Pendidikan yang seharusnya lebih menekankan pada proses dan pengembangan potensi peserta didik justru terkadang mematikan potensi itu. Siswa, serta juga mahasiswa, didoktrin untuk terus menghapalkan dan mempelajari berbagai materi yang lucunya sebagian besar justru tidak akan berguna saat mereka bekerja ataupun hidup bermasyarakat... Lembaga pendidikan seakan hanya ingin mengembangkan potensi akademis peserta didik dan melupakan berbagai potensi lain yang mungkin dimiliki peserta didik tersebut.
Kan sudah disediakan SMK dan Politeknik. Dua lembaga pendidikan itulah yg lebih menyiapkan peserta didik utk segera berguna dalam masyarakat. Tapi apakah masyarakat mau mengambil pendidikan di dua lembaga tsb? Masyarakat melihat dua lembaga tsb tidak bergengsi, kelas dua, masa depan suram, dsb. Masyarakat lebih suka SMA atau Universitas karena bergengsi, high class, dan mengesankan intelektualitas tinggi. SMA dan Universitas memang lebih menekankan pengembangan potensi akademik dari pada potensi yg lain. Sementara SMK dan Politeknik ditujukan utk pengembangan nonakademik seperti keterampilan, dsb. Masyarakat salah kaprah. Akibatnya banyak sarjana "menganggur". Kemudian muncullah kalimat-kalimat kecewa yg mengatakan sekolah/kuliah tidak memberikan manfaat nyata ketika mereka terjun dalam masyarakat.

Kalau mau jadi "Bill Gates", gak perlu sekolah tinggi-tinggi, cukup masuk SMK yg mengasah keterampilan komputer, kemudian lihat pasar dan buka usaha sendiri utk menjual keterampilan tadi. Tapi apakah masyarakat mau seperti itu? Atau kalau sudah kuliah dan merasa tidak berkembang, IP pas-pasan, lebih baik keluar dari perguruan tinggi tsb, kemudian ikuti "Bill Gates". Berani? Mungkin sebagian besar tidak berani karena masyarakat akan mencibirnya sebagai manusia gagal. Inilah nilai-nilai yg dipegang oleh sebagian besar masyarakat di Indonesia.