Gambar mu di saku celana ku
Monday, January 24, 2011
gambar wajahmu tersimpan di saku celana
kucuri selagi kau lengah
bukan untuk di- mantrai
atau disebar ke dunia maya
hanya sekedar pengingat
agar tak kukencani kau untuk kali ke dua!
---
Gambar mu di saku celana ku
Monday, January 24, 2011
gambar wajahmu tersimpan di saku celana
kucuri selagi kau lengah
bukan untuk di- mantrai
atau disebar ke dunia maya
hanya sekedar pengingat
agar tak kukencani kau untuk kali ke dua!
---
Siapa mampu menduga kedalam jiwa? Kau?...tidak juga. Aku? ah, aku tak punya jiwa...hanya selembar nyawa!..ahahaha
di Jazz Bar
October 28, 2010
apa sempat kau tangkap
geliat manja itu saat ku tatap?
mungkin tak terlalu asing bagimu,
perempuan ramai ramai menaruh harap
dada tertegak
bibir terkuak
ah lelaki-ku...
aku tau, yang kupunya hanya waktu
sebelum malam ini ahirnya berlalu, di depan meja bar mengagumimu
kau..sebuah gitar ..dan lirik lirk jazz yang menghipnotis
(26/10/10) ...
Siapa mampu menduga kedalam jiwa? Kau?...tidak juga. Aku? ah, aku tak punya jiwa...hanya selembar nyawa!..ahahaha
Singgasana Kertas
Singgasanaku terbuat dari kertas...
berukir guratan
dari sekumpulan mimpi mengelupas
Tahta yang berajut perca cerita-cerita tak berlanjut...
Halaman terahirnya, terkandas pada seringai malam yang ganas...
Aku ratu
Aku bisu
Aku murid Yesus yang tak tersebut
Dibalik kerudung senja, tlah kugumuli kekasihku-ku
antara bibir basah dan goresan tinta
Singgasana ku terbuat dari kertas...
coba tak kau lekas-lekas hempas
karena setiap syairnya...adalah nafas
----
denpasar juni 5 2010
Siapa mampu menduga kedalam jiwa? Kau?...tidak juga. Aku? ah, aku tak punya jiwa...hanya selembar nyawa!..ahahaha
Ujung lidahku
Saturday, May 15, 2010
warna biru surut gelombang di matamu
ilusi dari sebuah mimpi yang mati...
tepat sebelum pergantian hari,
terperangkap peluk-i sunyi
kau...matahari
dalam rindu jiwaku yang purbani
seluk lekuk wajah purnama, sebagai cinta
serupa alang alang basah di ujung lidah -
---
Siapa mampu menduga kedalam jiwa? Kau?...tidak juga. Aku? ah, aku tak punya jiwa...hanya selembar nyawa!..ahahaha
RATMI
gelimang perhiasan
ditubuhnya yang...ah,masih saja kencang
rambut lurus, lembut teruntai di bahunya mulus
aku pandangi dalam kekosongan
meski ada tanya,
yang tertahan di kerongkongan
Ratmi...
apa yang luput dari mataku
adakah baris kalimat yang terhapus?
terahir kau bilang :
suamiku itu malas seperti siput, cari uang saja harus dipecut!!"
"mbak, aku pinjam uangmu ya, aku mau nyusul mbak ke denpasar".
"Siapa tau bisa cari kerja disana, paling ngga bantu bantu mbak masak"
"masak buat siapa Rat?, aku belum punya suami" ujarku pelan
"halah, apa aja..eh denger denger disana banyak restoran kan, siapa tau butuh pembantu"
"Ya, terserah kamulah, besok aku pinjami uang"
Sejak hijrah dari Pasuruan, Ratmi bekerja disebuah restoran milik salah seorang teman.Sudah 3 bulan, ia tinggalkan suami dan seorang anaknya yang masih bocah.. menggapai sebongkah realita yang, ia sendiri belum tau akan seperti apa..
Ah, Ratmi..Ratmi, pada hasratnya yang begitu menggebu gebu, ku tak berdaya menolak, selalu saja begitu...ketika seorang teman wanita meminta pertolongan, aku tak kuasa walau untuk sekedar berbohong bahwa hidupku juga sebenarnya hampir tak tertolong.
Semalam ia datang,
bawa sekelumit cerita
dan tumpukkan tipis uang
cepat cepat ia beringsut dari lantai
"Ratmi, tunggu!" cegahku
"lebih baik uang ini untuk pulang kampung"
"gak, mbak" ia lepaskan genggamanku perlahan
"suamiku sudah kawin lagi, anakku dibawa sama ibu barunya"
"lalu, buat apa kamu terus disini?, kan masih ada orangtuamu di kampung, pulanglah dulu, tengok mereka!" serak suaraku sedikit memaksa, padahal akupun belum mampu pulang ke kampung jenguk ibuku.ah...
"mereka kan sudah tua, sebentar lagi juga mati!"
aku tercekat.
sedemikian sinis kah ratmi pada kampung halamannya?
sedemikian gersangkah hingga tak satu kenangan mampu membujuknya pulang?
Lagi lagi aku tertunduk..terdiam dalam kekosongan
Aku memberi uang pada Ratmi yang kukenal lembut dan sabar
lalu ia kini berubah yang sosok yang hampir tak ku kenal
Masih terpelongo, Ratmi tiba tiba mencium keningku
lalu melangkah keluar pintu
menuju sedan berwarna putih
didalamnya ada seorang laki laki yang sudah menunggu sedari tadi
sebelum terbenam dalam kelam
ratmi sempat berbisik
"mbak juga harus cepat cepat cari suami, jangan pikirkan ratmi lagi, ratmi sudah mati, sekarang namaku Jenny"
----
Denpasar 30 maret 2010,
untuk adikku.
Siapa mampu menduga kedalam jiwa? Kau?...tidak juga. Aku? ah, aku tak punya jiwa...hanya selembar nyawa!..ahahaha
iya @dinda, ga bercula ya ::ngakak::paling demen ibu penjual susu, dari jaman jebot msh bagus menurutku, kisahnya sungguh ironianyway semoga dia tidak menjual susu basiklo tidak pelanggan bisa ngacir![]()
untuk bapakku ' saidi situmorang alhm'...
"Pak"
March 6, 2010 at 7:01pm
yang kukira hilang
lebih mirip tilas tilas pendar kenangan
raut sejumput senyum, saat sore di palembang...
kucing air naiki tangga berlumut, tepi kali musi
sepasang bangau putih, latari langit ke-emas emas an
bocah kecil menggemaskan, berlari kecil kejar layang layang
"Bapaak..!! layang layangku terbang...nyangkut di perahu itu...."
"tak apa, besok bapak buatkan lagi, cuci tangan ya, kita makan dulu, tadi bapak dapat gabus yang besar besar"
"waahh..horee"
ah..bapak...bapak,
layang layang berwarna kuning masih kusimpan
tapi bapak keburu berpulang
meski tak sempat melayang
saat sore di musi itu
belum mau hilang
untuk saidi----
Siapa mampu menduga kedalam jiwa? Kau?...tidak juga. Aku? ah, aku tak punya jiwa...hanya selembar nyawa!..ahahaha
Sedikit basah...
batu batu masa lalu
mengkristal
di tubuh sintal
buah jarak dipatuki gagak
terapung
di raut murung
satu lagi rasa kita terkurung
gelombang laut berkeras
ini karang
"kikis!
sampai bersimpuh
mengerang..."
heeyy!! ini rasa! bunga..pelangi..buah perdu
meski sesekali sendu
ini hati,
bukan sekerat daging tak bernadi
carut marut badan beringsut
kepal tangan teriaki gemintang,
"jangan usik...
biar berisik
kami juga manusia tak perlu komat kamit
kami bukan dedemit!!!"
tak perlu ceramah
malam ini
cuma mau sedikit
basahh...
---
Selasa, March 2, 2010
Siapa mampu menduga kedalam jiwa? Kau?...tidak juga. Aku? ah, aku tak punya jiwa...hanya selembar nyawa!..ahahaha
Sekeranjang mimpi
tumpukan rindu dalam ku
aku tak yakin, apa akan sampai padamu
atau tergeletak begitu saja
tak bernyawa
tak mampu berkata
sekali saja, sayang
bayang gelombang itu
hampiri landai sisa waktu kita
lalu aku akan pergi
bawa sekeranjang mimpi itu
apa aku kan sampai pada teduh matamu?
sekali saja kuukir cinta disitu
lalu akan kusembah
segala dewa dalam segala rupa bunga
jika saja aku tau bagaimana rasanya, memilikimu...
---
February 22, 2010
Siapa mampu menduga kedalam jiwa? Kau?...tidak juga. Aku? ah, aku tak punya jiwa...hanya selembar nyawa!..ahahaha
RENI
Wednesday, January 20, 2010
Reni, anakku semata wayang, bermata bulat dengan wajah sayu. Parasnya juga lembut dan ayu. Reni..sudah kutinggal sejak usia 5 tahun, aku bercerai dari bapaknya dan sekarang Ia diasuh oleh ibu tirinya sedangkan aku merantau ke Kalimantan.
Setelah remaja ia kerap menelponku minta uang jajan, beli bedak beli baju. Kuiyakan saja permintaanya, meskipun hasil jualan dari warung nasiku tak seberapa, tapi aku kasihan dengan anak itu,aku ingin membuatnya bahagia, seperti anak anak remaja lainnya.
Hari ini Reni genap berusia 16tahun, "Bu, belikan aku sepatu ya" celotehnya ditelepon. Aku heran, baru kali ini ia minta sepatu, sebenarnya aku ingin menanyakan, apa ia ingin melanjutkan ke jenjang kuliah atau ingin langsung bekerja, tapi tampaknya ia lebih tertarik membicarakan sepatu, gaun model terbaru dan malah ingin mengecat rambut jadi merah, katanya.
Dua bulan setelah anakku lulus sma, aku memutuskan pulang ke Lampung. Dengan mengumpulkan uang hasil berjualan nasi di pasar, aku ingin bertemu langsung dengan Reni dan mungkin juga dengan bapaknya, membicarakan masalah studi Reni, aku ingin ia jadi sarjana.
Reni ga tinggal dirumah ini lagi! Minggat!. Aku tercekat, seorang wanita berpakaian mini, menyongsongku dengan sinis di depan rumah begitu aku menanyakan soal anakku. Kamu ibunya Reni kan? Wanita itu menatapku dari ujung kaki sampai ujung kepala. Aku tertegun, mungkin ini ibu tirinya Reni, pikirku. Dengar ya, anakmu itu sudah sebulan ga pulang pulang, aku pusing mengurusnya!, anak penjual nasi tapi tak tau diri, pulang sekolah kerjanya kelayapan di tempat karaoke...
Reni..reni...anakku semata wayang,aku dengar dari tetangga tetangga kalau anakku sekarang tinggal di kompleks pelacuran. Mungkin ia tak ingin seperti ibunya, miskin dan hidup sendiri, Aku tak pernah mencari anakku, biarlah bagiku ia tetap menjadi gadis kecil yang lucu, sejak usia 5tahun, sejak kutinggalkan,
aku tak pernah melihatnya lagi...
----
Last edited by adinda; 17-09-2011 at 05:34 PM.
Siapa mampu menduga kedalam jiwa? Kau?...tidak juga. Aku? ah, aku tak punya jiwa...hanya selembar nyawa!..ahahaha
hahhh..hahh..hahhh
cape euy ngopi
*ngopy paste maksudnya
ya beginilah ..jemari si adinda tidak sedang menulis, tapi sdg copas dari fb dan blog
demi cintanya kpada para sesama tukang kopi yang maya...hehe
ntar lanjut lagi yaaah
*sok ada yang nungguin banget seh
ya sdh
lanjut cyyiiiiin
Siapa mampu menduga kedalam jiwa? Kau?...tidak juga. Aku? ah, aku tak punya jiwa...hanya selembar nyawa!..ahahaha
atu2 @dinda, jgn sekaligus, biar pada penasaran![]()
atu atu atuukkk
iya nih...
abis baca2 puisi acep n hasan...jadi iri
dengki dan
tak bs memungkiri
ahahaha
pgn bikin juga..tapi isi kepala emang tak ada
jadi...yah..copas lah tulisan2 jaman jebot itu![]()
Siapa mampu menduga kedalam jiwa? Kau?...tidak juga. Aku? ah, aku tak punya jiwa...hanya selembar nyawa!..ahahaha
Waktu.
Lari membawa pergi,
ingatan kedalam diri.
Sendiri.
Kala menjadi rahasia
menjelma diatas fana,
Renta.
Tegak namun terpinggir,
hitung detak, darah berdesir
helai rambut jatuh di pangku
pertanda perjalanan tinggal separuh
isyarat menghentak di cermin kayu
meski belum lagi mau menyerah
pada usia
--Sept 21, hari lahir
Last edited by adinda; 22-09-2011 at 07:09 PM.
Siapa mampu menduga kedalam jiwa? Kau?...tidak juga. Aku? ah, aku tak punya jiwa...hanya selembar nyawa!..ahahaha
Sebelum Pagi pada Sebuah Juli
(edited by Mr. HA - Judul asli : Sebelum Juni mencium pagi)
JULI pesisir, bulan kurus tinggal sesisir
cahaya dari langit yang masih saja mentah
menggerimis pada meja, pada gelas kopi
mengacaukan baris warna-warni pelangi
dia yang ke hatiku mengusikkan musik
dengan selantun bisik, lirik-lirik akustik
Where are you going? Looking for answers?
Di dasar gelas itu, aku meringkuk
Dengan kabut padat di mata,
nyaris jadi tangis yang ingin sekali
menyaingi gerimis cahaya tadi
"Ini lagu terakhirku," katanya, dan matanya
menumbuk pada mataku, seperti ada
yang ingin dia tahu (kemana kau pulang?)
dan ingin kuberi tahu (aku tak mau tahu!)
Juli yang nyaris pagi, aku yang hampir terusir
pergi sendiri begitu saja dari diri sendiri
Aku kira, penjaga kafe itu, mengira aku mati
Ia yang menambahkan kopi entah berapa kali
Where are you going? Looking for answers?
-- consider as my b;day gift![]()
Siapa mampu menduga kedalam jiwa? Kau?...tidak juga. Aku? ah, aku tak punya jiwa...hanya selembar nyawa!..ahahaha
berbeda hal nya dengan "wallpapur' yang sekarang sudah punya rumah sendiri, aku masih "menumpang' sama adinda...
Suara Kendi
Kendi batu di genggaman seorang ratu, yang juga terbuat dr batu
tanyai ku sedari pagi
"apa yang kau cari di taman ini?"
"entahlah, mungkin punguti bunga bunga yang terjatuh..."
"bunga bunga itu memang selalu terjatuh, mereka cantik, tapi rapuh!"
aku menunduk, pungut sekutum tanjung...
"dan apa, yang kau lakukan disini, selain membatu?" tanyaku tak kalah sengit
"aku bangga membatu, tak perlu sakit hati atau sendu, tak seperti kau, tiap pagi punguti bunga bunga jatuh dengan wajah kuyu, bukankah esok, kuncup baru akan tumbuh?!"
Pantulan wajahnya, yang entah berapa ribu kali, kulihat pada kelopak kelopak bunga yang jatuh"sahutku
"olehmu, taman ini menjadi muram.." lirih kendi batu
lihatlah air yang aliri seluruh penjuru taman....tak kembali, tak menguap jadi hujan.
Pohon dan semak meranggas di siang kian panas.
Seakan bersekongkol agar tak lagi bunga berkembang, agar tak lagi kau teringat pada kekasihmu yang hilang"
---
Sabbe sattha bhavanthu sukhitatta.
^belum punya rumah
masih ngeteng om![]()
Sabbe sattha bhavanthu sukhitatta.
Tanya itu mencecar malamku / Antara liar nafas dan getar tubuh basah / Aku liar menantang, "Kapan kau datang?"
Sabbe sattha bhavanthu sukhitatta.