Page 1 of 4 123 ... LastLast
Results 1 to 20 of 67

Thread: Sidik Jari

  1. #1
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544

    Sidik Jari

    suar.okezone.com
    Minggu, 15 Mei 2011 - 12:41 wib

    Setelah kasus Otak Tengah, yang akhir-akhir ini sering ditanyakan kepada saya adalah tentang tes Sidik Jari untuk mengetahui kepribadian anak.

    Saya, yang sudah 43 tahun malang-melintang di dunia psikologi, belum pernah tahu sebelumnya tentang keberadaan tes tersebut dan tidak mau ambil pusing. Paling-paling penipuan lagi, pikir saya. Tetapi, beberapa hari yang lalu anak saya, yang kebetulan juga psikolog, bercerita kepada saya bahwa dia diajak temannya (baca: dikejar-kejar) untuk bergabung dengan usaha dia dalam usaha tes Sidik Jari. “Lumayan,” kata temannya itu. Captive market-nya ibu-ibu yang punya anak kecil dan sekolah-sekolah. Biayanya Rp500.000 per anak.

    Sebagai psikolog profesional, anak saya meragukan validitas dan reliabilitas (keabsahan dan kesahihan) tes itu. Apalagi dengan job dan statusnya yang sudah mapan dan gajinya yang sudah berlipat-lipat di atas UMR, dia tidak mau ambil risiko. Karena itu, ia minta pendapat saya. Saya langsung saja menyatakan bahwa saya pun tidak percaya, tetapi saya penasaran. Maka saya pun browsing semua jurnal psikologi (hampir seluruh dunia yang berbahasa Inggris) yang bisa diakses oleh mesin searcher dari Asosiasi Psikologi Amerika (APA) di mana saya menjadi salah satu anggotanya.

    Hasilnya menakjubkan, sekira 40.000 tulisan yang mengandung kata “finger print” Langsung saya cari judul-judul yang kira-kira terkait sidik jari dalam hubungannya dengan bakat, kepribadian, atau kecerdasan anak.

    Hasilnya: NIHIL! Sedangkan kalau saya gunakan kata kunci Dermatoglyphic (Dermato artinya kulit, Glyphs artinya ukiran, jadi kulit yang berukiran) ada satu keluaran, yaitu tulisan berjudul “Neurodevelopmental Interactions Conferring Risk for Schizophrenia: A Study of Dermatoglyphic Markers in Patients and Relatives”, oleh Avila, Matthew T; Sherr, Jay; Valentine, Leanne E; Blaxton, Teresa A; Thaker, Gunvant K dalam Schizophrenia Bulletin, Vol 29 (3), 2003, halaman 595- 605. Jadi tulisan yang satu ini pun hanya tentang hubungan antara gejala sakit jiwa schizofrenia (dipercaya sebagai penyakit turunan) dengan pola sidik jari (juga merupakan bawaan).

    Sebaliknya, dari Google, saya mendapat banyak sekali keluaran setelah memasukkan kata kunci “sidik jari”, bahkan ada website-nya. Hampir semua bercerita tentang keilmiahan metode analisis kepribadian dengan tes Sidik Jari ini. Bahkan ada iklan promo yang menawarkan tes Sidik Jari “hanya” Rp375.000 per anak. Sisanya adalah testimoni dari orang-orang yang pernah mencoba tes yang katanya pelaksanaannya sangat mudah. Sedangkan salah satu kalimat promosi mereka adalah bahwa “Analisis sidik jari memiliki tingkat akurasi lebih tinggi daripada metode pengukuran lain. Klaim akurasi 87%”. Luar biasa kalau tes itu benar.

    Kalau seorang ibu sudah mengetahui seluruh “rahasia” kepribadian anaknya melalui sidik jari anak, dia tinggal ongkang-ongkang kaki dan dia hanya perlu mengatur anaknya sesuai petunjuk hasil tes Sidik Jari, dan anaknya akan menjadi orang yang pandai, jujur, kreatif, berbakti kepada orang tua, beriman, bertakwa, dan saleh. Lebih senang lagi anggota Densus 88. Mereka tidak perlu berpayah-payah lagi. Cukup dengan memeriksa sidik jari, mereka bisa mengidentifikasi pembom bunuh diri, menangkapnya, dan memasukkannya ke penjara.

    Tetapi, faktanya kan tidak seperti itu. Upaya manusia untuk mempelajari jiwa sudah berawal sejak zaman Socrates, 400 tahun sebelum masehi, dan melalui perjalanan sejarah yang panjang sekali, serta mendapat masukan dari berbagai ilmu, termasuk ilmu faal dan kedokteran, serta matematika. Wilhelm Wundt baru menyatakan, psikologi sebagai ilmu yang mandiri pada 1879 di Leipzig, Jerman (versi Amerika oleh William James di sekitar tahun yang sama di Universitas Harvard). Pascakelahirannya, psikologi berkembang terus, termasuk mengupayakan berbagai teknik dan metode untuk mengukur berbagai aspek kepribadian, termasuk tes IQ, minat, sikap, bakat, emosi, dan seterusnya.

    Kemajuannya sangat langkah-demi-langkah, tidak ada yang langsung meloncat, dan sebagaimana ilmu pengetahuan lainnya, setiap kemajuan, temuan atau kritik selalu dilaporkan dalam jurnal-jurnal dan seminar-seminar psikologi seluruh dunia. Karena itulah, langkah pertama saya adalah mengecek jurnal ilmiah psikologi untuk memastikan apakah tes Sidik Jari ini termasuk metode yang diakui dalam psikologi atau tidak. Sementara itu, teknik analisis sidik jari juga sudah berkembang sejak 1800-an. Pada 1880 Dr Henry Faulds melaporkan tentang sistem klasifikasi yang dibuatnya untuk mengidentifikasi seseorang.

    Pada 1901 teknik yang disebut daktiloskopi ini digunakan di Inggris, 1902 di Amerika digunakan di kalangan pegawai negeri, 1905 di Angkatan darat AS, dan sejak 1924 mulai dipakai oleh FBI. Tetapi, semuanya untuk menentukan identitas fisik seseorang. Misalnya, apakah benar sidik jari yang ditinggalkan pelaku di TKP (tempat kejadian perkara) perampokan adalah milik si Fulan. Sebelum ditemukan sistem DNA, daktiloskopi-lah yang menjadi andalan polisi. Namun, di kemudian hari, teknik analisis Sidik Jari yang awalnya hanya untuk identifikasi fisik tampaknya berkembang menjadi teknik identifikasi psikis (kejiwaan) juga.

    Ilmuwan Inggris Sir Francis Galton yang masih sepupu Sir Charlis Darwin adalah penganut teori evolusi. Dia percaya bahwa kepribadian ditentukan oleh bakat-bakat yang dibawa sejak lahir dan bakat-bakat itu terukir di sidik jari setiap orang. Maka ia menerbitkan buku Finger Prints (1888) dan memperkenalkan klasifikasi sidik jari yang dihubungkan dengan klasifikasi kepribadian. Pasca-Galton tampaknya dermatoglyphs semakin berkembang dan diyakini sebagai ilmu pengetahuan yang sahih, lengkap dengan buku-buku, dan jurnal-jurnal “ilmiah” mereka sendiri. Kalau kita cari di Google, dengan kata kunci dermatoglyphs akan keluar lebih dari 70.000 informasi, tetapi semuanya diluar komunitas ilmu psikologi.

    Dengan demikian, dermatoglyphs sebenarnya pseudo science (ilmu semu) dari psikologi. Ilmu semu lain dalam psikologi yang banyak kita kenal adalah astrologi (banyak di majalah- majalah wanita dan remaja, tetapi tidak pernah ada di koran SINDO), palmistri (ilmu rajah tangan, yang ketika saya mahasiswa sering saya pakai untuk merayu mahasiswi-mahasiswi Fakultas Sastra sambil meraba-raba tangannya), numerologi (meramal atau menjodohkan orang dengan menggunakan angka-angka tanggal lahir dsb), tarrot (dengan menggunakan kartu-kartu), dan masih banyak lagi.

    Semua itu mengklaim diri sebagai ilmu, lengkap dengan literatur dan teknik masing-masing, dan memang tampaknya sahih dan canggih betul (ada yang putus dari pacar gara-gara bintangnya tidak cocok). Tetapi, ada satu hal yang tidak bisa dipenuhi oleh semua ilmu semu, yaitu tidak bisa diverifikasi teorinya. Dalam Astrologi misalnya tidak pernah bisa dibuktikan hubungan antara singa yang galak dan bintang Leo. Apalagi membuktikan manusia berbintang Leo dengan sifatnya yang galak (banyak juga cewek Leo yang jinak-jinak merpati,loh!).

    Dalam hal ilmu sidik jari sama saja. Tidak bisa diverifikasi bagaimana hubungannya antara sidik jari (bawaan) dan sifat, minat, perilaku, apalagi jodoh dan karier, bahkan kesalehan seseorang yang merupakan hasil dari ratusan variabel seperti faktor sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, lingkungan alam, dan sebagainya, walaupun termasuk sedikit faktor bawaan. Pandangan bahwa kepribadian ditentukan oleh faktor bawaan (nativisme) sudah lama ditinggalkan psikologi.

    Teori yang berlaku sekarang adalah bahwa kepribadian ditentukan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. Karena itu, untuk memeriksa itu diperlukan proses yang panjang (metode psikodiagnostik, assessment) dan duit yang lumayan banyak. Karenaitu, saya tidak pernah menyarankan orang untuk ikut psikotes kalau hanya untuk ingin tahu. Buang-buang duit. Tetapi lebih sia-sia lagi kalau buang duit untuk tes Sidik Jari.

    SARLITO WIRAWAN SARWONO
    Guru Besar Fakultas Psikologi UI

    ---

    Kenapa banyak model2 beginian sih?
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  2. #2
    Barista AsLan's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9,288
    Imbas dari masyarakat kita yg kurang kritis dan kurang ilmiah, mudah dikelabui oleh Pseudo Science.

    Dari dulu saya sudah memperhatikan, orang indonesia mudah ditipu oleh istilah2 yg kelihatannya ilmiah, contohnya para penggiat Tenaga Dalam, mereka suka sekali memakai istilah Enegy, Magnetism, Gelombang, Vibration, sampai2 pernah juga Kompas memuat tulisan seorang Mahasiswa yg katanya mengulas Tenaga dalam, isinya teori2 Fisika yg amburadul tapi lengkap sekali dengan berbagai istilah2 ilmiah yg dicocok2an dengan tenaga dalam, hasilnya ? banyak orang menyukainya dan percaya !

    Fenomena ini mirip dengan Bank Syariah di Indonesia,
    Cara kerjanya semua sistim kapitalis yg murni identik dengan bank biasa, tapi istilah2 perbankan syariah dipenuhi dengan istilah2 Arab sehingga maysyarakat tertipu dan mengira Bank Syariah dijalankan secara hukum Islam.
    ( http://www.kaskus.us/showthread.php?t=8523232 )

    Semua penipuan2 ini menggunakan metode yang sama yaitu penggunaan2 istilah2 yang memukau publik.

  3. #3
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Saya sendiri juga gak percaya... tapi karena kebetulan di playgroup tempat si kakak main diadakan tes sidiq jari secara gratis, ya ikuti aja. Gratiez overrules all

    Hasilnya ternyata semi Briggs-Meyer, tapi cuma dua dari empat variabel yang diikutkan. Mungkin karena cuma promo kali ya? Semacam teaser.
    Hasilnya, si kakak divonis Extrovert dan Intuitif, EF (btw, Bapaknya INFP)

    Coba-coba cari korelasi genetiknya, tapi gak nyambung...

    Ya udah, gak kita pakai sebagai referensi ... prinsipnya setiap keliatan nyembul satu minat... dull... langsung kita sundul Kita lihat aja apa yang bertahan sampe dia gedhe.
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  4. #4
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    gw setuju, analisa sidik jari ini cuma bentuk lain dari "penipuan"
    ala otak tengah.

    Fenomena ini mirip dengan Bank Syariah di Indonesia,
    Cara kerjanya semua sistim kapitalis yg murni identik dengan bank biasa, tapi istilah2 perbankan syariah dipenuhi dengan istilah2 Arab sehingga maysyarakat tertipu dan mengira Bank Syariah dijalankan secara hukum Islam
    loe malah ngasih contoh Bank Syariah dengan istilah Arab,
    apa thread ini mau dibawa ke diskusi agama lagi?
    Last edited by Ronggolawe; 16-05-2011 at 11:11 AM.

  5. #5
    Chief Cook GiKu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    10,315
    kalo dulu ngetop ramalan nasib/masa depan lewat garis tangan
    sekarang pake alat2 elektronik

    ujung2nya sama aja, konsepnya meramal nasib

  6. #6
    pelanggan
    Join Date
    May 2011
    Location
    Jakarta
    Posts
    346
    Tes sidik jari ini kelihatannya lebih mudah diterima daripada aktivasi otak tengah ya, buktinya sudah banyak sekolah yang menawarkan program sidik jari dibandingkan aktivasi otak tengah.

    Sebenarnya dari awal tes ini sudah bisa dicurigai. Pertama dari komersilnya. Tes ini sangat jor-joran dalam promosi dan harganya pun cukup mahal hanya untuk sekali tes. Mengingatkan gw pada program aktivasi otak tengah.

    Isu tes ini sempat di bahas di mata kuliah Tes Inteligensi (kebetulan gw mahasiswa psikologi). Memang benar Francis Galton pernah menyatakan bahwa sidik jari bisa dilihat sebagai patokan inteligensi. Tapi masalahnya, itu terjadi seratus tahun lebih yang lalu, kenapa baru diangkat sekarang? Kalau memang dari awal sidik jari itu ampuh untuk memrediksi, mengapa tidak dari dulu saja sudah heboh?

  7. #7
    pelanggan sejati Urzu 7's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    7,940
    Kalau memang nawarin gratis buat iseng2 yah dicoba saja, kalo disuruh bayar yah jelas jgn mau apalagi sampe ratusan ribu

  8. #8
    pelanggan setia beastmen85's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    The Dreamcloud
    Posts
    3,046
    gw suka pseudo tapi ga separah ini oon'nya

    yah maklumlah, rata2 korbannya ibu2 lagian ilmiah2-ya bikin orang percaya sama aja kek gelang power balance itu
    because, imagination is a part of reality-

  9. #9
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    eh jangan sembarangan ya, ibu2 itu kritis lho! apalagi buat anak2nya, tapi kadang saking ingin yang terbaik beberapa kali terbawa emosi/nafsu percaya tanpa pikir2
    untung ibu2 suka gosip, kalo yan digosipin hal2 positip begini bagus juga (dapet info ini dari gosip ibu2 di fb )
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  10. #10
    apakah cuma di Indonesia saja, semua seminar dan pelatihan diembel2i kata "Quantum" biar terlihat prestise dan "ilmiah", padahal isinya begituan doang?

    *bener2 gak mudeng baca buku seminar gituan yg mencampuradukan antara agama/sains/psikologi/dll*
    you can also find me here

  11. #11
    pelanggan setia beastmen85's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    The Dreamcloud
    Posts
    3,046
    ^ quantum hikmah
    because, imagination is a part of reality-

  12. #12
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    kalo yang katanya bisa menilai tulisan tangan itu, gimana?

  13. #13
    ^ itu mah emang ada ilmunya. Grafologi. Tapi yg ini murni bagian ilmu psikologi
    you can also find me here

  14. #14
    pelanggan setia beastmen85's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    The Dreamcloud
    Posts
    3,046
    Quote Originally Posted by tezar View Post
    kalo yang katanya bisa menilai tulisan tangan itu, gimana?
    coba analisis gratis aja gan, Graphology, tapi ini ada di situs klenik
    coba den gan


    http://truthstar.com/graphology/free_graphology.asp
    because, imagination is a part of reality-

  15. #15
    Pernah nongkrong di Stand Sidik Jari ini. Harganya jutaan kan.

    Melibatkan psikolog segala.
    ´There are two ways to conquer and enslave a nation. One is by the sword. The other is by debt´
    -John Adams-

  16. #16
    Barista AsLan's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9,288
    Tulisan tangan itu bisa dianalisa karena : Tulisan itu hasil dari kerja otak.
    Sama seperti kita menilai kepribadian seseorang dari keadaan kamarnya, caranya berpakaian, caranya bicara, caranya bekerja dst... Semua itu sangat logis.

    Tapi Sidik jari itu apa hasil kerja otak ?
    Sama seperti menilai kepribadian seseorang dari tubuhnya, misalnya pernah ada yg bilang bahwa wanita yg "bungkuk udang" itu nafsunya besar wkwkwwk... (tapi ini masih ada sedikit logika loh... karena bungkuk dan nafsu itu 2-2 nya urusan fisik, tapi kalau fisik dipakai untuk menilai psikologi itu lebih aneh)

  17. #17
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    Quote of the month :

    Gratiez overrules all
    wkwkwkwk...

    Lagi heboh nih diskusi di tempat gosip ibu2, ttg masalah ini.
    Masih ada yang ngotot PRO sidik jari ini, karena merasa cocok dengan hasilnya
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  18. #18
    Chief Cook ndableg's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    5,910
    mengetahui kepribadian anak lewat sidik jari? Kalo kepribadiannya jelek menurut sidik jari gimana? mau dibunuh anaknya? Ato dipotong aja jarinya.

    anak ndiri kok jadi experiment..

  19. #19
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Quote Originally Posted by cha_n
    Lagi heboh nih diskusi di tempat gosip ibu2, ttg masalah ini.
    Masih ada yang ngotot PRO sidik jari ini, karena merasa cocok dengan hasilnya
    Ya wajar saja, Chan, soalnya
    • variabel yang diuji cuma dua dengan dua kemungkinan hasil, jadi ada 25% kemungkinan bener
    • persepsi, ibu-ibu melihat apa yang ingin mereka lihat pada anaknya


    Hasil tes si kakak saya rasa cocok di variabel 'intuitif', tapi saya agak ragu soal 'ekstrovert'... bisa jadi saya memroyeksikan keinginan saya sendiri pada si kakak, secara bapaknya introvert

    Quote Originally Posted by ndableg
    Kalo kepribadiannya jelek menurut sidik jari gimana? mau dibunuh anaknya? Ato dipotong aja jarinya
    Khan hasilnya berupa empat dikotomi skala MB, bleg, gak bakal ada yang jelek.
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  20. #20
    Barista AsLan's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9,288
    Intinya masyarakat kita masih mudah ditipu oleh istilah2 yg hebat2...

Page 1 of 4 123 ... LastLast

Tags for this Thread

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •