Benarkah bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM) hanya untuk orang miskin?
Pertanyaan ini timbul ketika saya melihat berita televisi dan juga langsung di kantor pos
penyalur BLSM, dimana pada kenyataannya penerima tdk seperti orang miskin atau kaum
duafa. Jujur saja, melihat kenyataan penerima BLSM sebagai salah satu dari kompensasi
kenaikan harga BBM, pemahaman arti kata miskin sejak kecil tidak relevan lagi. Bahkan
hebatnya lagi kata miskin dalam kasus BLSM bukan hanya sekedar tidak cocok lagi dgn
kamus bahasa
---------- Post Merged at 07:34 PM ----------
Punya Motor, BB, dan Gelang Emas Rela Antri BLSM?
Sungguh menyesakkan menemukan kenyataan. Bahwa dana kompensasi dari pemerintah
untuk rakyat susah akibat kenakan harga bahan bakar minyak banyak yang salah saasran.
Membaca berita tidak sedikit para penerima bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM)
datang dengan mengendarai motor dan bawa BlackBerry atau ponsel.
Bahkan ada yang datang dengan mengenakan gelang emas di lengan dan pekerjaan suaminya
berwiraswasta. Sementara ada yang datang dengan pakaian lusuh malah tdk menerima undangan
untuk pengambilan BLSM.
Apa tidak malu bisa beli BB masih dengan rela antri bantuan sosial dari pemerintah yang seharusnya
buat orang yang tidak mampu yang boro-boro bisa membeli BB? Mau beli beras untuk makan hari
itu saja masih harus berpikir keras.
Semurah-murahnya BB, pasti masih mencapai ratusan ribu. Belum lagi buat beli pulsa untuk koneksi
internet yang mencapai puluhan ribu setiap bulannya. Ini benar-benar keterlaluan. Hal ini sudah menjadi
penyakit di negeri kita. Banyak yang sengaja memiskinkan diri demi untuk mengurangi kesempatan orang
miskin mendapatkan bagiannya.
Kalau pun kepalang basah sudah mendapat jatah. Ya punya rasa malu sedikitlah. Itu BB disimpan di
rumah kenapa? Sudah mengaku orang tidak mampu masih mau bergaya. Main BBM-an segala. Bagi orang
yang tidak mampu mana sempat berpikir begituan. Yang terpikir. Bagaimana bisa makan dan menyekolahkan anak.
Kejadian ini baru di satu tempat seperti yang dilaporkan pada tulisan di atas. Kita tidak bisa memungkiri
kejadian ini akan terjadi di tempat lain. Bisa jadi modusnya adalah sanak-saudara bagian pegawai yang mendata
yang akan mendapat prioritas. Memanfaatkan kesempatan. Tidak peduli mampu atau tidak mampu. Yang penting
target tercapai. Buat apa susah-susah mendata.
Mudah-mudahan beritanya salah. Yang datang bawa motor, BB, dan gelang emas itu hanya berbaik hati mewakili
tetangganya yang benar-benar susah. Terlepas beritanya salah atau benar. Melihat realita di lapangan memang
pemberian bantuan ini banyak yang salah sasaran. Kita percaya, kalau pemerintah mau lebih menggunakan hati
dan tenaga untuk mendata.Sebenarnya masih banyak rakyat miskin yang tinggal jauh di kampung-kampung hidup
dalam keterasingan dan tak tersentuh bantuan.
Bila melihat kenyataan ini, seharusnya program BLSM dihentikan dulu sampai ada verifikasi data penerima yang valid.
Karena tujuannya tidak sampai pada sasaran. Manfaatnya sungguh jauh dari harapan. Pemerintah tidak pernah mau
belajar dari pengalaman sebelumnya. Ini benar-benar namanya mempermainkan rakyat.
Bagi yang masih termasuk mampu sampai rela mengantri demi bantuan sosial yang bukan menjadi haknya. Cobalah
memiliki sedikit malu. Atau memang sudah ketularan kebanyakan pejabat kita yang memang sudah kehilangan rasa
malunya? Cobalah contoh seorang satpam yang walau masih termasuk tidak mampu tapi masih malu untuk mendapatkan
BLSM itu. Jangan bikin malu, ah! kompasiana.com
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)






Reply With Quote







)
