Harum tubuhmu masih tertinggal di kamarku.
Menjelma menjadi udara, yang tercium setiap saat
Bisikanmu bagai nada untaian bambu kala tertiup angin,
yang terdengar kemana pun aku melangkah.
Namun tak mampu kurengkuh.
Hatimu membatu,
sinar matamu dingin.
Menatapku bagai seorang asing,
tanpa ekspresi. Dan penuh perisai diri.

Apakah engkau lupa kita pernah bahagia?
Apakah engkau lupa kita pernah saling menautkan hati,
kala kecup membakar kulit?


Engkau bagai dilahirkan kembali.'
Sangat asing dan dingin.
Ajari aku bagaimana menghapus jejakku semudah itu.