Dulu waktu biaya kesehatan masih ditanggung/diganti penuh (100%) oleh perusahaan rasa2nya setiap berobat (termasuk rawat inap)
tanpa minta pun saya selalu diberikan rincian biayanya sampe sangat detail
bahkan sampe biaya beli perban misalnya, dan saya pun ndak berminat untuk cross check nilai2nya soale bagian HRD pun cukup teliti memeriksa angka2nya dan akan klarifikasi ke RS kalo menemukan angka yg 'mencurigakan' dgn jumlah yg signifikan. Alhamdulillah saya ndak pernah ada pertanyaan2 dari HRD dan biaya penggantinya pun selalu lancar. Artinya, pihak RS/dokter ndak pernah mark up biayanya.
Beberapa kasus yg pernah saya tahu,
mark up biaya biasanya justru dilakukan oleh pihak karyawan 'nakal' spy dapat biaya penggantian dr perusahaan yg lebih besar, jadi setiap mereka sakit bukannya rugi tapi malah untung.
Ada juga RS/dokter 'nakal' yg menawarkan "biayanya mau ditulis berapa, pak/bu?". Ndak jarang
ada juga karyawan yg nekat mengklaim kwitansi orang lain, bahkan kwitansi fiktif, dgn mengatasnamakan keluarga (istri/anak). Syaratnya cuma 'berani malu' kalo mesti ditanya oleh HRD dgn resiko angkanya akan direvisi bahkan yg terburuk sama sekali ndak dapat penggantian. Alhamdulillah, bukan saya banget.
Sekarang, setelah kerja freelance, saya boro2 ngecek rincian biaya tapi malah ndak pernah pedulikan lagi bukti kwitansi pembayaran. Untungnya, mudah2an bisa seterusnya, ndak pernah lagi berobat ke dokter 'kelas berat' (spesialis penyakit berat) lagi soale sekarang dah ndak kayak dulu lagi yg ndak pernah mikir kelas dan biaya pokoke yg penting sembuh. Kalo sekarang yg paling penting: selalu jaga kesehatan.
---------- Post Merged at 11:34 PM ----------
Oops...sori. OOT yak?
