Lalu aku berkata kepada para binatang... bahwa bedebahlah para manusia, sebab mereka gemar menghancurkan hati manusia lainnya. Namun tidak para binatang. Mereka hanya menghancurkan hati manusianya, kala harus melalui jembatan pelangi.

Telah kucabut setiap keping hati yang dibumihanguskan para bedebah. Kemudian, para binatang menambal setiap lubang, titik demi titik hingga mendenyutkan jantung. Berirama, dalam bahasa para binatang.

Kuletakkan hatiku, dimana milikku adalah milik para binatang. Tempat dimana cinta bersemanyam sedalam lautan dan semurni doa. Manusia berkata bahwa akulah separuh binatang itu, yang memudarkan warna pelangi dan meredupkan pendar bintang. Tak apa.

Kita semua, adalah jelmaan para binatang. Yang kadang lantang, kadang pincang, seringkali jalang.