Page 4 of 4 FirstFirst ... 234
Results 61 to 65 of 65

Thread: Science for Everyone

  1. #61
    Quote Originally Posted by 234 View Post
    Saya tidak menemukan munculnya angka 366 (jumlah hari dalam tahun kabisat) dlm penjelasan tsb.

    Sekali lagi CMIIW.

    saya sudah menuliskan catatan tambahan di bawah perhitungan di atas,
    Dengan cara yang sama, bisa dicari dengan menambahkan asumsi tahun kabisat. Perhitungan menggunakan wolfram alpha memberikan hasil yang tidak berbeda jauh perbedaannya.
    Pendekatan saya untuk solusi "tanggal 1" adalah menganggap bahwa peluang "tanggal 1" akan sama besarnya dengan tanggal "14" atau tanggal "31" jika "kelipatan 30" atau "keliapatan 28" atau "kelipatan 31" dihilangkan dengan menggapnya sebagai kemunculan bilangan biasa di dalam himpunan deret angka yang berjumlah 365 itu. Konsekuensinya, penyebut dan pembilang menjadi besar angkanya (kelipatan 365). Jadi perhitungan saya di atas hanya untuk siklus tahunan normal untuk mempermudah hitungan. Karena itu saya menambahkan catatan di bawah perhitungan, kalau ingin menggunakan kabisat, prinsipnya sama saja dengan tahunan normal, kecuali kelipatan yang digunakan tidak lagi 365 lagi, tetapi menjadi (365x4)+1 alias 1461 hari.

    Jadi, saya hanya memberi contoh untuk perhitungan normal tahunan yang '365' saja, bukan yang 4 tahunan dan saya menyarankan menghitung sendiri demi keakuratan (yg mestinya tidak terlalu jauh). Kalau saya hitung dengan per 1461 itu dengan kalkulator telpon genggam saya, keluarnya angka 0.504140786 (saya tadinya tadinya tidak mengeluarkan angka ini karena males menghitung angka besar dengan kalkulator biasa saja).

    Dan, itu salah satu pendekatan saya saja yang kebetulan menggunakan bayes's theorem (teorema ini sendiri bisa diterapkan pada asumsi apa saja) hanya saja saya menggunakan dg asumsi per 365-an itu sehingga terkesan panjang hitungannya. Anda bisa melakukan berbagai metode pendekatan lainnya tentu saja.
    there are only 10 types of people in the world: those who understand binary and those who don't

  2. #62
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Melengkapi tulisan saya yg berikut ini...:

    Quote Originally Posted by 234
    Dan berdasarkan 'rumus' yg sudah saya sampaikan sebelumnya yaitu 'n/2n-1', plus bantuan kalkulator, maka jawabannya adalah: 0,50414392
    Kalo saya pakai angka presisi yg lebih tinggi (digit dibelakang komanya lebih banyak) maka hasilnya adalah: 0,504143917947433000000000000000

    Itu sudah dengan memperhitungkan faktor 'tahun kabisat' tapi masih mengesampingkan faktor 'abad kabisat'.

    Lalu nilai jawaban yg berikut ini:

    Quote Originally Posted by 234
    (9600 / (2800/31 + 1600/30 + 303/28 + 97/29)) / (2 x (9600 / (2800/31 + 1600/30 + 303/28 + 97/29)) - 1)
    Setelah saya hitung dgn bantuan PC maka hasilnya adalah: 0,504144015761911000000000000000

    Itu sudah dengan memperhitungkan faktor 'tahun kabisat' maupun faktor 'abad kabisat' dus artinya hasilnya relatif 'akurat'. Saya sebut relatif karena mungkin masih ada 'faktor2 lain' yg luput dari pengamatan/pengetahuan saya.

    Kalo kita cermati dari dua nilai diatas ternyata margin penyimpangannya (relatif) sangat kecil yaitu 0,000000097814477850732800000000

    ***
    Quote Originally Posted by Uploader
    saya sudah menuliskan catatan tambahan di bawah perhitungan di atas,
    Quote Originally Posted by Uploader
    Dengan cara yang sama, bisa dicari dengan menambahkan asumsi tahun kabisat. Perhitungan menggunakan wolfram alpha memberikan hasil yang tidak berbeda jauh perbedaannya.
    Ok sekarang saya paham. Maaf kalo sebelumnya bagian itu terlewatkan oleh saya.

    Yang saya masih belum begitu memahami...:

    Quote Originally Posted by Uploader
    Pendekatan saya untuk solusi "tanggal 1" adalah menganggap bahwa peluang "tanggal 1" akan sama besarnya dengan tanggal "14" atau tanggal "31" jika "kelipatan 30" atau "keliapatan 28" atau "kelipatan 31" dihilangkan dengan menggapnya sebagai kemunculan bilangan biasa di dalam himpunan deret angka yang berjumlah 365 itu.
    Sebagai sebuah 'pendekatan' itu sah2 aja. Masalahnya menurut saya, CMIIW, 'asumsi (anggapan)' yg anda ambil tsb "salah" (kurang tepat). Menurut saya, (tanggal) 1 s/d 28 itu tidak bisa diberlakukan sama dengan (tanggal) 29, 30 dan 31 karena (rasio) peluangnya ber-beda2.

    Sehingga nilai hasil yg berikut ini...

    Quote Originally Posted by Uploader
    Kalau saya hitung dengan per 1461 itu dengan kalkulator telpon genggam saya, keluarnya angka 0.504140786 (saya tadinya tadinya tidak mengeluarkan angka ini karena males menghitung angka besar dengan kalkulator biasa saja).
    ...margin penyimpangannya menjadi (relatif) lebih besar krn berangkat dari sebuah asumsi yg "salah", meskipun hasil akhirnya mendekati.

    Quote Originally Posted by Uploader
    Dan, itu salah satu pendekatan saya saja yang kebetulan menggunakan bayes's theorem (teorema ini sendiri bisa diterapkan pada asumsi apa saja) hanya saja saya menggunakan dg asumsi per 365-an itu sehingga terkesan panjang hitungannya. Anda bisa melakukan berbagai metode pendekatan lainnya tentu saja.
    Berdasarkan uraian saya diatas, disini menurut saya ada dua kemungkinan...:

    Pertama, mungkin 'teorema Bayes' tidak bisa digunakan (bukan berarti teorema tsb salah lho) untuk menyelesaikan kasus diatas. Mungkin teorema tsb hanya bisa diaplikasikan untuk data sampel yg masing2 memiliki sebaran peluang yang merata seperti misalnya 'jenis kelamin' (selalu 2, dgn asumsi yg AC/DC ndak termasuk lho), 'jumlah hari dalam seminggu' (selalu 7), dst. Itu berbeda dgn kasus 'jumlah tanggal dalam sebulan' yg tidak merata.

    Atau, kemungkinan kedua, asumsi yg dipakai untuk menyelesaikan kasus diatas adalah "salah".

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  3. #63
    Mohon maaf, akhir-akhir ini kegiatan sangat padat merayap, penyusunan laporan, kepanitiaan pentas seni, dan lain-lain. Jadi tulisan-tulisannya tertunda.

    Di artikel-artikel terdahulu, disebutkan mengenai “hukum” tertentu namun tidak memenuhi standar definisi kehukuman ilmiah yang ketat, atau mengenai teori-teori yang lahir, berkembang, dan tumbang. Sebelum melangkah jauh, ada baiknya membahas kembali ke bagian paling dasar: definisi hipotesis, teori, dan hukum dalam pengertian ilmiah.

    Hipotesis, Teori, dan Hukum
    Meski secara garis besar ketiganya memiliki perbedaan yang jelas dan tegas, namun dalam pengunaannya kebanyakan orang merasa rancu, apalagi ketika diterapkan pada konteks kalimat populer yang sering disalahgunakan seperti, “hanya teori saja”, atau konsep yang bisa diterapkan pada dua istilah sekaligus. Gravitasi misalnya, Teori Gravitasi dan Hukum Gravitasi sama-sama ada dan digunakan dalam dunia sains. Di lain pihak, banyak hipotesis yang secara keliru disebut teori demi klaim padahal belum memenuhi standar yang berlaku, terutama untuk bidang-bidang yang masuk ranah pseudosains. Lalu, apa perbedaan antara hipotesis, teori, dan hukum?

    Hipotesis
    Hipotesis adalah dugaan masuk akal yang didasarkan pada pengetahuan yang dimiliki atau berdasarkan pengamatan untuk menjelaskan suatu fenomena. Sepanjang waktu, hipotesis bisa dibuktikan atau tidak dapat buktikan. Pembuktiannya pun bisa menghasilkan bukti positif (yang mendukung kebenaran hipotesis) atau malah bukti negatif (yang malah bertentangan dengan hipotesis itu sendiri).

    Hipotesis memainkan peranan amat penting dalam metode ilmiah dimana Anda mesti menyusun pertanyaan terhadap fenomena, menyusun hipotesis/dugaan, membuat prediksi yang dapat diuji, melakukan pengujian, lalu menganalisis data.

    Jadi, sebelum sebuah hipotesis diterima di lingkungan ilmiah sebagai sebuah kebenaran, hipotesis perlu diuji dan diuji kembali berkali-kali sehingga konsisten dengan pernyataan hipotesis tersebut.

    Contoh: Keranjang sampah di depan teras selalu berantakan seperti diacak-acak di pagi hari saat Anda mau berangkat kerja. Anda membuat dugaan, kalau yang mengacak-acak itu kucing tetangga sebelah. Sebelum mengeluh kepada tetangga Anda, Anda harus melakukan pengujian, yang bisa saja mendukung atau malah menolak dugaan Anda tersebut. Dan tentu saja Anda harus melakukan pengamatan dan pengujian berkali-kali, karena mungkin saja bukan hanya kucing tetangga saja yang terlibat.

    Teori

    Sebuah teori ilmiah mengandung satu atau lebih hipotesis yang didukung oleh pengujian berulang. Kekonsistenan dugaan ini, membuat sebuah teori menjadi salah satu puncak sains, dan diterima di kalangan ilmiah sebagai sebuah kebenaran. Untuk menjaga agar tetap menjadi sebuah teori, dugaan-dugaan yang digunakan harus tidak boleh terbukti keliru, jika terbukti keliru maka teori tersebut menjadi salah. Dan hal ini sering terjadi. Selain tergantikan, teori juga bisa berkembang. Artinya sebuah teori lama tidak salah, namun belum lengkap. Contoh terbaik mengenai hal ini bisa dilihat pada Teori Atom. Teori Atom Dalton yang menjadi teori ilmiah pertama mengenai eksistensi atom terbukti keliru karena menurutnya atom merupakan bagian paling kecil yang tak dapat dibagi lagi. Namun, tidak berarti Teori Atom salah, pengamatan-pengamatan berikutnya menegaskan eksistensi Atom, hanya saja dasar yang digunakan Dalton tidak lengkap. Maka Teori Atom pun harus dirombak dan disusun kembali sesuai pengamatan berlaku, maka kita mengenal berbagai teori atom, mulai dari era JJ Thompson hingga era teori atom modern (standar model) saat ini.

    Contoh lainnya adalah tentang gravitasi. Ketika Newton menemukan Teori Gravitasi dan menulis Hukum yang dapat menjelaskan pergerakan benda, dia tidak salah, namun dia juga tidak sepenuhnya benar. Einstein kemudian menemukan Teori Relativitas Khusus (TRK) dan Teori Relativitas Umum (TRU) yang menjadikannya sebagai teori gravitasi yang lebih lengkap. Nyatanya, penurunan rumus TRU untuk benda yang bergerak di bawah kecepatan cahaya menghasilkan persamaan Newton.

    Meruntuhkan Sebuah Teori
    Apa yang terjadi jika ada dua buah teori yang saling bertentangan, katakanlah teori alam semesta ajeg (Steady State Theory) dan teori pengembangan alam semesta yang meluas dan bermula (Big Bang Theory). Jelas, keduanya saling bertentangan, yang satu menyatakan alam semesta sudah ada “dari dulu” dan hingga seterusnya, yang kedua mengimplikasikan bahwa alam semesta memiliki awal.

    Pada kasus ini, para astronom membuat berbagai pengamatan, hipotesis, dan prediksi yang dapat diuji sehingga dapat diputuskan, yang mana di antara dua teori saling bertentangan ini yang benar. Misal, Anda mengamati alam semesta mengembang, Anda berhipotesis bahwa alam semesta memiliki awal, Anda melakukan pengujian dengan persamaan matematika dan pengujian.

    Big Bang vs Steady State
    Akhirnya sebuah teori bisa mengalahkan teori lain jika perumusan dan pengamatan memberikan hasil yang mendukung satu teori itu. Dalam kasus Big Bang vs Steady State, Big Bang akhirnya diterima karena prediksinya kemudian terbukti sesuai dengan pengamatan (terutama bukti radiasi kosmik latar belakang dan pergeseran merah). Ada juga kasus di mana sebuah teori tidak lantas runtuh dan digantikan, namun digabung untuk membuat sebuah teori baru (seperti teori atom modern).

    Namun, bukan berarti jika sebuah teori sudah diterima, maka dia menjadikannya sebagai sesuatu yang mutlak. Teori tersebut harus siap digempur habis-habisan melalui pengujian dan pengamatan berulang-ulang. Ketahanan teori yang melalui berbagai pengamatan dan pengujian, kemudian diterima oleh kalangan ilmiah sebagai sebuah teori yang benar. Pada banyak kasus, teori-teori yang tergantikan kemudian menjadi dasar teori baru yang lebih lengkap. Karena ada dua syarat penting untuk bisa menggantikan sebuah teori lama dengan teori baru: Teori baru harus bisa menjelaskan fenomena yang dapat dijelaskan dengan baik oleh teori lama, dan teori baru harus bisa menjelaskan fenomena baru yang tidak dapat dijelaskan oleh teori lama.

    Itu sebabnya, banyak teori “lama” yang masih bisa bertahan karena teori-teori barunya belum memberikan kekonsitenan sebaik teori lama, meski teori lama tersebut belum bisa menjelaskan fenomena baru. Teori Model Standar misalnya, tidak dapat menjelaskan fenomena gravitasi pada skala subatomik, maka ada teori dawai (String Theory) yang menjelaskan fenomena gravitasi di dunia mikrokosmos. Namun teori dawai belum bisa menjelaskan dengan baik berbagai fenomena lain yang dapat dijelaskan teori model standar, maka Teori Model Standar masih bertahan.

    Bahkan, nama besar seperti TRK dan TRU yang telah menjadi pijakan dasar bagi banyak teori dan persamaan lainnya (misal Hukum Hubble atau jari-jari Schwarzschild) juga bukan sebuah teori yang paripurna. Teori yang dicetuskan Einstein ini mengambil pijakan yang amat sederhana: tidak ada yang bisa bergerak secepat atau melebihi cahaya. Jika ditemukan ada yang secepat atau melebihi cahaya, TRK dan TRU serta anakan teori lainnya bisa runtuh dan menjadi mimpi buruk fisika modern saat ini (meski akan menjadi sebuah kemajuan sains yang paling mengagumkan.) Teori baru harus bisa menyusun persamaan yang lebih lengkap: bisa menjelaskan fenomena TRK dan TRU, serta bisa menjelaskan fenomena yang tidak dapat dijelaskan TRK/TRU.

    Catatan khusus: untuk kasus seperti relativitas, karena persamaan matematisnya selalu berhasil kemungkinan “kesalahan” teorinya amat-amat kecil. Kalaupun saat ini TRK/TRU tidak bisa menjelaskan gravitasi di dunia mirkokosmos, maka akan sangat mungkin kalau TRK/TRU merupakan sebuah bagian kecil dari teori sains yang lebih besar dan lebih lengkap. Maka, saat ini para fisikawan sedang menggodok besar-besaran mengenai Teori Kesatuan Akbar (Grand Unification Theory), atau malah Teori Segala Hal (Theory of Everything).

    Hukum
    Hukum ilmiah merupakan bagian dari istilah sains yang (biasanya) singkat, sederhana, dan selalu benar. Banyak hukum-hukum sains diungkapkan dalam pernyataan tunggal. Hukum tidak bisa dibuktikan salah (itu mengapa, jumlah hukum sangat sedikit bahkan jika dibandingkan dengan teori). Hukum dapat diterima secara universal dan merupakan landasan ilmu pengetahuan.

    Jika sebuah hukum pernah terbukti salah, maka semua anakan sains yang disusun atas dasar hukumnya akan menjadi salah, dan menciptakan efek domino. Beberapa contoh hukum ilmiah (kadang disebut juga sebagai hukum alam) misalnya Hukum Termodinamika, Hukum Gas Boyle, Hukum Gravitasi, dan sebagainya.

    Hukum vs Teori, mana yang lebih baik?

    Pada akhirnya, semuanya hanya masalah pengunaan istilahnya secara tepat. Hukum dapat berlaku sehingga menjadikan suatu fenomena terjadi pasti berdasarkan kaidah, namun bagaimana itu terjadi tidak dapat dijelaskan hukum. Sebuah teori dapat menjelaskan bagaimana dan mengapa itu terjadi. Hukum gas Boyle mengharuskan gas-gas berperilaku demikian, tapi tidak menjelaskan bagaimana dan mengapa, maka teori kinetik gas dan mekanika kuantum pun bisa menjelaskannya mengapa dan bagaimana gas berperilaku demikian.

    Pengunaan istilah yang tepat sangat dibutuhkan, karena mengingat penyebutan yang salah, dapat memberikan konsekuensi yang kadang fatal dan kekeliruan yang salah kaprah. Tulisan berikutnya, akan menjelaskan fenomena kekeliruan yang sering diakibatkan penyebutan yang salah kaprah ini.

    Bacaan tambahan:
    http://undsci.berkeley.edu/article/0...cienceworks_20
    http://chemistry.about.com/od/chemis.../lawtheory.htm
    http://pseudoastro.wordpress.com/200...heory-and-law/
    Last edited by uploader; 03-09-2013 at 11:03 AM.
    there are only 10 types of people in the world: those who understand binary and those who don't

  4. #64
    6 Istilah Sains yang Sering Digunakan Salah Kaprah
    Dalam pelajaran “sains”, kurikulum yang digunakan kebanyakan lemah dalam menjelaskan definisi awal sains itu sendiri. Dari SD hingga SMA sekalipun, definisi yang berkaitan dengan sains jarang disinggung dan dijelaskan tuntas, hanya muncul sekilas di pelajaran bahasa sehingga sering diabaikan. Belum pengaruh media yang sering menggunakan istilah tidak tepat, hasilnya kekeliruan yang bertumpuk membuat beberapa istilah menjadi salah kaprah dan melenceng dari arti sebenarnya.

    Akibatnya, banyak kata atau frasa yang artinya berbeda jauh antara saat digunakan di dunia sains dan saat digunakan pada istilah populer sehari-hari. Tak heran banyak ilmuwan yang mengusulkan agar istilah yang baku diganti dengan istilah baru sehingga istilah lama yang telanjur beredar menjadi tersendiri dan terpisah dari bidang sains. Namun hal ini hanya akan memperpanjang masalah, karena bisa saja istilah baru itu kemudian disalahgunakan lagi, terutama untuk istilah-istilah sains yang dianggap bertolak belakang dengan kepercayaan.

    1) Teori

    Tak ada istilah ilmiah yang sering digunakan secara keliru dibandingkan kata ini. Pemerkosaan terhadap istilah ini sering digunakan untuk menyerang dan menolak teori sains. “Itu hanya sekedar teori” sering dimaknai sebagai hanya dugaan tanpa fakta kenyataan. Tak heran misalnya, kita kerap mendengar orang anti-evolusi menyerang evolusi dengan mengatakan “Ah, evolusi itu hanya teori, bukan hukum. Hanya hasil rekayasa dan dugaan Darwin. Kalau udah jadi hukum, baru evolusi benar.” Bahkan banyak kasus, ada yang tidak bisa membedakan antara hipotesis dan teori.

    Teori adalah benteng terdepan sains yang membedakan sains dari bidang lain: diterima secara luas di lingkungan ilmiah sebagai sebuah kebenaran yang telah teruji melalui hasil pengamatan. Dengan kata lain, teori adalah fakta. Sebuah teori bukan ide asal-asalan dari ilmuwan yang datang secara tiba-tiba dan berlaku sesaat. Teori harus diuji berkali-kali dan lolos uji dalam percobaan ilmiah yang ketat. Dengan mengatakan sebuah teori salah dengan menunjukan sebuah eksperimen yang dianggap bertentangan namun hanya diuji sekali, tidak otomatis meruntuhkan teori tersebut. Hasil uji yang dianggap bertentangan itu harus dites juga keabsahannya, karena pada banyak kasus, percobaan yang diklaim bertentangan itu setelah diselidiki memiliki cacat dalam standar ilmiah dan percobaan. Contoh paling hangat saat Teori Relativitas Khusus Einstein ditantang dengan penemuan partikel neutrino yang lebih cepat dari cahaya. Namun penyelidikan lebih lanjut membuktikan bahwa ada elemen eksperimen pengukuran yang tidak akurat dalam percobaan neutrino tersebut. Tak hanya teorinya sendiri yang harus siap ditantang, tetapi "bukti" yang dianggap bertentangannya pun harus siap ditantang balik.

    2) Model

    Istilah “model” juga sering disalahfahami karena beberapa alasan. Model dalam pengertian ilmiah adalah cara mengukur fenomena alam tertentu dengan “analogi” sehingga kita dapat memahami fenomena itu lebih baik. Tiap bidang sains biasanya memiliki definisi “model” sendiri, namun ide dasarnya adalah sama.

    Para ilmuwan menghabiskan jutaan jam eksperimen untuk membangun model, membandingkan dengan model lainnya, dan menyempurnakan model mereka untuk memberikan hasil seakurat mungkin. Jadi, model bukan “sampel sederhana” yang tidak cocok untuk diterapkan pada fenomena sesungguhnya. Pada saat ilmuwan menyusun model iklim, artinya mereka mengumpulkan data sebanyak mungkin dari berbagai sumber, mengolahnya, dan memperkirakan hasil pengolahan tersebut sehingga kita bisa mempelajari cara kerja atmosfer kita. Sehingga kita mendapat wawasan untuk memprediksi teka-teki kerja iklim dan kita bisa mempersiapkan konsekuensinya.

    3) Skeptis

    Penulis ilmiah terkemuka Michael Specter merangkum dengan amat akurat bagaimana definisi spektis seharusnya digunakan: “Jadilah skeptis. Tapi ketika Anda mendapat bukti, terimalah bukti tersebut.” Istilah skeptis sering digunakan para penolak sains arus-utama seperti penganut pseudosains/sains-semu: “skeptis vaksin”, “skeptis perubahan iklim”, “skeptis obat farmasi”, dan sebagainya. Maka, mereka sering menggunakan istilah skeptis sebagai alasan penolakan terhadap hasil eksperimen atau bukti yang mendukung sains arus-utama yang mereka tentang. Apapun hasilnya, akan dituduh sebagai “hasil konspirasi”.

    Penolakan terhadap bukti-bukti yang ditunjukkan sains arus-utama, bukanlah skeptis dalam arti sesungguhnya. Para penolak ini hanyalah orang-orang penganut faham contrarianism alias penyangkalan.

    Seorang skeptis sejati akan melihat semua bukti ilmiah, tanpa memilah yang dia anggap suka atau perlu saja, dan bersedia menganalisis semua fakta tanpa bias. Ketika bukti mengatakan sesuatu, seorang skeptis dapat menerima hasilnya sebelum ada bukti baru yang disajikan.

    4) Signifikan

    Ah, signifikan… Banyak kalimat seperti “telah terjadi peningkatan autisme yang signifikan secara statistik pada bayi yang diberikan vaksin” atau “ada bukti signifikan yang mengatakan bahwa peluruhan radioaktif tidak akurat sehingga usia Bumi tidak setua yang ditulis di buku sains”, dan hal-hal lain. Banyak sekali istilah “signifikan secara statistik” yang digunakan para penyangkal sebagai bukti untuk menentang sains arus-utama. Padahal, dalam statistik, “signifikan” tidak berarti “penting”. Secara statistik sesuatu disebut signifikan, jika tidak mungkin terjadi dalam kondisi acak. Jadi signifikan tidak selalu berarti ada dampak berarti yang tersembunyi. Pada percobaan ilmiah yang ketat, hasil yang signifikan akan bermakna banyak hal. Namun pada percobaan yang disetting buruk (seperti halnya pada percobaan-percobaan sains-semu), hasil “signifikan” di sini tidak berarti apa-apa karena semua variabel tidak dikontrol.

    5) Alami dan kimiawi

    Dalam media popular, alami telah menjadi kata yang menjabarkan tentang kesehatan dan vitalitas. “Obat-obatan yang beredar sangat berbahaya jika dikonsumsi karena berasal dari bahan yang tidak alami”, “ramuan alami jauh lebih baik daripada obat-obatan kimiawi buatan laboratorium”, adalah sedikit diantara kalimat-kalimat yang sering didengar dan mendiskretkan “kimiawi”.

    Satu hal penting yang sering dilupakan: Tidak semua yang alami itu baik bagi Anda. Alami secara sederhana berarti “berasal dari alam”. Arsenik itu alami, tetapi mengkonsumsi arsenik dapat berakibat fatal. Terkena bisa hewan atau tanaman beracun dapat membunuh padahal mereka semua “alami”. Bahkan hal-hal “alami” yang netral seperti air dan oksigen bisa membunuh jika digunakan secara berlebihan. Mungkin sulit membayangkan ada orang yang mati karena keracunan air, tapi hal ini sering terjadi.

    Bahkan dalam definisi sains-semu yang biasanya mengacu pada penggunaan pengobatan alternatif, alami tidak berarti selalu baik. Klaim dan iklan bombastis seperti obat-obatan alami dan herbal sering diselingi dengan klaim palsu atau hasil percobaan yang diselewengkan, sehingga akan membuat orang yang mengkonsumsinya mengalami komplikasi kesehatan yang serius. Bukan berarti semua pengobatan alternatif itu buruk, hanya saja kita harus waspada dan tidak terjebak dengan kampanye “alami vs kimiawi” yang diselewengkan.

    6) Bahan Kimia

    Pengunaan bahan kimia sering dijadikan musuh bersama dan dianggap identic dengan pengrusakan. Penambahan floride pada pasta gigi, penggunaan pupuk kimia untuk pertanian, dan hal-hal lain membuat reputasi “bahan kimia” sebagai bahan jahat. Padahal bahan kimia ada dimana-mana. Air, oksigen, nitrogen, fosfor, apapun yang Anda minum dan makan, adalah bahan kimia, dan semuanya akan membunuh Anda cepat atau lambat. Oksigen misalnya adalah zat yang membuat Anda tua, tidak menghirup oksigen akan membuat sel-sel tubuh Anda akan tetap muda. Permasalahannya, ada bahan kimia yang cepat membunuh, ada yang lambat membunuh, ada yang membunuh dalam dosis tertentu, ada juga yang masih bisa ditoleransi tubuh. Penuduhan yang membabi-buta justru membuat kita kekurangan bahan kimia yang dibutuhkan.

    Sistem pendidikan yang cenderung longgar membuat pemahaman atas sains menjadi lemah sehingga menjadi gampang untuk disalahartikan bahkan diselewengkan. Hal ini diperparah oleh klaim-klaim semu yang dikobarkan oleh golongan fanatik penafsir ajaran tertentu untuk membentengi kepercayaan tertentu yang dirasa bertentangan dengan sains arus-utama. Dan sebagai hasilnya, banyak penolakan terhadap fakta-fakta ilmiah dan penyangkalan terhadap sains terjadi dimana-mana karena mereka tidak memahami dengan benar hakikat sains itu sendiri.

    bacaan tambahan:
    http://www.scientificamerican.com/ar...-science-words
    http://www.livescience.com/3345-natu...us-claims.html
    http://plato.stanford.edu/entries/models-science/
    http://science.kennesaw.edu/~rmatson/3380theory.html
    http://www.math.columbia.edu/~woit/wordpress/?p=5880
    Last edited by uploader; 04-09-2013 at 03:30 PM.
    there are only 10 types of people in the world: those who understand binary and those who don't

  5. #65
    Apakah Dunia Ilmiah Takut terhadap Hal-hal Supernatural dan Pseudoilmiah?

    Bukan sekali saja, kita mendengar tuduhan, “dunia ilmiah menolak kehadiran hal-hal mistik dan supernatural karena kemampuan sains sangat terbatas atau mereka takut meruntuhkan rumus-rumus mereka karena persamaan mereka tidak bisa menjelaskan fenomena hantu misalnya,” atau perkataan “para ilmuwan yang materialistis tidak mau kehadiran hal-hal gaib dan dimasukan ke dalam ranah ilmiah karena memang mereka ketakutan terhadap kemungkinan rontoknya ilmu-ilmu mereka,” atau para kreasionis yang mengatakan “evolusi adalah sains kering dan munafik, tak mengindahkan kemungkinan adanya penciptaan gaib, lalu hanya mengandai-andai terhadap sesuatu yang mustahil terjadi.” Tuduhan-tuduhan semacam ini semakin panjang dan memburai kemana-mana sampai-sampai banyak orang yang menentang sains dan pengajarannya karena takut menggerogoti keimanan mereka dan tak sedikit yang mengidentikan sains sebagai ajaran antituhan.

    Sejarah dan formalisme sains tidak bisa dipisahkan dari ajarah filsafat positivismenya Auguste Comte. Positivisme yang diperkenalkan Comte telah merubah total kehidupan intelektual abad sembilan belas dan seterusnya dengan formalismenya yang ketat untuk memisahkan sains dari dunia metafisik dan gaib. Ajaran positivisme yang berkaitan erat dengan faham naturalisme yang menjadi dasar sains mengisyaratkan bahwa objetivitas sains harus didirikan berdasarkan fakta yang dapat diamati secara langsung, sehingga ketika ilmuwan menyusun sains, mereka berpijak pada realitas objektif.

    Namun, terutama setelah era fisika kuantum lahir, naturalisme sains tidak mensyaratkan kalau hanya alam saja yang ada. Sains hanya mencatat bahwa alam adalah satu-satunya standar objektif yang kita miliki. Supernatural tidak ditinggalkan atau ditolak, hanya tidak diperhitungkan karena hal-hal supernatural tidak pernah teramati secara sah.

    Sains modern tidak dalam cara apapun meninggalkan kemungkinan adanya pengaruh luar, bahkan bila itu Tuhan atau hantu. Saat bukti pengaruh luar tersebut diamati, ia akan dimasukkan. Sains tidak melibatkan apapun yang tidak memiliki bukti yang dapat di uji. Hipotesis dapat dimasukkan namun tidak pernah didukung bukanlah bagian dari sains. Walau begitu, fenomena tak teramati ini hanya dipisahkan dari pertimbangan ilmiah; tidak disingkirkan dari kehidupan seluruhnya. Masyarakat bebas menerima atau menolaknya sesuai keinginan mereka, dan sains mutlak tidak mengatakan apapun tentang subjek tersebut. Sains tidak hanya menyingkirkan penerimaan pengaruh Tuhan; ia juga menyingkirkan penolakan terhadap pengaruh Tuhan.

    Evolusi, sebagai teori sains utama yang dituduh antituhan, tidak sendirian dalam naturalismenya. Semua sains, semua rekayasa teknik, dan sebagian besar penemuan manusia sama naturalistiknya. Bila kita harus membuang evolusi karena filosofi ini, maka kita harus pula membuang navigasi, metreologi, pertanian, arsitektur, percetakan, hukum, dan semua subjek untuk alasan yang sama. Rancangan cerdas mengimplikasikan naturalisme filosofis. Seperti dicatat di atas, semua sains, industri, pertanian, dan lainnya berdasarkan alam. Itu tidak menghentikan evolusionis, ilmuan lain, insinyur, pengusaha, dan petani untuk mampu melihat diluar materialisme dan menemukan spiritualitas dalam hidup mereka.

    Para penyangkal tampak memerlukan bukti material objektif untuk mendukung spiritualitas mereka. Namun itu, tentu saja, membuat spiritualitas mereka naturalistik. Untuk semua keluhan mereka mengenai materialisme, penyangkal mencoba meluaskan materialisme ke bidang agama dengan menyebarkan sains yang pseudo, yang justru akan menggerogoti objetifitas keimanan mereka.

    ***
    “Bukti” dari mitos-mitos yang bermunculan sepanjang sejarah tak pernah surut seiring waktu. Hal-hal supernatural dan paranormal masih terus beredar. Klaim-klaim seperti kesaksian mata melihat UFO, monster, alien, hantu, bahkan roh tokoh suci semakin semarak di tiap abadnya. Tentu saja mengusik, mengapa sains tidak bisa membuktikan fenomena-fenomena seperti ini? Apakah para ilmuwan bersekongkol dengan membutakan otak mereka terhadap teori-teori “alternative” yang bisa menjelaskan fenomena supernatural di dunia tempat tinggal kita dengan menolaknya?

    Seperti ditulis di atas, sains tidak pernah menolak teori alternatif apapun terhadap penjelasan suatu fenomena selama alternative tersebut dapat diuji untuk menilai keabsahannya. Sains yang tak pernah merasa cukup dan lengkap, selalu mempertimbangkan berbagai alternatif baru di luar sains mapan, untuk menjelaskan berbagai fenomena baru yang semakin banyak dan belum terjawab. Itu sebabnya, banyak fisikawan yang kembali menguji persamaan Dinamika Newton yang Dimodifikasi untuk materi gelap/dark matter meski persamaannya sudah dinyatakan “tamat” oleh relativitasnya Einstein. Dana penelitian juga semakin bertambah setiap tahunnya untuk meneliti pengobatan alternatif yang belum terbukti kesuksesannya secara valid dibandingkan pengobatan konvensional.

    Lalu bagaimana dengan fenomena supernatural? Mengapa sains seolah menutup total kemungkinan tersebut? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu melihat komunitas ilmiah dalam memandang maraknya klaim-klaim menakjubkan ini. Salah satu contoh terkenal untuk kasus ini saat salah seorang professor dari Universitas Cornell (salah satu perguruan tinggi paling prestisius di AS, anggota Ivy League), Prof. Daryl J. Bem mempublikasikan sebuah studi yang menjadi bukti tentang keberadaan kekuatan metafisik. Bagaimana reaksi komunitas ilmiah? Nyatanya, Bem tidak dikucilkan dari komunitas ilmiah, jabatan akademiknya tidak dicabut, hasil penelitiannya pun tidak diblokir dari jurnal sains. Patut dicatat bahwa hasil penelitian Bem diterbitkan dalam jurnal ilmiah. Jadi, istilah “konspirasi” untuk menyingkirkan supernatural dari sains tidak terbukti.

    Hasil studi Bem tersebut kemudian ditanggapi secara serius, dan tim peneliti lain melakukan pengujian ulang terhadap studi yang dilakukan Bem sebelumnya. Pengujian ulang merupakan aspek paling penting dalam metode ilmiah. Anda bebas mengeluarkan klaim apapun (baik itu untuk menolak sains mapan maupun mendukung sains mapan sekalipun), namun semua klaim itu akan divalidasi terus-terusan sehingga terlihat kekonsistenannya. Tentu saja pengujian dilakukan di bawah kondisi ilmiah yang ketat untuk meminimalisir variable tak terkontrol yang dapat menimbulkan bias. Jika peneliti lain tidak bisa mengulang hasil penelitian asli dengan metodelogi yang sama, itu artinya ada yang salah dengan studi asli.

    Singkat cerita, peneliti lain tidak mendapatkan hasil yang sama dengan hasil yang didapatkan pada saat Bem melakukan studinya. Tentu saja para pendukung metafisik menggugat hasil-hasil ilmuwan (pengujian ulang dilakukan oleh tim berbeda dan berkali-kali) dengan tuduhan hasil negatif itu sengaja dibuat untuk mendikretkan kekuatan metafisik. Masalahnya, Bem dengan berjiwa besar mengucapkan selamat kepada ilmuwan lain yang membuktikan hasil studinya negatif dan mengakui bahwa dia melakukan studi dengan pengkondisian yang longgar, dan mengambil kesimpulan terlalu cepat. (Paper Bem saya cantumkan di bagian referensi tautan)
    Contoh kasus yang lebih spektakuler: penemuan partikel neutrino yang dapat bergerak lebih cepat daripada cahaya.”23 September 2011, dunia sains tersentak, ilmuwan CERN mengumumkan studi bahwa mereka menyelidiki bahwa ada neutrino yang bergerak melebihi kecepatan cahaya. Semua orang yang faham sains sadar konsekuensi mengerikan ini: jika penemuan ini benar, sejarah sains akan jungkir balik. Semua dasar sains modern (terutama fisika elementer, kosmologi, dan kimia partikel) berpijak pada relativitas Einstein. Jika relativitas Einstein terbukti keliru, jutaan penemuan sains harus diselediki ulang, sejarah sains harus ditulis dalam lembaran baru dan berbeda. Seakan-akan kemajuan seabad fisika dan sains akan runtuh. Dunia ketar-ketir, media heboh dengan pemberitaan bombastis, “Keliru kah Einstein?”, “Lebih Cepat dari Cahaya, Neutrino Meruntuhkan Relativitas”, “Keruntuhan Fisika”, dan judul-judul bombastis lainnya.

    Semua pemberitaan ini (terutama tulisan-tulisan minggu pertama), seolah mengesankan bahwa hasil penelitian neutrino tersebut sudah valid. Apa yang tidak ditulis media (atau terlupakan), adalah hasil yang didapat itu merupakan hasil satu kali percobaan dan belum dikonfirmasi.

    Sebagian besar komunitas ilmiah bereaksi dengan sangat hati-hati. Relativitas adalah salah satu pilar utama sains modern, pembuktian ketidakvalidannya akan menimbulkan masalah amat besar (meski dari sudut perkembangan sains, akan menjadi kemajuan pengetahuan yang amat besar). Sejak pertama kali dirumuskan, relativitas selalu berhasil menghitung akurat fenomena berdasarkan persamaan matematikanya, bahkan relativitas menghasilkan prediksi-prediksi mencengangkan melampaui teknologi pada zamannya yang kemudian terbukti keakuratannya. Maka penelitian ulang atas neutrino itu pun dilakukan. Pada akhirnya, apapun yang menantang sains, harus siap ditantang balik juga. Pada kasus neutrino, hasil yang menyimpang terjadi karena beberapa kesalahan sederhana dalam pengukuran, bahkan termasuk adanya masalah dalam kabel peralatan.


    Kasus klaim yang telanjur menyebar namun kemudian terbukti salah saat diverifikasi amat-amat banyak terjadi. Para pegiat penyebar pseudosains seperti kreasionis dan supernaturalis banyak terjebak dengan peristiwa ini, sehingga tuduhan terhadap dunia sains menjadi semakin akut.

    Para ilmuwan sejatinya merupakan para petualang untuk memahami alam dengan lebih baik. Proses peer review adalah pertahanan yang amat baik untuk menghilangkan bias dan subjektifitas. Dalam sains, ada dua cara untuk membuat nama Anda termashyur: membuktikan sesuatu salah atau menemukan hal yang baru. Einstein akan selalu dikenang sebagai penemu relativitas, hal yang baru. Copernicus, Kepler, Galileo akan dikenang karena pencapaian luar biasa mereka dalam heliosentris (disamping ilmuwan-ilmuwan lain), membuktikan geosentris sebagai teori yang keliru. Maka, jika Anda dapat membuktikan evolusi sebagai teori yang salah, satu tempat dalam daftar pemenang Nobel akan Anda kuasai.

    Sains tidak alergi terhadap penolakan teori lama atau pengusulan sesuatu yang baru. Sejarah sains dibentuk dari penolakan gagasan lama dan usulan gagasan baru. Yang dituntut dari sains adalah klaim-klaim Anda harus dapat dibuktikan secara objektif tanpa bias. Tanpa hal ini, klaim Anda akan terpuruk pada lembah pseudosains, secanggih apapun hasil percobaan Anda.

    Mengapa sains belum atau tidak membuktikan keberadaan hal-hal paranormal? Sederhana saja, terlalu sedikit atau malah tidak ada bukti yang mendukung keberadaanya. Jika dengan memijat aura, Anda bisa menjadi sembuh dan terbukti juga untuk pasien lain, komunitas dunia medis akan berterima kasih sekali.

    Dari sudut pandang keuangan, karena dana penelitian terbatas sementara banyak “ide-ide ilmiah”, maka tak peduli appaun idenya, baik itu yang normal maupun paranormal, akan dievalusi kelayakan studinya. Sejauh ini, hal-hal seperti supernatural belum memiliki bukti kuat dan bukan daerah utama untuk studi aktif karena kurangnya bukti pendukung (bukan berarti studi tersebut tidak ada, penelitian di area itu masih terus dilakukan).

    Jadi, bukan karena ilmuwan menolak untuk melihat bukti, tetapi memang karena tidak ada bukti untuk bisa dilihat.

    Bacaan tambahan:
    http://www.examiner.com/article/proo...on-researchers
    http://www.sciencebits.com/RandiPrize
    http://news.discovery.com/human/psyc...mal-130115.htm
    http://physics.about.com/od/physicsmtop/g/mond.htm
    http://www.sfgate.com/science/articl...le-2644406.php
    http://dbem.ws/FeelingFuture.pdf
    http://www.news.cornell.edu/stories/...ity-see-future
    http://news.discovery.com/human/psyc...ain-120912.htm
    http://www.csicop.org/specialarticle...s_psi_and_crow
    http://www.nytimes.com/2011/09/30/op...as30.html?_r=0
    http://www.scientificamerican.com/ar...out-relativity
    http://www.universetoday.com/33113/heliocentric-model/
    http://www.livescience.com/7691-evid...l-improve.html
    there are only 10 types of people in the world: those who understand binary and those who don't

Page 4 of 4 FirstFirst ... 234

Tags for this Thread

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •