Page 4 of 9 FirstFirst ... 23456 ... LastLast
Results 61 to 80 of 167

Thread: Ukir Jemari Adinda

  1. #61
    Gambar mu di saku celana ku
    Monday, January 24, 2011

    gambar wajahmu tersimpan di saku celana
    kucuri selagi kau lengah

    bukan untuk di- mantrai
    atau disebar ke dunia maya

    hanya sekedar pengingat
    agar tak kukencani kau untuk kali ke dua!

    ---
    Siapa mampu menduga kedalam jiwa? Kau?...tidak juga. Aku? ah, aku tak punya jiwa...hanya selembar nyawa!..ahahaha

  2. #62
    di Jazz Bar
    October 28, 2010

    apa sempat kau tangkap
    geliat manja itu saat ku tatap?

    mungkin tak terlalu asing bagimu,
    perempuan ramai ramai menaruh harap
    dada tertegak
    bibir terkuak

    ah lelaki-ku...
    aku tau, yang kupunya hanya waktu
    sebelum malam ini ahirnya berlalu, di depan meja bar mengagumimu

    kau..sebuah gitar ..dan lirik lirk jazz yang menghipnotis



    (26/10/10) ...
    Siapa mampu menduga kedalam jiwa? Kau?...tidak juga. Aku? ah, aku tak punya jiwa...hanya selembar nyawa!..ahahaha

  3. #63
    Singgasana Kertas


    Singgasanaku terbuat dari kertas...
    berukir guratan
    dari sekumpulan mimpi mengelupas

    Tahta yang berajut perca cerita-cerita tak berlanjut...
    Halaman terahirnya, terkandas pada seringai malam yang ganas...

    Aku ratu
    Aku bisu
    Aku murid Yesus yang tak tersebut

    Dibalik kerudung senja, tlah kugumuli kekasihku-ku
    antara bibir basah dan goresan tinta

    Singgasana ku terbuat dari kertas...
    coba tak kau lekas-lekas hempas
    karena setiap syairnya...adalah nafas


    ----
    denpasar juni 5 2010
    Siapa mampu menduga kedalam jiwa? Kau?...tidak juga. Aku? ah, aku tak punya jiwa...hanya selembar nyawa!..ahahaha

  4. #64
    Ujung lidahku
    Saturday, May 15, 2010

    warna biru surut gelombang di matamu
    ilusi dari sebuah mimpi yang mati...
    tepat sebelum pergantian hari,
    terperangkap peluk-i sunyi

    kau...matahari
    dalam rindu jiwaku yang purbani

    seluk lekuk wajah purnama, sebagai cinta
    serupa alang alang basah di ujung lidah -

    ---
    Siapa mampu menduga kedalam jiwa? Kau?...tidak juga. Aku? ah, aku tak punya jiwa...hanya selembar nyawa!..ahahaha

  5. #65
    RATMI

    gelimang perhiasan
    ditubuhnya yang...ah,masih saja kencang
    rambut lurus, lembut teruntai di bahunya mulus

    aku pandangi dalam kekosongan
    meski ada tanya,
    yang tertahan di kerongkongan

    Ratmi...
    apa yang luput dari mataku
    adakah baris kalimat yang terhapus?

    terahir kau bilang :
    suamiku itu malas seperti siput, cari uang saja harus dipecut!!"
    "mbak, aku pinjam uangmu ya, aku mau nyusul mbak ke denpasar".
    "Siapa tau bisa cari kerja disana, paling ngga bantu bantu mbak masak"

    "masak buat siapa Rat?, aku belum punya suami" ujarku pelan

    "halah, apa aja..eh denger denger disana banyak restoran kan, siapa tau butuh pembantu"

    "Ya, terserah kamulah, besok aku pinjami uang"

    Sejak hijrah dari Pasuruan, Ratmi bekerja disebuah restoran milik salah seorang teman.Sudah 3 bulan, ia tinggalkan suami dan seorang anaknya yang masih bocah.. menggapai sebongkah realita yang, ia sendiri belum tau akan seperti apa..

    Ah, Ratmi..Ratmi, pada hasratnya yang begitu menggebu gebu, ku tak berdaya menolak, selalu saja begitu...ketika seorang teman wanita meminta pertolongan, aku tak kuasa walau untuk sekedar berbohong bahwa hidupku juga sebenarnya hampir tak tertolong.

    Semalam ia datang,
    bawa sekelumit cerita
    dan tumpukkan tipis uang

    cepat cepat ia beringsut dari lantai

    "Ratmi, tunggu!" cegahku
    "lebih baik uang ini untuk pulang kampung"

    "gak, mbak" ia lepaskan genggamanku perlahan
    "suamiku sudah kawin lagi, anakku dibawa sama ibu barunya"

    "lalu, buat apa kamu terus disini?, kan masih ada orangtuamu di kampung, pulanglah dulu, tengok mereka!" serak suaraku sedikit memaksa, padahal akupun belum mampu pulang ke kampung jenguk ibuku.ah...

    "mereka kan sudah tua, sebentar lagi juga mati!"

    aku tercekat.
    sedemikian sinis kah ratmi pada kampung halamannya?
    sedemikian gersangkah hingga tak satu kenangan mampu membujuknya pulang?

    Lagi lagi aku tertunduk..terdiam dalam kekosongan

    Aku memberi uang pada Ratmi yang kukenal lembut dan sabar
    lalu ia kini berubah yang sosok yang hampir tak ku kenal

    Masih terpelongo, Ratmi tiba tiba mencium keningku
    lalu melangkah keluar pintu
    menuju sedan berwarna putih
    didalamnya ada seorang laki laki yang sudah menunggu sedari tadi

    sebelum terbenam dalam kelam
    ratmi sempat berbisik

    "mbak juga harus cepat cepat cari suami, jangan pikirkan ratmi lagi, ratmi sudah mati, sekarang namaku Jenny"


    ----

    Denpasar 30 maret 2010,

    untuk adikku.
    Siapa mampu menduga kedalam jiwa? Kau?...tidak juga. Aku? ah, aku tak punya jiwa...hanya selembar nyawa!..ahahaha

  6. #66
    pelanggan setia beastmen85's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    The Dreamcloud
    Posts
    3,046
    iya @dinda, ga bercula ya ::ngakak::paling demen ibu penjual susu, dari jaman jebot msh bagus menurutku, kisahnya sungguh ironianyway semoga dia tidak menjual susu basiklo tidak pelanggan bisa ngacir

  7. #67
    untuk bapakku ' saidi situmorang alhm'...

    "Pak"
    March 6, 2010 at 7:01pm

    yang kukira hilang
    lebih mirip tilas tilas pendar kenangan
    raut sejumput senyum, saat sore di palembang...

    kucing air naiki tangga berlumut, tepi kali musi
    sepasang bangau putih, latari langit ke-emas emas an
    bocah kecil menggemaskan, berlari kecil kejar layang layang

    "Bapaak..!! layang layangku terbang...nyangkut di perahu itu...."
    "tak apa, besok bapak buatkan lagi, cuci tangan ya, kita makan dulu, tadi bapak dapat gabus yang besar besar"
    "waahh..horee"

    ah..bapak...bapak,
    layang layang berwarna kuning masih kusimpan
    tapi bapak keburu berpulang
    meski tak sempat melayang
    saat sore di musi itu
    belum mau hilang


    untuk saidi----
    Siapa mampu menduga kedalam jiwa? Kau?...tidak juga. Aku? ah, aku tak punya jiwa...hanya selembar nyawa!..ahahaha

  8. #68
    Quote Originally Posted by Wallpapur View Post
    iya @dinda, ga bercula ya ::ngakak::paling demen ibu penjual susu, dari jaman jebot msh bagus menurutku, kisahnya sungguh ironianyway semoga dia tidak menjual susu basiklo tidak pelanggan bisa ngacir
    jiaah...mr. papur
    dia selalu mucnul ditengah tengah kerusuhan...
    Siapa mampu menduga kedalam jiwa? Kau?...tidak juga. Aku? ah, aku tak punya jiwa...hanya selembar nyawa!..ahahaha

  9. #69
    Sedikit basah...


    batu batu masa lalu
    mengkristal
    di tubuh sintal

    buah jarak dipatuki gagak
    terapung
    di raut murung

    satu lagi rasa kita terkurung

    gelombang laut berkeras
    ini karang
    "kikis!
    sampai bersimpuh
    mengerang..."

    heeyy!! ini rasa! bunga..pelangi..buah perdu
    meski sesekali sendu

    ini hati,
    bukan sekerat daging tak bernadi

    carut marut badan beringsut
    kepal tangan teriaki gemintang,
    "jangan usik...
    biar berisik
    kami juga manusia tak perlu komat kamit
    kami bukan dedemit!!!"
    tak perlu ceramah

    malam ini
    cuma mau sedikit
    basahh...



    ---
    Selasa, March 2, 2010
    Siapa mampu menduga kedalam jiwa? Kau?...tidak juga. Aku? ah, aku tak punya jiwa...hanya selembar nyawa!..ahahaha

  10. #70
    Sekeranjang mimpi


    tumpukan rindu dalam ku
    aku tak yakin, apa akan sampai padamu
    atau tergeletak begitu saja
    tak bernyawa
    tak mampu berkata

    sekali saja, sayang
    bayang gelombang itu
    hampiri landai sisa waktu kita

    lalu aku akan pergi
    bawa sekeranjang mimpi itu

    apa aku kan sampai pada teduh matamu?
    sekali saja kuukir cinta disitu

    lalu akan kusembah
    segala dewa dalam segala rupa bunga
    jika saja aku tau bagaimana rasanya, memilikimu...



    ---
    February 22, 2010
    Siapa mampu menduga kedalam jiwa? Kau?...tidak juga. Aku? ah, aku tak punya jiwa...hanya selembar nyawa!..ahahaha

  11. #71
    RENI
    Wednesday, January 20, 2010

    Reni, anakku semata wayang, bermata bulat dengan wajah sayu. Parasnya juga lembut dan ayu. Reni..sudah kutinggal sejak usia 5 tahun, aku bercerai dari bapaknya dan sekarang Ia diasuh oleh ibu tirinya sedangkan aku merantau ke Kalimantan.

    Setelah remaja ia kerap menelponku minta uang jajan, beli bedak beli baju. Kuiyakan saja permintaanya, meskipun hasil jualan dari warung nasiku tak seberapa, tapi aku kasihan dengan anak itu,aku ingin membuatnya bahagia, seperti anak anak remaja lainnya.

    Hari ini Reni genap berusia 16tahun, "Bu, belikan aku sepatu ya" celotehnya ditelepon. Aku heran, baru kali ini ia minta sepatu, sebenarnya aku ingin menanyakan, apa ia ingin melanjutkan ke jenjang kuliah atau ingin langsung bekerja, tapi tampaknya ia lebih tertarik membicarakan sepatu, gaun model terbaru dan malah ingin mengecat rambut jadi merah, katanya.

    Dua bulan setelah anakku lulus sma, aku memutuskan pulang ke Lampung. Dengan mengumpulkan uang hasil berjualan nasi di pasar, aku ingin bertemu langsung dengan Reni dan mungkin juga dengan bapaknya, membicarakan masalah studi Reni, aku ingin ia jadi sarjana.

    Reni ga tinggal dirumah ini lagi! Minggat!. Aku tercekat, seorang wanita berpakaian mini, menyongsongku dengan sinis di depan rumah begitu aku menanyakan soal anakku. Kamu ibunya Reni kan? Wanita itu menatapku dari ujung kaki sampai ujung kepala. Aku tertegun, mungkin ini ibu tirinya Reni, pikirku. Dengar ya, anakmu itu sudah sebulan ga pulang pulang, aku pusing mengurusnya!, anak penjual nasi tapi tak tau diri, pulang sekolah kerjanya kelayapan di tempat karaoke...

    Reni..reni...anakku semata wayang,aku dengar dari tetangga tetangga kalau anakku sekarang tinggal di kompleks pelacuran. Mungkin ia tak ingin seperti ibunya, miskin dan hidup sendiri, Aku tak pernah mencari anakku, biarlah bagiku ia tetap menjadi gadis kecil yang lucu, sejak usia 5tahun, sejak kutinggalkan,
    aku tak pernah melihatnya lagi...


    ----
    Last edited by adinda; 17-09-2011 at 05:34 PM.
    Siapa mampu menduga kedalam jiwa? Kau?...tidak juga. Aku? ah, aku tak punya jiwa...hanya selembar nyawa!..ahahaha

  12. #72
    hahhh..hahh..hahhh

    cape euy ngopi

    *ngopy paste maksudnya

    ya beginilah ..jemari si adinda tidak sedang menulis, tapi sdg copas dari fb dan blog
    demi cintanya kpada para sesama tukang kopi yang maya...hehe

    ntar lanjut lagi yaaah
    *sok ada yang nungguin banget seh

    ya sdh
    lanjut cyyiiiiin
    Siapa mampu menduga kedalam jiwa? Kau?...tidak juga. Aku? ah, aku tak punya jiwa...hanya selembar nyawa!..ahahaha

  13. #73
    pelanggan setia beastmen85's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    The Dreamcloud
    Posts
    3,046
    atu2 @dinda, jgn sekaligus, biar pada penasaran

  14. #74
    atu atu atuukkk

    iya nih...
    abis baca2 puisi acep n hasan...jadi iri
    dengki dan
    tak bs memungkiri

    ahahaha

    pgn bikin juga..tapi isi kepala emang tak ada
    jadi...yah..copas lah tulisan2 jaman jebot itu
    Siapa mampu menduga kedalam jiwa? Kau?...tidak juga. Aku? ah, aku tak punya jiwa...hanya selembar nyawa!..ahahaha

  15. #75
    Waktu.
    Lari membawa pergi,
    ingatan kedalam diri.
    Sendiri.

    Kala menjadi rahasia
    menjelma diatas fana,
    Renta.

    Tegak namun terpinggir,
    hitung detak, darah berdesir

    helai rambut jatuh di pangku
    pertanda perjalanan tinggal separuh

    isyarat menghentak di cermin kayu

    meski belum lagi mau menyerah
    pada usia


    --Sept 21, hari lahir
    Last edited by adinda; 22-09-2011 at 07:09 PM.
    Siapa mampu menduga kedalam jiwa? Kau?...tidak juga. Aku? ah, aku tak punya jiwa...hanya selembar nyawa!..ahahaha

  16. #76
    Sebelum Pagi pada Sebuah Juli
    (edited by Mr. HA - Judul asli : Sebelum Juni mencium pagi)


    JULI pesisir, bulan kurus tinggal sesisir
    cahaya dari langit yang masih saja mentah

    menggerimis pada meja, pada gelas kopi
    mengacaukan baris warna-warni pelangi

    dia yang ke hatiku mengusikkan musik
    dengan selantun bisik, lirik-lirik akustik

    Where are you going? Looking for answers?

    Di dasar gelas itu, aku meringkuk
    Dengan kabut padat di mata,
    nyaris jadi tangis yang ingin sekali
    menyaingi gerimis cahaya tadi

    "Ini lagu terakhirku," katanya, dan matanya
    menumbuk pada mataku, seperti ada
    yang ingin dia tahu (kemana kau pulang?)
    dan ingin kuberi tahu (aku tak mau tahu!)

    Juli yang nyaris pagi, aku yang hampir terusir
    pergi sendiri begitu saja dari diri sendiri

    Aku kira, penjaga kafe itu, mengira aku mati
    Ia yang menambahkan kopi entah berapa kali

    Where are you going? Looking for answers?

    -- consider as my b;day gift
    Siapa mampu menduga kedalam jiwa? Kau?...tidak juga. Aku? ah, aku tak punya jiwa...hanya selembar nyawa!..ahahaha

  17. #77
    pelanggan tetap nerissa's Avatar
    Join Date
    Jul 2011
    Posts
    1,574
    berbeda hal nya dengan "wallpapur' yang sekarang sudah punya rumah sendiri, aku masih "menumpang' sama adinda...


    Suara Kendi


    Kendi batu di genggaman seorang ratu, yang juga terbuat dr batu
    tanyai ku sedari pagi
    "apa yang kau cari di taman ini?"
    "entahlah, mungkin punguti bunga bunga yang terjatuh..."
    "bunga bunga itu memang selalu terjatuh, mereka cantik, tapi rapuh!"

    aku menunduk, pungut sekutum tanjung...

    "dan apa, yang kau lakukan disini, selain membatu?" tanyaku tak kalah sengit

    "aku bangga membatu, tak perlu sakit hati atau sendu, tak seperti kau, tiap pagi punguti bunga bunga jatuh dengan wajah kuyu, bukankah esok, kuncup baru akan tumbuh?!"

    Pantulan wajahnya, yang entah berapa ribu kali, kulihat pada kelopak kelopak bunga yang jatuh"sahutku

    "olehmu, taman ini menjadi muram.." lirih kendi batu
    lihatlah air yang aliri seluruh penjuru taman....tak kembali, tak menguap jadi hujan.
    Pohon dan semak meranggas di siang kian panas.
    Seakan bersekongkol agar tak lagi bunga berkembang, agar tak lagi kau teringat pada kekasihmu yang hilang"

    ---
    Sabbe sattha bhavanthu sukhitatta.

  18. #78
    ★★★★★ itsreza's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    10,216
    nerissa kok ikut mengukir jari adinda?

  19. #79
    pelanggan tetap nerissa's Avatar
    Join Date
    Jul 2011
    Posts
    1,574
    ^belum punya rumah
    masih ngeteng om
    Sabbe sattha bhavanthu sukhitatta.

  20. #80
    pelanggan tetap nerissa's Avatar
    Join Date
    Jul 2011
    Posts
    1,574
    Tanya itu mencecar malamku / Antara liar nafas dan getar tubuh basah / Aku liar menantang, "Kapan kau datang?"
    Sabbe sattha bhavanthu sukhitatta.

Page 4 of 9 FirstFirst ... 23456 ... LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •