Aku pernah mencintai manusia adam itu. Sebuah cinta yang semurni doa hingga membuatku rela untuk terluka dan menunggu. Namanya menjadi mantra, kugenggam erat pada palungan yang membuatku terus bernapas, sebab aku memiliki mimpi tentangnya. Sebuah mimpi yang hanya aku dan dia tahu.

Lalu tersebut sebuah nama. Bagaikan sebuah pedang yang membelah mata air. Satu windu kemudian aku sadar kesia-siaan adalah satu-satunya kepastian. Hanya aku yang tidak ingin menggunakan mataku. Bahwa tidak hanya ada aku disana, dan aku hanyalah segenggam pasir yang dapat dengan mudah terberai kala tiba waktunya.

Sekarang,
manusia adam itu muncul dan membuka sebuah cerita yang telah berkarat. Bagaimana mungkin aku lupa, manusia. Sebab perangku waktu itu adalah milikmu. Aku tidak mengerti, sungguh! Sapamu padaku seringan kapas, namun terasa melontarkan aku hingga ke dasar bumi. Dan aku memandang seonggok manusia mati didepanku. Kamu pernah menjadi indah dihatiku. Dulu.

Aku sudah lama berdiri dengan mimpi yang adalah milikku sendiri.
Kamu sudah kuanggap mati, tetaplah mati.