Page 1 of 5 123 ... LastLast
Results 1 to 20 of 89

Thread: Pidato Yang Menampar Dunia Pendidikan

  1. #1
    Chief Cook etca's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    aarde
    Posts
    11,168

    Cool Pidato Yang Menampar Dunia Pendidikan

    Kita tentu sudah terbiasa melihat seorang lulusan terbaik dari sebuah sekolah atau kampus diundang untuk maju kedepan mimbar dan memberikan pidatonya mengenai predikat lulusan terbaik yang telah diterimanya. Umumnya para lulusan terbaik ini akan mengungkapkan betapa bersyukurnya mereka atas prestasi yang telah dicapainya tersebut dan mengucapkan banyak sekali untaian ucapan terimakasih pada orang-orang yang menurut mereka telah berjasa membantu mereka meraih predikat tersebut.

    Namun bagaimana jika pidato yang disampaikan tersebut bukannya menunjukan betapa bangganya sang lulusan akan predikat tersebut namun justru sebuah pidato yang sangat brilian dan mecengangkan yang justru menampar secara keras wajah dunia pendidikan. Pidato ini disampaikan oleh seorang lulusan dari sebuah Universitas (pada beberapa sumber dikatakan bahwa ini pada jenjang pendidikan setingkat SMA) terkemuka diluar negeri. Berikut ini isi pidato tersebut yang Saya sadur dari sebuah sumber.

    Sedangkan untuk videonya bisa Anda lihat disini.



    “Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya. Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada.

    Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi musim dingin ini dan menuju tahap berikut yang diharapkan kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.

    Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – bukan pekerja. Pekerja adalah orang yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya. Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik. Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat.

    Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asyik membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu. Jadi, saya penasaran, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam kehidupan saya?

    Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar. Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan…….”
    Yah inilah wajah pendidikan di dunia saat ini. Tak perlu jauh-jauh melihat keluar negeri, mari kita tengok saja di negara kita sendiri. Pendidikan yang kita jalankan lebih banyak menitik beratkan pada nilai (nilai UN atau IPK). Pendidikan yang seharusnya lebih menekankan pada proses dan pengembangan potensi peserta didik justru terkadang mematikan potensi itu. Siswa, serta juga mahasiswa, didoktrin untuk terus menghapalkan dan mempelajari berbagai materi yang lucunya sebagian besar justru tidak akan berguna saat mereka bekerja ataupun hidup bermasyarakat.

    Berbagai kegiatan positif yang membantu pengembangan potensi peserta didik dilingkungan pendidikan, seperti ekstrakulikuler di sekolah atau berbagai jenis himpunan dan UKM di Perguruan Tinggi, justru dibelenggu dengan pembatasan anggaran dan pemberlakuan jam kegiatan. Lembaga pendidikan seakan hanya ingin mengembangkan potensi akademis peserta didik dan melupakan berbagai potensi lain yang mungkin dimiliki peserta didik tersebut.

    Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa sekolah dan kuliah itu tidaklah penting karena pendidikan membuat kita memiliki pengetahuan. Tapi alangkah lebih baik jika pengetahuan itu juga ditunjang dengan pengembangan pola pikir peserta didik sehingga kita mampu menggunakan pengetahuan itu dengan cara yang paling bijaksana dan tepat. Bukankah pendidikan seharusnya membantu peserta didik untuk mengetahui siapa dirinya serta apa potensinya dan menyediakan segala sarana dan prasarana sehingga potensi itu bisa berkembang dengan sebaik-baiknya sehingga mereka mampu sukses dalam hidupnya.

    Saya jadi teringat sebuah kalimat yang menurut Saya sangat mengena, tapi Saya lupa pernah membaca atau melihatnya dimana. "Orang-orang yang dulunya adalah siswa berprestasi di kelasnya umumnya akan berakhir sebagai seorang pegawai dari sebuah perusahaan, sementara teman-teman mereka yang dulunya biasa-biasa saja atau bahkan mungkin bodoh akan menjadi orang-orang yang menjadi pemilik perusahaan yang menggaji mereka". Sebuah kalimat yang lebih menohok pernah diutarakan oleh Paulo Freire, jika Saya tidak salah ingat, "Nenekku menginginkanku menjadi orang pintar, maka Ia melarangku ke sekolah".


    Sumber: http://tobeeinspired.blogspot.com/20...#ixzz2YC1c5kGJ

  2. #2
    Chief Cook ndableg's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    5,910
    She will be... obedient worker..

    Ato mgk ga lagi.. karena ud capek..

  3. #3
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Ini topik menarik.

    Tampar dunia pendidikan atau tampar muka masyarakat sendiri?

    Ane batasi pada kasus pendidikan di Indonesia. Coba anda yg pernah sekolah atau kuliah, lebih memilih SMA atau SMK? Lebih memilih Universitas atau Politeknik? Lebih memilih kerja kantoran atau buka gerai ponsel? Lebih menghargai lulusan SMK atau SMA? Lebih menghargai lulusan Politeknik atau Universitas? Lebih menghargai tukang bakso atau karyawan perusahaan besar?

    Sistem pendidikan yg dibuat dan nilai-nilai yg dianut oleh masyarakat saling mengisi satu sama lain. Jadi lingkaran setan? Tidak. Bagaimanapun masyarakat adalah subyek, mereka penentu sistem. Kalau ingin sistem pendidikannya bagus, mulailah dgn mengubah nilai-nilai yg dipegang oleh masyarakat tsb. Sistem pendidikan yg ada memperlihatkan nilai-nilai apa yg dipegang oleh masyarakat tsb.


  4. #4
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,958
    Setidaknya dia sadar kalau dia adalah budak sistem. Dari sadar menjadi punya pilihan untuk tetap ada di sistem, keluar dari sistem, atau menciptakan sistem baru. Ironisnya, butuh jadi seorang valedictorian untuk menyadarinya
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  5. #5
    juragan kopi noodles maniac's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    Noodle Cafe
    Posts
    15,927
    Ah tusc, gara-gara elu gw jadi langsung browsing deh tuscany

    Valedictorian - Wikipedia, the free encyclopedia
    en.wikipedia.org/wiki/Valedictorian‎
    Valedictorian is an academic title conferred upon the student who delivers the closing or farewell statement at a graduation ceremony (called a valedictory).
    Quote Originally Posted by purba
    Ini topik menarik.

    Tampar dunia pendidikan atau tampar muka masyarakat sendiri?
    Keduanya aja deh

    Btw topik bagus nih, ca

    Sekolah dah umpama belenggu penjara dan UN dah kayak eksekusi massal para tahanan (baca:siswa). Ketika gagal dieksekusi (baca:lulus) maka harus dieksekusi berulang-ulang agar layak diterima di masyarakat dan dunia perbudakan (baca:kerja). Menyedihkan
    Jika menurutmu hidup ini tidak menarik, maka buatlah hidupmu semenarik mungkin - Shinsaku Takasugi

    Impossible is nothing!

  6. #6
    ngga segitunya deh.
    mata Ujian SD kan basic need banget, Math, Bahasa, dan IPA. SMP ditambah English, sedang SMA Math, Bahasa, English, Fisika, Kimia, Biologi.
    UN SD dan SMP menjadi spaltan, karena lebutan di SMP/SMA Favolite<<< Ini ambisi olang tua.

    Untuk tingkatan SMA sebenalnya lebih mudah, kalena nilai 6 cukup untuk lulus, dan nilai UN SMA juga tidak menentukan penelimaan di SMBPTN, dan cukup banyak PTN yang membuka jalul khusus bidang seni, olahlaga dll

  7. #7
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    masyarakat yg menciptakan sistem atau praktisi pendidikan plus pemerintah yg memberlakukan sistem serta tidak konsisten memberlakukannya? contoh simpelnya, ada surat edaran ke semua tk di jawa tengah untuk melarang tk mengajarkan calistung ke siswanya. tapi membiarkan sd tetap mengadakan tes masuk. kontradiktip kan?

  8. #8
    tapi SD di depan lumah, ngga pake tes masuk, Bude

  9. #9
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    Quote Originally Posted by Zhazha View Post
    tapi SD di depan lumah, ngga pake tes masuk, Bude
    dan ga semua sd konsisten seperti itu, nak. di belakang rumah budhe sdnya juga ga ada tes masuk, tapi itu juga demi menjaring siswa krn mereka kekurangan siswa. sd nya kak naomi juga ga pake test masuk, tapi pas masuk nanti ada tes awal untuk pengelompokan siswa. dan itu menurut gurunya kak naomi, berat menerima siswa yg sama sekali blum bisa calistung krn dikejar kurikulum yg berat dan padat utk siap di kelas 2

  10. #10
    Ini sepertinya (seperti kata purba) lebih ke nilai2 masyarakat bukan pendidikan ansich.

    Eh, ini pidato di mana ya? di US kah? Kirain US lebih tidak terpengaruh soal tingkatan-tingkatan.

  11. #11
    juragan kopi noodles maniac's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    Noodle Cafe
    Posts
    15,927
    Quote Originally Posted by zhazha
    UN SD dan SMP menjadi spaltan, karena lebutan di SMP/SMA Favolite<<< Ini ambisi olang tua.
    Ada benernya juga sih, tapi di lingkungan rumah gw gak harus dapet SMP/SMA favorit tuh, udah lulus aja syukur alhamdulillah. Ijazah modal buat cari kerja

    Quote Originally Posted by zhazha
    Untuk tingkatan SMA sebenalnya lebih mudah, kalena nilai 6 cukup untuk lulus, dan nilai UN SMA juga tidak menentukan penelimaan di SMBPTN, dan cukup banyak PTN yang membuka jalul khusus bidang seni, olahlaga dll
    Siapa bilang gampang? lagi-lagi ngambil contoh di lingkungan rumah gw. Untuk dapetin nilai bagus tuh susah lho. Makanya ini yang sempet bikin gw dan kakak gw dulu tergerak untuk bikin les kecil-kecilan, prihatin sama keadaan mereka. Bayaran les semampunya aja karena gw paham dengan kondisi mereka. Tujuan utamanya adalah untuk mengupgrade otak mereka. Khususnya untuk pelajaran matematika, IPA dan bahasa Inggris. UN di daerah kayak gw itu dengan tipe soal yang standar Jakarta susah lho, bakal banyak yang gak lulus. Makanya gw bilang UN itu laiknya eksekusi. Yang terjadi kemudian? sekolah secara kompromistis dengan para siswanya bocorin soal ujian ato bahkan terang-terangan ngebantu pas ujian. Harapannya tentu banyak siswanya yang lulus dan sekolahnya tetep eksis at least terjaga namanya.

    Itu terjadi tahun 2001-2008 lah yah... sekarang sih kayaknya kondisi udah berubah, alhamdulillah sekarang banyak anak-anak di rumah gw yang udah lulus sekolah SD, SMP ato SMA mo masuk sekolah negeri. Bukan favorit! karena mereka sadar dengan kapasitas mereka masih belum mampu untuk bisa menembus sekolah-sekolah negeri yang favorit. Sekarang banyak juga selepas lulus SMA/SMK ada itikad mo kuliah. Dulu kuliah itu cuma mimpi, yang bisa kuliah cuma orang kaya
    Jika menurutmu hidup ini tidak menarik, maka buatlah hidupmu semenarik mungkin - Shinsaku Takasugi

    Impossible is nothing!

  12. #12
    nah, itukan satu bukti, bahwa kesadalan tentang hakikat dali sebuah pendidikan sudah cukup memasyalakat, setidaknya dilingkungan lumah nCang Nudel

  13. #13
    juragan kopi noodles maniac's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    Noodle Cafe
    Posts
    15,927
    Pendidikan itu penting kok, zha. Cuma emang metode mengajar di sekolah yang masih banyak yang konvensional dan cenderung monolog tanpa melibatkan interaksi dan diskusi dengan para siswa itu yang bikin sekolah udah kayak formalitas aja. Kayak di pidato yang dipost etca, menjadi murid terpintar/berprestasi terus apa? yang ada malah ketakutan tuh...

    Makanya gw setuju dengan pendapat etca yang ini..

    Pendidikan yang seharusnya lebih menekankan pada proses dan pengembangan potensi peserta didik justru terkadang mematikan potensi itu. Siswa, serta juga mahasiswa, didoktrin untuk terus menghapalkan dan mempelajari berbagai materi yang lucunya sebagian besar justru tidak akan berguna saat mereka bekerja ataupun hidup bermasyarakat.
    dan juga ini...

    alangkah lebih baik jika pengetahuan itu juga ditunjang dengan pengembangan pola pikir peserta didik sehingga kita mampu menggunakan pengetahuan itu dengan cara yang paling bijaksana dan tepat. Bukankah pendidikan seharusnya membantu peserta didik untuk mengetahui siapa dirinya serta apa potensinya dan menyediakan segala sarana dan prasarana sehingga potensi itu bisa berkembang dengan sebaik-baiknya sehingga mereka mampu sukses dalam hidupnya.
    Jika menurutmu hidup ini tidak menarik, maka buatlah hidupmu semenarik mungkin - Shinsaku Takasugi

    Impossible is nothing!

  14. #14
    pelanggan setia Porcelain Doll's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    6,347
    g setuju banget....jadi yg terpintar di kelas ga bikin ngerasa aman
    apa gunanya nilai A dst kalo di kehidupan luar sama sekali ga berguna
    cara2 survive yg dibutuhin justru ga diajarin
    Popo Nest

  15. #15
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    Quote Originally Posted by danalingga View Post
    Ini sepertinya (seperti kata purba) lebih ke nilai2 masyarakat bukan pendidikan ansich. Eh, ini pidato di mana ya? di US kah? Kirain US lebih tidak terpengaruh soal tingkatan-tingkatan.
    nilai2 masyarakat yg bikin itu siapa? anak2 ikut les tambahan demi nilai di sekolahnya kompetitif. itu masih mending punya kesadaran utk m'perbaiki diri, gimana dgn yg lebih suka nyontek ato ortunya nyogok gurunya? di lingkungan gw ada yg begono. ato peraturan pendidikan udah dibuat eh dilanggar juga ga ada sanksi

  16. #16
    Chief Cook etca's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    aarde
    Posts
    11,168
    Quote Originally Posted by noodles maniac View Post
    Makanya gw setuju dengan pendapat etca yang ini..
    dan juga ini...
    koreksi.
    itu bukan pendapat saya, saya cuma copas

  17. #17
    Quote Originally Posted by danalingga View Post
    Ini sepertinya (seperti kata purba) lebih ke nilai2 masyarakat bukan pendidikan ansich.

    Eh, ini pidato di mana ya? di US kah? Kirain US lebih tidak terpengaruh soal tingkatan-tingkatan.
    keknya ini si anak lagi plotes telhadap ambisi olangtua/kelualga nya sendili, dibandingkan kepada intitusi pendidikan. Bukankah tidak ada sekolah yang menelapkan kebijakan bahwa setiap mulid halus menjadi siswa telbaik

  18. #18
    dokter RSJ - KM ancuur's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Location
    RSJ - KM Jabatan:____ Dokter Jiwa
    Posts
    15,694
    jadi gak salah jga, klo ada anak yg malas disuruh belajar.. krna kemungkinan besar ini anak
    memang bukan type si cewek itu tapi menurut gue sih tetep aja si anak harus belajar
    krna klo enggak bagaimana dia akan mendapatkan formula buat hidupnya kedepan nanti

    masalah dia mau mendapat juara atau tidak gue rasa sih itu hanya masalah individu, sangat bangga
    kalau mendapatkannya, biasa2 aja klo gak dapet.. sama aja kyk pemilihan ratu kecantikan kaleeeee..
    dan menurut gue sih, biasanya orang2 pinter itu rada kuper karena dia jarang gaul sama sesamanya
    dia bergaul cuma sama buku2 yg gak bisa di ajak ngobrol, tapi bisa kasih kepinteran

  19. #19
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    Quote Originally Posted by ancuur View Post
    jadi gak salah jga, klo ada anak yg malas disuruh belajar.. krna kemungkinan besar ini anak memang bukan type si cewek itu tapi menurut gue sih tetep aja si anak harus belajar krna klo enggak bagaimana dia akan mendapatkan formula buat hidupnya kedepan nanti masalah dia mau mendapat juara atau tidak gue rasa sih itu hanya masalah individu, sangat bangga kalau mendapatkannya, biasa2 aja klo gak dapet.. sama aja kyk pemilihan ratu kecantikan kaleeeee.. dan menurut gue sih, biasanya orang2 pinter itu rada kuper karena dia jarang gaul sama sesamanya dia bergaul cuma sama buku2 yg gak bisa di ajak ngobrol, tapi bisa kasih kepinteran
    itu yg dibilang geek ya? kutu buku. tapi nyatanya mereka bisa survive bahkan ada yg jadi jutawan, kalo kita bicara kesuksesan sama dgn nominal yg didapat dlm bekerja ya. btw, di lingkungan saya juga berlaku kog, ga perlu sekolah bagus2, ato mahal2. urusan dapet kerja itu hokinya. kalau saya liatnya, kerjakan sekuat tenaga, karena hasilnya cuma kamu yg merasakan. orang. tua cuma sebatas bangga, kamu ga sukses pun, orang tua selalu ada untukmu

  20. #20
    pelanggan tetap ga_genah's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    1,661
    pendidikan adlah proses untuk menjadi lebih baik
    nilai ato score itu hanya alat utk mengevaluasi proses itu
    ga ada yg ngelarang mau sekolah ato ga mau sekolah
    ga ada aturan yg menharuskan jadi murid terpintar ato tidak
    ga ada yg ngelarang utk terus sekolah ampe tua
    misalnya saat kuliah, ada jatah 25% utk tidak masuk kuliah utk ngurusin ektra tao hobi yg lain

    tetapi yg paling memusingkan adalah lingkungan sekitar
    omongan lingkungan sekitar saat seseorang menjadi lulusan terbaik itu membuat keluarga seperti artis
    tetapi saat si anak tdak lulus ujian nasional, saat itu seperti di kucilkan oleh masyarakat
    dan ini membuat orang melakukan segala cara untuk menjadi artis

    selain lingkungan, aturan juga tidak konsisten ato saling tumpah tindih
    seperti yg dikatakan BundaNa aturan yg satu dengan yang lain tidak saling mendukung
    dan sanksi aturannya tidak tegas

Page 1 of 5 123 ... LastLast

Tags for this Thread

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •