Jadi begini ceritanya...

Ini cerita tentang temen sekantor, sebut saja nama Desi. Dia adalah seorang anak tunggal, janda muda beranak satu yang masih TK. Umurnya masih di bawah gw, kelahiran tahun 80-an. Beberapa hari yang lalu dia datang ke ruangan gw dan cerita panjang lebar tentang kegalauannya ke gw dan partner kerja gw. Dia bingung dengan masa depan dia beserta anaknya. Saat ini dia sedang dekat dengan seorang lajang dan bahkan mereka -katanya- berniat serius melanjutkan ke jenjang pernikahan. Namun, belakangan mereka sering berantem dan menurut Desi si lajang ini -sebut saja namanya Mawan- tampaknya gak sanggup lagi bersama-sama dengan Desi. Menurut Desi si Mawan ini sekarang suka menghindar dan bahkan terkesan seperti mencari-cari masalah untuk bisa bubaran dengan si Desi. Gw sih menganggap si Mawan belum cukup dewasa dan siap untuk menerima Desi beserta anaknya. Desi memaklumi bahkan cencerung banyak mengalah dan berusaha mengerti kekurangan Mawan.

Desi seringkali kesel bin sebel ketika tahu bahwa si Mawan ini mencap bahwa anaknya Desi -sebut saja namanya Haqqi- bandel, nakal dan sepengakuan Haqqi, Mawan pernah mencubitnya tapi Mawan tidak pernah mengaku dan menganggap itu hal sepele. Desi lebih percaya pengakuan anaknya ketimbang si Mawan. Desi menjadi tambah berang ketika mengetahui perbedaan perlakuan Mawan kepada ponakannya sendiri ketimbang kepada Haqqi, yang kelak bakal jadi anaknya. Interaksi Mawan bersama ponakan yang merupakan anak dari kakaknya itu bisa menjadi hangat penuh canda tawa berbeda ketika berinteraksi dengan Haqqi yang senantiasa dimarahi oleh Mawan.

Desi adalah perantau dari Padang dan keluarganya banyak berada di sana. Ayahnya sudah wafat dan ibunya tinggal di Jakarta namun sedang merawat neneknya yang sudah berusia 80 tahun. Desi pernah sampai pada titik ingin bubaran dengan Mawan karena dia merasa Mawan bukan sosok yang tepat untuk mendampinginya. Namun masalah tidak mudah, saat ini Desi tinggal di kontrakan yang dekat dengan rumah keluarganya Mawan karena kesehariannya si Haqqi dirawat dan diasuh oleh ibunya Mawan. Saat ini masa liburan sekolah dan Haqqi pun demikian. Entah gimana jika masa liburan telah usai. Tiap harinya Desi selalu membonceng Mawan ke kantor. Begitu ketergantungannya Desi kepada Mawan. Jika mereka bubaran si Desi bingung hendak kemana dan ngapain? belum lagi dia harus memikirkan Haqqi yang harus pindah sekolah lagi jika beneran bubaran..

Gw sempat memberikan saran, jika memang dia serius mau bubaran dengan Mawan ya dia harus siap segala-galanya termasuk pindah kontrakan, pindah sekolahnya Haqqi dan menerima resiko Mawan yang gak mau berhubungan lagi dengannya. Gw menyarankan untuk tinggal bersama ibu dan neneknya saja, namun ibunya menyatakan keberatan dan tidak sanggup jika harus merawat balita dan lansia sekaligus. Gaji Desi untuk membayar pengasuh pun gak cukup, jadi ya pas-pasan aja. Desi sempet berpikir untuk berhenti bekerja dan membuka usaha di rumah, tapi dia bingung mo bikin usaha apa? Gw menyarankan untuk membuka warung kecil-kecilan ato warung kopi/indomie telor serta jualan gorengan yang simpel dan gak ada matinye. Soal modal nanti bisa dicarikan solusinya, tapi masalahnya adalah dia punya pengalaman buruk di lingkungan sekitar tempat ibu dan neneknya tinggal. Desi pernah mengalami pelecehan oleh pemuda-pemuda disana. Ketika gw bilang kenapa gak lapor pak RT aja dia bilang kelakuan pak RT nya pun sama aja. Desi juga pernah cerita kalo dia pernah memiliki seorang ayah angkat yang mau membiayai dan membantu meringankan hidupnya, itu pun si ayah angkat pernah nepsong dan berniat jahat terhadap dirinya. Tampaknya itu yang membuat Desi akhirnya lost contact dengan ayah angkatnya itu.

Gw dan temen gw yang notabene udah menikah 2 tahun beranak 1 pun speechless denger kisahnya si Desi ini, mentok gak tau harus ngasih solusi apa. Kami cuma bisa cheer her up day by day... mendoakan semoga Allah memberikan jalan keluar baginya dan anaknya... Menurut kalian saran apa yang harus diberikan kepada Desi?