Dew in the winter calls, open up...open up your window before the leaves fall!
Blossom dreams in gray how beautiful they would may.
---
A slice of sigh/I came to you in night/Stars upon/ we will call them : Our own
Dew in the winter calls, open up...open up your window before the leaves fall!
Blossom dreams in gray how beautiful they would may.
---
A slice of sigh/I came to you in night/Stars upon/ we will call them : Our own
Sabbe sattha bhavanthu sukhitatta.
Suka banget... Luv ur words, sis! Keep going!
Aku, hanyalah budak kata-kata.
Ikan mengejar liar bidik mercusuar, keramaian terjungkal di ekor matamu yang menatap nanar.
Demi bibir gelas wine, aku bukan perempuan lacur! Tapi pemungut remah nasi yang jatuh-jatuh di dagumu.
Aku tidak perlu berterima kasih, bergelunglah pada lingkar pinggulku.
Last edited by Alethia; 24-08-2012 at 07:03 PM.
Jangan kamu bilang dirimu kaya, bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
-Rendra
Di bawah bayang bulan menggerayang, hentak dangdut pinggiran, dan kantuk yang berjejal...seorang lelaki renta mengenang anaknya yang hilang. Buah hatinya itu merasuki keremangan malam, tersenyum sambil berbisik "Bapak, tenang saja, kalau aku dapat laki-laki kaya, Bapak aku berangkatkan haji"
Jangan kamu bilang dirimu kaya, bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
-Rendra
Boneka Wol
Diandra pulang dari sekolah. Sepatunya kotor ditempeli tanah, rambutmya tergerai begitu saja ke punggung. Meski begitu dia tetap saja tampak manis buatku. Tidak ada ritual cium tangan di rumah ini, aku bukan Habib yang punya kebijaksanaan setinggi langit. Begitu melempar tas sekolah ke pojokan, Diandra naik ke bale-bale tempat aku sedang merajut syal untuk hadiah liburannya. Ya, liburan harus dirayakan juga kan?.
"Bu, nanti syalnya Dinda pake ke sekolah ya?" Matanya berbinar-binar begitu melihat hasil rajutanku sudah sepanjang lengan bajunya.
Aku tersenyum. "Mana bisa dipakai ke sekolah, seragammu kan putih merah, syalnya warnanya orange, nanti kamu kelihatan seperti permen".
Diandra menghempaskan tubuhnya ke bale-bale sambil menatap kembang dan semak di halaman.
"Habis, mau dipake kemana Bu, kenapa sih kita ga liburan aja ke rumah Ayah?" tanya Diandara.
Aku diam, tanganku bergerak menyelesaikan rajutan dengan lebih cepat. Sepertinya anakku juga tak ingin melanjutkan pertanyaannya, dia sudah paham sekali bahwa aku tidak suka membahas masalah ayah, nenek, tante atau sepupunya , terutama pada saat aku sedang merajut.
Tak terasa sudah dua hari liburan sekolah, aku masih sibuk dengan rajutanku, kali ini aku membuatkan anakku topi dan sarung tangan, aku membuatnya dengan ukuran sedikit lebih besar, siapa tau suatu saat kami akan ke negri yang berlumuran salju, ya..aku merajut menggunakan imajinasiku, kali ini dengan level Insanity, meskipun aku tau, dengan pekerjaanku sebagai “agen pemasaran” sayur-mayur di pasar, hampir mustahil rasanya mengajak Diandara liburan ke luar desa, apalagi ke Eropa. Tapi semua orang harus punya mimpi, iya kan?
Diandara mengahabiskan masa liburannya dengan berdiam di pojokan sofa usang memainkan boneka-boneka dari wol sisa hasil rajutanku. Dia membangun istananya sendiri disana, bahkan dia membuatkan boneka-boneka itu rumah, mobil, dan ehm...kakek, nenek, ayah, ibu, dan adik. Aku tidak melarangnya melakukan itu, ataupun memaksanya ke luar rumah bermain dengan anak-anak tetangga, sampai suatu sore, ia naik lagi ke atas bale-bale, menemuiku.
"Ibu, kenapa semua orang sibuk mondar-mondir belakangan ini, kemarin aku liat Ibunya Arin berkunjung ke rumah di ujung gang, kenapa mereka tidak berkunjung ke rumah kita Bu?
Aku meletakkan rajutanku, menatap mata Diandra dalam-dalam,
"Sayang, kita tidak merayakan apa yang mereka rayakan."
"Lalu, kita merayakan apa Bu?" tanyanya lagi.
"Kita merayakan liburan, ingat kan syal yang Ibu buatkan untukmu?" Aku mencium kening Diandra dengan lembut.
Aku mulai merasa air mata menusuk-nusuk beakang kelopak mataku.Ada kesedihan dalam tanya anakku kali ini.
"Waktu sekolah liburan Natal, Ibu juga bilang begitu"
"Ya, kita merayakan liburan Natal kan Sayang, Ibu menghadiahmu dengan sekeranjang bola warna warni seperti yang kamu lihat di kartu-kartu Natal."
"Tapi...." pandangannya beralih ke patung kayu di depan pintu masuk lalu kembali menatapku.
"Tapi Bu, kenapa kita selalu di rumah? Kita juga tidak pergi ke gereja atau ke pura, Kenapa kita tidak pernah berkunjung ke rumah Nenek?" kali ini Diandra tidak memberiku kesempatan menarik nafas.
Diandara diam, aku juga. Sekarang anak ini terdengar menakutkan.
"Dinda sayang, kamu tidak punya Nenek...atau Ayah. Ibu tidak menikah, tidak sempat. Laki-laki yang menghamili Ibu sudah pergi jauh sebelum kamu lahir. Kamu sudah tau itu kan...Kita bukan sekumpulan boneka wol yang hidup bahagia di pojokan sofa!"
Aku berharap jawabanku cukup. Meski aku tidak yakin.
Diandra meringkuk seperti bola, lututnya hampir menyentuh dagu, wajahnya tertutup bayang-bayang matahari yang mulai melemah. Aku tak bisa jelas melihat ekspesinya. Aku ingin kembali merajut, melupakan kesedihan, tapi kebekuan Diandra seperti ingin mematahkan jarum rajutku.Sore itu berubah mencekam, bale-baleku terasa dingin seperti es. Tarikan nafas Diandara membuatku merinding, dengan rambut rambut acak-acakan yang tergantung di punggungnya, dia kelihatan seperti hantu dari masa laluku. Sekilas aku melihat ke arahnya, jantungku berdetak keras. Dia sedang menatapku dengan tatapan setajam pedang. Oh, aku tidak bisa berlindung lagi dibalik rajut-rajutanku, aku baru sadar anakku sudah mulai mengerti sekarang, bualanku soal merayakan liburan mungkin terdengar seperti pembelaan yang menyedihkan.
"Diandra...Nak.."aku memanggilnya lirih, lebih tepatnya memohon agar ia kembali ke bumi, ke bumi yang sudah aku ciptakan untuknya, bumi tanpa peraturan, bumi yang bebas bermain apa saja, bumi tanpa sentakan ba jingan yang dulu menghamiliku dan meninggalkan uang Dua Juta Rupiah sebagai biaya mengugurkan kandungan.
Lalu entah darimana, Diandra berkata dengan sangat pelan,
"Ibu seorang Kafir!"
Jangan kamu bilang dirimu kaya, bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
-Rendra
Sound of horizon
speaks upon
fuzzy but not unknown
the complexion, emerges
By me
i drink it
I shall not the one blamed
for decades of tales
and none awaken
Last edited by Alethia; 01-09-2012 at 11:53 AM.
Jangan kamu bilang dirimu kaya, bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
-Rendra
kisah diandara.
bagus bgt non![]()
Kabar gembira untuk kita semua, kini tai ada ekstraknya~