Oke.. sebentar...
aku kemarin sambil lalu baca beritanya..


Pertama
Pesantren ini didirikan oleh As Syekh Habib Saggaf Bin Mahdi Bin Syekh Abu Bakar Bin Salim sebagai sekolah gratis di tahun 1998 karena krisis ekonomi.
Rekam jejak sang habib kayaknya juga baik. Dia terkenal sebagai ulama yang toleran. Beliau wafat tiga tahun lalu, November 2010.

sumber:http://id.wikipedia.org/wiki/Pondok_...yah_Nurul_Iman
http://wiki.aswajanu.com/Habib_Sagga...akar_bin_Salim

Kedua
Pada awal tahun ini, yakni bulan Februari 2013,
beredar video penerus sang habib menampar para pengajar di pesantren tersebut.



Tapi tidak ada keterangan, kasus apakah yang terjadi sehingga pemimpin pesantren menampar para pengajar.


Lalu ada kasus ijazah ditahan.

hmmm...
ada sesuatu yang lebih serius di pondok pesantren ini.

---------- Post Merged at 05:14 PM ----------

Menurutnya, sejumlah santri seangkatannya dijanjikan mendapat ijazah selepas kerja magang di sebuah perusahaan batu bara di Balikpapan, Kalimantan Timur. Tapi, pihak ponpes mengingkari kesepakatan itu begitu mereka kembali dari magang.

Lutfi Chalin (33), alumnus asal Du*kuh Cogeh, Kecamatan Ka*rangawen mengungkapkan, pe*na*hanan ijazah terjadi setelah pen*diri pondok, Habib Saggaf bin Mah*di bin Syekh Abi Bakar bin Salim, wafat pada 2010.

Ketika Habib Saggaf masih hidup, Lutfi yang pernah menjadi pre*siden BEM di ponpes itu sama sekali tidak dipungut biaya.

’’Sesuai visi misi abah (Habib Saggaf-Red), semua santri mendapat fasilitas makan, gedung, dan pendidikan secara gratis. Bahkan saya juga mendapatkan ijazah secara gratis ketika abah ma*sih hidup,’’bebernya.

Berniat Pindah

Ia menerima informasi, sejumlah alumnus diminta membayar se*bagai kompensasi selama mereka tinggal di ponpes yang memiliki SMA dan perguruan tinggi itu.

Kini pesantren itu dikelola oleh Krisna yang tidak diketahui pasti hu*bungannya dengan Habib Sag*gaf. Hal senada diungkapkan, So*likhin (50), bapak santri bernama Fiki Kurniarahman. Warga Ka*rang*awen tersebut mendapat ke*luhan dari anaknya bahwa situasi ponpes tengah tidak kondusif.

Fiki pun berniat pindah. Tapi ketika akan meminta ijazah SMA, anaknya tersebut diminta membayar biaya hidup Rp 25 ribu/hari.

’’Anak saya nyantri sejak SMA, jadi harus bayar Rp 25 ribu per hari dikalikan lima ta*hun,’’jelasnya.

Sebelum ini, kejadian serupa dialami Shara Meilanda Ayu, santri warga Tegalalur, Jakarta Ba*rat. Untuk menebus ijazah Shara, Sugiyanto (45), ayah san*tri*wati tersebut, nekat mena*war*kan ginjalnya di Bundaran HI Ja*karta, Rabu (26/6). Perma*sa*lah*an yang dialami Shara selesai se*telah Menteri Pendidikan dan Ke*bu*da*yaan M Nuh turun tangan.

saus kacang: http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2013/07/02/229600