Ada sepotong hati. Yang terasa samar. Padanya diendapkan rupamu, yang menjuntai pada belaian mimpi. Aku tahu harimu memucat. Dan terasa berat. Sebab sepotong hati, telah menjadi berjuta. serpihan luka. Ada sebait doa. Yang terasa fana, untuk diucapkan. Namun aku tahu, padanya disisipi namamu. Yang menabuh hari-harinya. untuk menggunakan matanya, sebab dia ingin melihatmu bahagia. Lalu dia mulai menghapus kisah. Kata demi kata, bait dan semua tanda baca. Mungkin suatu hari nanti, kisahmu akan mengalir. Pada cawan perak yang perlahan menghitamkan diri. Aku hanya perlu menunggu. Tiba waktunya, segalanya akan kembali berwarna. Dan langit akan kembali menjadi biru.

Tapi tetaplah ada sepotong hati. Dan sejuta luka. Yang kini tidak terasa samar.