Aku ingat tajamnya matamu. Kala melewati ruang kelasku.
Aku hanya bisa tertunduk. sebab aku malu.
Aku ingat tubuh jangkungmu. dan sungguh,
matamu membuatku lumpuh. Pipiku bersemu.
ingin sekali berlari. atau terbang, mungkin. Terasa kelu.
Tak terucap sapa. apalagi kata. untuk menjembatani rasa.
Engkau menjatuhkan hatiku pada taman penuh bunga.
Menikmati hari yang berjelaga. dalam senandung.
Tiga ratus lima puluh hari kemudian,
kau menghilang. bagai tak pernah dilahirkan.
Meninggalkanku bagai domba yang kehilangan gembala.
patah dan mendamba.
Air mataku jatuh laksana hujan.
Kuusap pohon cemara didepan kelasku. dan bertanya kepadanya,
kau pun melihatnya, bukan?
Mungkin aku salah meletakkan hati.
Keliru menggenggam asa. Lemah memilih daya.
Hingga cemara tumbuh berkali lipat,
dan menimbun kisah pada akarnya yang kuat.
Aku tahu. apa yang kau coba katakan
kala bibir tak mampu menterjemahkan kata.
Aku ingat hari itu mendung.
Kubiarkan hujan mengguyur tubuh.
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)



Reply With Quote