar yang biasanya kami pakai kalau berlibur di rumah tante ira. Kulirik pintu kamar mas arya… sayang mas arya belum bisa pulang.. kamar itu pasti kosong…
Aku masuk ke kamar dan membersihkan diri, kurebahkan diriku di ranjang, umi masih sibuk mengurus di luar. Kudengar sayup2 suara tante ira, mungkin tante ira sudah pulang. Aku memejamkan mataku, mencoba menghalau penat.
Dulu, setiap aku tidur di kamar ini, aku selalu berdebar2 karena ada mas arya yang tidur di kamar sebelah. Dulu waktu kecil kami selalu bermain berdua, mas arya selalu melindungiku, selayaknya kakak dan adik. Umi dan tante ira teman sejak sma, mereka akrab sekali. Bahkan sebenarnya mereka sudah menjodohkan aku dan mas arya, berharap bisa menjadi besanan… namun masa siti nurbaya telah lewat, mereka pun menyadarinya. Mereka tidak mengatakan apa apa padaku dan mas arya, mereka hanya berharap kalau saja kami berdua berjodoh. Namun, ternyata harapan mereka dan harapanku karam… mas arya sudah memilih mbak dian daripada aku.
Lagi2 air mataku menetes dari mataku yang terpejam. Ya Rabb… hatiku sakit sekali… kenapa bukan aku ya Rabbi???
==
Kala itu aku sedang sibuk ikutan memasak di dapur saat kabar itu datang. Umi mencariku dengan tergopoh2 dan muka yang keliatan bingung, sedih, pias…
“ve…”panggil umi. Aku mendekati umi, mengamati muka umi yang ikut membuatku khawatir.
“ada apa umi? Kenapa umi aneh?” tanyaku sembari menenangkan umi dengan mengelus punggungnya.
“ve.. masmu ve… arya…” ucap umi terbata..
“iya mi.. tarik nafas dulu… baru umi pelan2 bicaranya ya..” kataku menenangkan umi, padahal hatiku hancur berkeping… pasti ada kabar buruk mengenai mas arya. Semoga mas arya tidak apa2.. semoga semua ini hanya kesalahpahaman saja.
“ mas aryamu ve… kecelakaan dalam perjalanan kemari. Barusan ada telepon dari polisi, sekarang masmu sedang dibawa ke rumahsakit tegal, bersama korban kecelakaan lainnya..” kata umi menahan isak.. aku hampa..
Aku berputar otak, mencari jalan apa yang harus aku ambil. Aku tidak boleh bingung, aku harus kuat. Aku harus bisa! Aku pasti bisa!
“umi, mbak dian sudah dikabari?”tanyaku mencoba tenang
“dian? Dian itu siapa nduk?” Tanya umi bingung, saking bingungnya, umi pasti lupa nama calon istri mas arya. Sepertinya aku punya nomor mbak dian di hapeku.
“mbak dian itu calon istrinya mas arya mi, aku coba hubungin beliau ya.. umi duduk dulu.” Jawabku sembari meminta tolong mbak pembantu tante ira mengambilkan umi air putih. Kudengar sayup2 suara tante ira menangis meronta.. beliau pasti terpukul, tapi aku harus menghubungi mbak dian dulu. Baru kemudian aku coba menghibur tante ira. Aku masuk ke kamar dan mengambil hapeku, kucari nomor hape mbak dian lalu ku dial.
“assalamualaikum mbak..” ucapku saat diangkat. Air mataku sudah deras mengalir di pipiku.. Ya Rabb.. Tolong kuatkan mbak dian..
“ waalaikumsalam wr wb de.. ada apa de? Mas arya sudah sampai rumah de?”Tanya mbak dian
“itulah mbak.. sabar ya mbak,,, kata umiku, tadi ada telepon dari kepolisian mengabarkan bahwa mas arya kecelakaan dan sedang dibawa ke rumah sakit tegal mbak.. “ucapku semakin melirih..air mataku tak jua berhenti..
“apa de? De dive Cuma bercanda kan de? Gak mungkin… hal ini tidak mungkin terjadi de….” Ucap mbak dian sembari suaranya menjauh, tangis mulai menganak sungai.. kututup hapeku, mungkin mbak dian sedang menangis meraung2.
Aku beranjak mencari tante ira. Kulihat umi disamping tante ira dan om burhan mereka mencoba menenangkan tante ira.
“tante.. dive pamit nyusul mas ary ke tegal ya.. biar dive cari tahu keadaan mas arya. Siapa tahu gak parah.. hanya hapenya yang rusak dan tidak bisa dihubungi” pamitku. Aku tidak bisa berdiam diri dan menunggu kabar saja. Tante ira dan om burhan awalnya menolak, takut aku kenapa2.
“ve, bawa mobil umi aja ya. Biar diantar ama pak hadi, sopir umi. Ra, burhan.. biarkan saja ve melihat kondisi arya. Aku yakin ve tahu yang terbaik apa yang harus dilakukan. Kita tunggu kabar dari ve dulu. “ ucap umi mendukung keputusanku. Aku mengangguk..
“makasih ya mi.. ve akan kabari rumah secepatnya. Tante ira menenangkan diri dulu.. kalau bisa secepatnya dibawa ke klaten, ve akan kabari rumah.. mi.. ve pamit ya.. tante, om..” ucapku sembari pamit pada umi dan tante dan om..
==
16 tahun kemudian……
“ma.. kok bengong? Dinda kan Tanya, undangan merah jambu ini punya siapa? Masih perlu gak mah? Kan udah 16 tahun lalu, kalau gak perlu, mau dinda buang. Kalau berarti buat mamah, ya gak dinda buang..” ucap putriku dengan mengacungkan 3 undangan merah jambu dengan nama yang sama, ketiga undangan itu ditujukan padaku, undangan mas arya dan mbak dian, 16 tahun yang lalu.. dari mbak dian, mas arya dan tante ira. Aku menatap dinda, putri semata wayangku dan aku tersenyum.
“enggak sayang.. buang aja.. udah gak butuh kok… “ ucapku mantap, sudah saatnya kulepas bayang2 mas arya yang meninggal 16 tahun yang lalu.
“om arya dan tante dian itu siapanya mama? “ Tanya dinda, penuh rasa ingin tahu.
“om arya dan tante dian itu temannya mama… udah..sana buang undangan itu….” jawabku menyuruh dinda segera membuang undangan itu “nanti kalau semester ini dinda lulus sma dengan nilai terbaik, mama akan ceritakan semuanya sama dinda… gemana?” jawabku mengusir dinda dari rasa ingin tahunya.
“ah, dinda udah tahu.. pasti mantan mama kan? Dinda bilangin papa loh… “ goda dinda sembari pergi kebelakang, mungkin membuang undangan itu.
Aku tersenyum…. Undangan merah jambu.. mengantarku mengembara pada sebuah masa lalu yang gelap. Kepergian mas arya ke dunia lain, membuat 3 gadis patah hati.. mbak dian, nina.. dan aku.. namun perasaanku sampai sekarang belum pudar, meski mungkin jasadmu sudah berubah menjadi tanah.
Beruntung aku segera memiliki Dinda sebagai cahayaku, Kalau tidak ada dinda, putriku, entah apa yang akan terjadi padaku. Kehilangan cahaya hidup bagai kehilangan sebuah mata..semua gelap, aku tertatih dan terbentur2. Hatiku hampa dan tiada punya sebuah cahaya. Meski jasadmu telah hilang, namun mengapa cinta ini tiada pergi bersamamu?
-END-
---------- Post Merged at 11:21 AM ----------

Originally Posted by
cha_n
jadi si dive ini udah nyiapin cincin kawin, baju akad dan suvenir buat seseorang yang bahkan ga tau si dive suka sama dia? seram banget ya dive ini
pernah ketemu sama orang yang serba perfeksionis eh, atau apapun istilahnya... yang kea gitu gak kak chan? eh, mungkin malah termasuk psiko kali ya....