aljazira
Mendidik Indonesia
101 East menyelidiki mengapa sistem pendidikan di Indonesia adalah salah satu yang terburuk di dunia.
Peserta di Indonesia Mengajar, sebuah program yang didanai oleh perusahaan swasta dan dijalankan oleh tokoh pendidik Anies Baswedan, diberikan pelatihan bertahan hidup ala tentara sebelum dikirim. Tapi mereka bukan tentara, mereka adalah profesional terdidik yang dikirim ke pelosok terpencil nusantara untuk mengajar sebagai relawan di beberapa sekolah paling miskin di Indonesia.
Para guru relawan harus berurusan dengan salah satu sistem pendidikan terburuk di dunia. Indonesia baru-baru ini menduduki peringkat terakhir dalam sebuah laporan pendidikan yang menengarai tingkat buta huruf, hasil tes, tingkat kelulusan dan tolok ukur utama lainnya di 50 negara. Hanya sepertiga dari siswa Indonesia - di negara di mana 57 juta bersekolah – menamatkan sekolah dasar, dan sistem pendidikan terkendala oleh pengajaran yang buruk dan korupsi.
Pendidik dan komentator Indonesia mengecam sistem sekolah negara yang lebih menekankan pada belajar menghafal daripada berpikir kreatif. Budaya pengajaran yang bermuara pada ketaatan serta pendekatan kaku studi agama dirujuk sebagai masalah utama.
Ahli pendidikan mengatakan kurang dari setengah dari guru negara memiliki kualifikasi minimum untuk mengajar dengan baik dan menyoroti ketidakhadiran guru sekitar 20 persen. Banyak guru sekolah umum bekerja sampingan di luar kelas untuk meningkatkan pendapatan mereka.
Korupsi juga marak di sekolah-sekolah dan universitas - dengan orang tua seringkali harus membayar suap untuk anak-anak mereka agar bisa lulus ujian atau membayar untuk layanan yang harus disediakan oleh negara.
Indonesian Corruption Watch mengklaim sangat sedikit sekolah di negara yang bersih dari korupsi, penyuapan atau penggelapan - dengan 40 persen dari anggaran mereka tersedot sebelum mencapai kelas.
Sementara itu, jutaan dolar dalam bantuan asing dituangkan ke dalam sistem pendidikan di negeri ini, mengingat belanja pemerintah hanya sebagian kecil dari PDB pada sekolah. Beberapa pengamat internasional bertanya mengapa Indonesia masih mengandalkan pendanaan eksternal untuk pembangunan sekolah mengingat bahwa itu telah terdaftar sebagai negara berpenghasilan menengah dengan Bank Dunia.
Menanggapi kritik, pemerintah Indonesia memperkenalkan kurikulum baru dalam upaya untuk menyederhanakan pendidikan, memangkas tingkat putus sekolah dan memproduksi lebih banyak PhD. Salah satu proposal pemerintah yang paling kontroversial adalah menghapuskan atau menunda pengajaran sains, geografi dan bahasa Inggris di sekolah dasar dan memperkenalkan mata ajar wajib yang mempromosikan identitas nasional dan nilai-nilai patriotik.
Banyak pendidik khawatir bahwa ini bisa mendorong Indonesia kembali ke Zaman Batu di dunia yang cepat mengglobal. Mereka berpendapat bahwa tahun-tahun awal anak adalah waktu untuk menyediakan mereka dengan pendidikan yang lebih formatif menggunakan pemikiran kritis, terutama mengingat tingginya tingkat drop-out setelah lulus sekolah dasar.
Namun pemerintah membela perubahan kurikulum dengan menyatakan bahwa mereka mencoba untuk menyederhanakan sistem sekolah yang dikritik karena sekolah dasar dibebani dengan terlalu banyak mata pelajaran.