Quote Originally Posted by ndugu View Post
bundana + mbok:

i think pointnya bukan itu. kalo saya sih ngeliat dari videonya, si cewe ini memang bener mengkritisi sistem pendidikan di situ. kan menurutnya public school edu system meng-train worker, bukan thinker. murid didorong untuk menghapal dan mengejar nilai, bukan berpikiran kritis (sounds familiar? ) regardless dia valedictorian ato ngga, semua murid perlu melihat ke dalam diri sendiri. mungkin dia berpikir terlalu kritis makanya berada dalam keadaan limbo sekarang dan kalo dia bisa berpikir begitu, kurasa dia pasti juga akan pernah melewati tahap mempertanyakan semua pertanyaan2 mbok di atas

tradisi gap year lebih populer di inggris, amrik ngga begitu. dan tidak setiap orang udah tau apa yang akan dia lakukan saat dia besar nanti loh. saya sampe lulus kuliah pun masih sering menyanyakan diri pertanyaan yang sama. even right now. serasa abg aja, sampe skarang masih mencari jati diri saya kenel seorang temen kuliah dulu, one of the smartest person di kampus (i think she was a valedictorian too), dan pernah mengeluh hal yang mirip, ngga tau mau spesialisasi ke apa. dalam hal ini agak mirip saya, karena problemku juga, interestku terlalu luas dan ga tau mau ke mana. dia akhirnya kuliah ke cornell univ (sala satu ivy league).

dalam video ini, yang ditekankan oleh valedictorian ini adalah sistem pendidikan sekolah umum di amrik ini yang terlalu fokus pada standardized exams, dan memproduksi murid sebagai robot bukannya menginspirasi, potensi2 murid banyak yang tidak tergali. tapi tentu aja, dalam hal ini pasti ada 2 sisi yang berperan, sekolah dan individu murid. bisa jadi dua2nya sama2 bisa bermasalah.
Yang mengajarkan mbok untuk berpikir secara kritis itu orang tua. Yang mengajak mbok untuk berpikir tentang jati diri dan masa depan juga orang tua. Orangtua mbok ndak pernah mengharap itu semua diajarkan di sekolah.

The problem these days people (parents & their kids) expect too much from school. Orangtua dan anak-anak itu berharap bersekolah ndak hanya untuk menjadi pintar tapi juga kritis, mature, sehat, terkenal, jadi idola, pokoknya serba bisa deh. Lha.. Apa peran para orangtua? Apa peran orangtua si valedictorian itu, ngasih sandang dan pangan tok?

Do they actually spend time with her talking about her life, her future, herself? Do they actually live as the role model for their daughter? Do they actually inspire her to be someone someday?

To me, she is a typical person who blames the world for their own failure like parents who blame the school for their own parenting failure.