Seperti mata-mata lain yang meneliti nama demi nama. Raut demi raut. Sosok demi sosok. Duhai para bidadari jelita, maukah kau toleh dan lihat apa yang aku kasihi hari ini akan mengantarmu ke pelaminan? Lalu dia mulai menghitung bintang, yang akan bersinar dan menggenapi kiamat dunianya jika tiba waktunya.
Ya, tiba waktunya... aku harus pergi.
Tak payahlah engkau mencari, aku telah menemukannya. Tapi tidak, suatu hari nanti perahu tua ini akan lapuk dan usang.
Aku ingin kamu nyaman dan selamat hingga ke seberang. Seseorang harus menggenggam tanganmu, berbagi kisah dan pagut denganmu.
Bagaimana harus kubagi kisahku? Kamu telah menghantuiku hingga berwindu-windu. Sejak matahari terbit hingga rembulan pucat dengan senyumnya yang misterius. Dari benih cemara hingga menjulang ke pelataran langit. Kenyataannya, selalu wajah itu. Wajah itu yang aku inginkan untuk berdepa-depa hariku nanti. Dan aku menyimpan setiap kisah dan detil gurat tubuhnya dalam ingatan yang membuatku mengebiri semua keinginan untuk mempersunting para bidadari. Bagaimana kisahmu? Apakah aku harus menunggu?
Jangan menunggu. Teruskan napasmu tanpaku.
- - - Updated - - -
Lalu...
Padanya kau temukan sepasang bintang,
Yang menghujam hatimu bersamaan,
Yang membuatmu tidak bertanya mengapa engkau dilahirkan pincang.
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)



Reply With Quote