“Aahh...” Junot terhuyung kebelakang. Dinding-dinding terasa berteriak meneriakkan suara-suara asing yang terdengar begitu akrap ditelingnya. Junot terengah-engah. Napasnya terasa pendek, bau obat-obatan menusuk penciumannya hingga sesak dan.. perlahan dia merasakan harum pepohonan yang basah oleh embun pagi. Sesuatu yang lembut melumat bibirnya. Sebuah ciuman yang terasa begitu manis, membuatnya melayang dengan hasrat yang menggelora. Dia ingat harum napas yang bercampur dedaunan diantara kicau burung pagi itu. Langit terasa begitu dekat, seakan dapat diraihnya. Dari jarak sedekat itu dia dapat melihat mata gadis itu coklat dan ada sebuah tanda lahir halus dikelopak kiri mata gadis itu. Namun pada mata itu dia melihat sepasang matahari kembar yang bersinar keemasan. Pipi mereka beradu dan untuk beberapa saat mereka saling mengecup. Sentuhan dari kulit ke kulit yang terasa memabukkan.


~ Daisyflo, a novel. Episode Junot.