Klo ndak salah klub pada nolak untuk dibagi 2 wilayah mbah.
*Lupa linknya![]()
Klo ndak salah klub pada nolak untuk dibagi 2 wilayah mbah.
*Lupa linknya![]()
belajar nge-blog di ferylife.blogspot.com
gw posting lagi, kali ini dibaca ya mbel......
---------------------------------------------------------------
LPIS Ubah Jadwal, Persema Merasa Dirugikan
PT LPIS dinilai tak konsisten soal jadwal pertandingan di kompetisi Indonesian Premier League (LPI). Sudah tiga kali jadwal berubah. Perubahan tersebut dinilai merugikan klub. Salah satu klub yang merasa dirugikan adalah Persema Malang.
Kali ini, perubahan bukan hanya waktu, tapi pun venue pertandingan, saat akan berlaga melawan Persebaya Surabaya. Pertandingan tersebut akan digelar Minggu (12/2/2012), dan seharusnya digelar di Stadion Gajayana, Kota Malang. Namun, tiba-tiba diganti bermain di Stadion 10 November Surabaya.
"Seharusnya laga itu adalah laga home untuk Persema. Namun, diubah menjadi laga away. Anehnya, dalam surat resmi perubahan jadwal itu, tidak ada alasan kenapa jadwal diubah. Ini sangat merugikan Persema," jelas CEO Persema, Didied Poernawan Affandi, Kamis (2/2/2012).
Rasa dirugikan atas perubahan jadwal juga disampaikan Pelatih Persema Malang, Slave Radovski. Pelatih asal Makedonia itu mengaku kebingungan dengan konsistensi penyelenggaraan kompetisi yang mengubah jadwal dengan seenaknya sendiri. "Saya heran mengapa jadwal selalu berubah-ubah. Hal ini jelas tidak bagus untuk tim. Anak-anak kami saat ini kondisi mentalnya sedang bagus. Jelas kami dirugikan dengan perubahan jadwal itu," keluhnya.
Performa tim berjuluk Laskar Ken Arok itu, memang di atas angin. Setelah berhasil melibat tim tamu, Bontang FC dengan skor akhir 2-0, mereka pun sukses membekap PSMS Medan 4-1 dan Persiraja Banda Aceh 1-0, di Stadion Gajayana Kota Malang.
Sebelum ada perubahan jadwal, Persema siap mematok kemenangan atas tim kesayangan Bonekmania itu. Namun, setelah ada perubahan jadwal, Persema harus berpikir panjang untuh meraih poin di kandang Persebaya. "Kalau laga home, target kami poin penuh. Semua pelatih pasti demikian. Tapi di laga away, poin sempurna pasti tidak mudah. Apalagi lawan Persebaya yang punya suporter luar biasa kompak," kata mantan pemain Persebaya itu.
saus
"Maybe not all of our efforts will be rewarded. But without effort, you will get nothing"
Takahashi Minami
------------------------------------------------------------------
Thread paling Hot dil AKB48 Glossary l 48Fams l My Blog
trus kenapa mbah? Persema seharusnya bisa protes ke PSSI.
Pelita Jaya kok pindah ke bandung tandingnya? Tergiur tiket bobotoh ya
http://bola.inilah.com/read/detail/1...ser-ke-bandung
belajar nge-blog di ferylife.blogspot.com
jawaban cerdas.....
---------- Post added at 12:27 AM ---------- Previous post was at 12:21 AM ----------
Rekonstruksi, Rekonsiliasi, Resolusi PSSI
Ketika Perang Sipil Amerika pecah pada 1861, seorang kolonel dari United State of America (USA), Robert Edward Lee, memilih pulang kampung untuk membela kota kelahiran, Virginia, yang tergabung pada 11 breakaway states.
Ke-11 negara bagian yang berada di wilayah selatan Amerika itu membentuk Confederate State of America (CSA). Tidak ada tekanan atau paksaan baik dari teman maupun keluarga saat Lee memutuskan untuk membela CSA. Keputusan itu malah mengejutkan orang-orang terdekatnya, termasuk istrinya, Mary Anna, yang lebih mendukung USA.
Bukan keputusan yang mudah bagi Lee karena ia harus berhadapan langsung dengan orang-orang terdekat termasuk sepupunya, Samuel Phillips dan John Fitzgerald, yang tetap setia menjadi pasukan Union.
Lee yang kemudian menjadi jenderal di CSA pada 1863 menulis surat untuk sang istri tercinta. “Hal yang kejam dari perang adalah memisahkan dan menghancurkan keluarga dan teman, merusak kegembiraan dan kebahagian murni dari Tuhan yang telah memberikan kita dunia ini, mengisi hati kita oleh kebencian, bukan cinta kepada tetangga kita, dan bahkan menghancurkan wajah dunia yang indah ini.”
Kebencian dan perang di mana pun hanya menghasilkan kehancuran. Rekonstruksi dan rekonsiliasi yang dilakukan setelah Perang Sipil berakhir pada 1865 karena hanya itu yang bisa mengembalikan kehidupan setelah era kegelapan hingga membunuh 620.000 tentara, termasuk juga Presiden Abraham Lincoln. Presiden AS ke-16 itu ditembak oleh simpatisan CSA, John Wilkes Booth, pada 14 April 1865.
Perbedaan pandangan termasuk masalah perbudakan hanya bisa diselesaikan oleh hakikat keinginan kedua belah pihak untuk bersama-sama membangun kembali Amerika. Benturan keinginan saat era rekonstruksi yang berlangsung hingga 12 tahun diselesaikan dengan duduk bersama untuk menyatukan persepsi, bukan kembali berperang di jalanan.
Tidak ada hubungannya antara Perang Sipil Amerika dengan kisruh sepak bola nasional, tetapi dalam dimensi yang berbeda ada kemiripan dan pembelajaran yang bisa dilihat oleh PSSI dan breakaway league yang kemudian memicu pembentukan Komite Penyelamatan Sepak Bola Indonesia (KPSI) hingga berujung pada rencana melakukan Kongres Luar Biasa.
Tancap gas pendapat, adu ngotot ego, hingga bolak-balik bersilat kata soal statuta hanya membawa sepak bola nasional ke titik sangat sumir selama tidak ada kesamaan landasan keinginan untuk melakukan rekonsiliasi. Dalam situasi sepak bola yang kian memburuk ini tidak perlu lagi terus saling menyalahkan jika orang-orang di balik PSSI dan KPSI benar-benar berniat memperbaiki dan atas nama sepak bola nasional. Faktanya kedua kubu sama-sama memiliki andil pada kebobrokan kondisi sepak bola kita saat ini sehingga mereka sepantasnya merefleksi diri. Adu ngotot keinginan hanya akan terus memperparah situasi dan korbannya sepak bola itu sendiri. Para pemain, wasit, dan orang-orang yang hidup dan benar-benar mengabdikan diri untuk sepak bola menjadi korban egoisme para petualang.
FIFA dan AFC pun enggan berkomentar menyangkut permintaan KLB karena itu merupakan urusan dalam negeri yang harus diselesaikan oleh PSSI sendiri. Pada surat yang ditandatangani oleh Sekjen FIFA, Jerome Valcke, dan Sekjen AFC, Alex Soosay, dan dikirim ke PSSI pada 13 Januari 2012, FIFA dan AFC menegaskan: FIFA and AFC are not in a position to comment on the validity of the request.
KPSI berniat melakukan KLB karena mengklaim mendapat dukungan dari 452 anggota PSSI atau lebih dari 2/3 anggota PSSI untuk melakukan KLB. Pada surat dari FIFA dan AFC tersebut, terungkap bahwa dari hasil verifikasi yang dilakukan PSSI adalah 320 dari 580 anggota yang meminta KLB atau kurang dari 2/3.
Kalau mau fair, PSSI dan KPSI sebaiknya mempublikasikan 320 anggota versi PSSI dan 452 versi KPSI yang mendukung KLB agar menjadi terang apakah perlu ada KLB atau tidak. Kalau PSSI yang benar, kubu KPSI jangan ngotot menggelar KLB, tapi jika KPSI yang benar mendapat dukungan lebih dari 2/3, tentu PSSI harus membuka diri karena keberadaan PSSI tidak bisa lepas dari para anggotanya.
FIFA dan AFC sendiri menegaskan agar PSSI menyelesaikan permasalahan dan menemukan resolusi di dalam Kongres Tahunan. In view of the above and considering the on-going problems facing Indonesian football, FIFA and AFC strongly recommend that PSSI convene as soon as possible an Ordinary Congress to ensure compliance with its statutes and to provide a forum for resolution.
Menyangkut Kongres Tahunan, FIFA dan AFC sedikit mengancam agar segera dilaksanakan PSSI: Ordinary Congres should be held before 20 March 2012 to avoid the referral to the FIFA Association Committee for possible sanction.
FIFA dan AFC pasti gerah pada kisruh sepak bola Indonesia yang terus menerus berlangsung dan seperti tanpa ada penutup cerita. Kita pun pasti muak pada berbagai dagelan yang sehari-hari berdengung lebih nyaring dibanding prestasi dan pembinaan.
PSSI dan KPSI harus duduk bersama untuk membuka pintu rekonstruksi, rekonsiliasi, dan mencari resolusi. Namun, mereka lebih terlihat ngotot untuk mengedepankan kepentingan kubu masing-masing. Mereka seperti menutup telinga, tak mau mendengar masukan apalagi kritikan, tak sudi membuka hati karena merasa yang paling benar. Padahal PSSI bukan milik pengurus maupun kubu KPSI. PSSI milik bangsa ini, sama halnya dengan Bendera Merah Putih, Burung Garuda, dan Lagu Indonesia Raya. PSSI memang bukan lambang negara, tetapi PSSI sejak dilahirkan merupakan alat perjuangan yang sepatutnya menjadi kebanggaan semua warga dari Aceh hingga Papua. Tapi, kini sangat ironis karena sebagian besar klub memilih bersebrangan dengan PSSI dan pintu sebagian besar pemain ditutup untuk membela tim nasional.
Untuk itu, harus ada penengah yang bisa mempertemukan PSSI dan KPSI dan yang patut melakukannya adalah pemerintah dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olah Raga dan juga KONI. Tapi, Kemenpora dan KONI harus menjadi wasit yang benar-benar netral karena jika dianggap memihak oleh salah satu kubu, keinginan mencari solusi akan kembali sulit tercapai.
Akan lebih efektif lagi jika Kemenpora dan KONI mempertemukan tokoh-tokoh yang mungkin didengar oleh PSSI maupun KPSI seperti Arifin Panigoro dan Nirwan D. Bakrie. Jika bisa berbicara dari hati ke hati dengan koridor niat murni demi sepak bola, rasanya atmosfer panas sepak bola kita bisa reda dan memulai dari awal untuk berjabat tangan membangun sepak bola nasional.
Atau apakah orang-orang di balik PSSI dan KPSI sebetulnya tidak peduli pada sepak bola kita? Semoga tidak begitu!
saus
-------------------------------------------------------------------------------------
buat bahan refleksi untuk mereka2 yang membela pssi (dan ipl) serta kpsi (dan isl)
Last edited by Kingform; 05-02-2012 at 01:30 AM.
"Maybe not all of our efforts will be rewarded. But without effort, you will get nothing"
Takahashi Minami
------------------------------------------------------------------
Thread paling Hot dil AKB48 Glossary l 48Fams l My Blog
KecapFranchise untuk MLS, Bukan Indonesia (1)
Dalam sport, Amerika Serikat (AS) adalah anomali. Ada kesan pula agak arogan. Mereka senang membuat segalanya berbeda dari tempat lain. Rugby dimodifikasi jadi American Football, softball diubah jadi baseball, dan sebagainya. Pokoknya harus beda.
Begitu juga di sepakbolanya.
Untuk mengikuti Major League Soccer (MLS) — kompetisi profesional di AS, Anda sebagai (calon) pemilik klub harus mengantongi franchise.
Lho, apakah MLS punya klub? Tidak! Bentuk franchise-nya tidak seperti kedai kopi Starbucks atau Kentucky Fried Chicken.
Franchise yang dimaksud oleh MLS adalah sebuah hak untuk mendirikan klub (calon) peserta kompetisi pro. Guna membeli hak itulah, Anda atau konsorsium harus memenuhi sejumlah syarat.
Requirements (franchise) come first, club will come after that. What kind of requirements?
Pertama, aspek finansial. Anda harus membuktikan bahwa kocek Anda sangat-sangat tebal. Anda harus menunjukkan kemampuan membayar gaji seluruh orang yang ada di klub (termasuk pemain dan pelatih) dan membiayai operasional klub selama mengikuti MLS. Jumlahnya bisa mencapai ratusan juta dolar.
Kedua, Anda harus punya home ground alias kandang untuk bermain. Stadion yang diajukan dalam proposal pun harus memenuhi sejumlah syarat teknis MLS. Apesnya, ini syarat yang gampang-gampang susah.
Kita tahu bahwa AS adalah negeri yang gandrung pada baseball dan American Football. Banyak stadion di sana yang dibangun untuk kepentingan dua sport itu. Bila Anda mengajukan stadion yang tidak didesain khusus untuk sepakbola, maka akan ditolak. Stadion harus murni untuk sepakbola dan bukan American Football atau baseball.
Saat sudah menentukan stadion sesuai teknis MLS, Anda juga harus mengantongi kesepakatan leasing dengan pengelola/pemilik stadion dengan biaya ratusan juta dolar. Bila itu sudah aman, maka MLS akan memberi kode lampu hijau. 86!
Syarat ketiga, Anda harus mengantongi izin dari pemda setempat bahwa klub akan berkandang di kota tersebut. Segala izin untuk mendirikan klub di sana — termasuk bertanding, pembayaran pajak dan kemungkinan pembagian keuntungan harus dijelaskan dalam MoU dengan pemda/walikota.
Keempat, Anda harus membayar franchise fee kepada MLS sebelum mendapat status sebagai peserta liga. Konon, sebagai contoh, Seattle Sound harus membayar fee sebesar 40 juta dolar sebelum ambil bagian di liga mulai tahun 2009.
Nah, katakanlah, keempat syarat itu bisa Anda penuhi. Namun franchise MLS belum tentu diperoleh. Apa pasal?
MLS masih harus melakukan riset pasar. Apakah kota di mana klub akan bermarkas punya cukup basis fan? Apakah penggemar di kota itu mampu membeli tiket dan merchandise tim? Jawaban dari pertanyaan ini harus positif. Bila sebaliknya, Anda terpaksa gigit jari.
Itu sebabnya, jangan heran bila melihat ada klub MLS yang dipindah kandang ke kota lain. Bahkan ada pula yang dicopot dari MLS dan hilang dari peredaran. Penyebab yang paling umum adalah sepinya penonton atau menurunnya penjualan merchandise. Artinya, kota itu ternyata tidak prospektif sebagai peserta liga.
KecapFranchise untuk MLS, Bukan Indonesia (2)
Kelihatan sekali MLS dipersiapkan/dilakukan dengan matang dan penuh perhitungan. Parameternya adalah sebelum mengikuti kompetisi (calon pemilik klub) dan saat sudah berada di dalam kompetisi (pembatasan gaji pemain/salary cap dan sistem draft untuk pemain rookie).
Seolah-olah yang dibuat oleh MLS adalah memperbaiki sistem terbuka (mekanisme pasar) ala Eropa. Walaupun UEFA saat ini punya Financial Fair Play, tetapi MLS sudah sejak awal melakukannya. MLS meminimalisir kekacauan yang mungkin timbul.
MLS boleh bersyukur karena punya cermin yang cemerlang (UEFA). MLS sadar bahwa AS bukan negara sepakbola walaupun pernah punya kompetisi sepakbola profesional pada era 60-70-80-an dengan Pele dan Franz Beckenbauer di dalamnya.
MLS menjalankan studi kelayakan dengan serius. Padahal mereka berada di negara super power. Studi banding yang serius dan panjang juga pernah dilakukan oleh Japan FA ketika akan memulai J-League.
Lalu, apakah MLS dengan sistem franchise-nya cocok diterapkan di kompetisi Indonesia? Jawaban saya simpel: tidak! Kalau mau meniru sedikit banyak, mungkin sistem dan manajemen kompetisi Jerman lebih pas.
Yang perlu dicermati adalah proses menuju MLS-nya. Kompetisi sepakbola saat ini sudah menjadi industri dan dalam industri dibutuhkan variabel riset. Ada studi kelayakan dan studi banding. Itulah yang perlu dilakukan pengelola kompetisi di sini.
Apakah kompetisi Indonesia — entah Liga Super Indonesia atau Liga Primer Indonesia — pernah melakukan variabel itu? Selama saya mengikuti berita-berita mereka, rasanya tak pernah. Kelihatannya hanya dengan belajar sambil lalu. Mungkin saya salah.
Bila MLS yang berada di negara sebesar AS mensyaratkan kecukupan modal ratusan juta dolar bagi calon pemilik klub, bagaimana mungkin kompetisi di Indonesia — sebagai negara dunia ketiga — tak pernah memerhatikan hal itu. Seperti halnya di MLS, di berbagai kompetisi regional Eropa, klub pun diharuskan membuktikan kemampuan finansial mereka mengikuti liga dengan menyetor uang deposit di awal musim. Ini tidak dilakukan di Indonesia!
Entahlah, apa yang ada di pikiran pengelola liga di Indonesia. Alhasil, krisis keuangan seperti yang dialami oleh Persiba Balikpapan selalu terjadi setiap tahunnya. Ajaibnya, klub-klub itu tetap survive sampai kompetisi usai.
Kompetisi di Indonesia diikuti oleh banyak klub karbitan. Klub yang mengikuti kompetisi tanpa sumber dana yang jelas. Klub yang keikutsertaannya atas dasar kepentingan Pilkada. Bukan atas dasar pembinaan, bukan pula atas azas prestasi.
Terus terang, saya ndak sreg melihat level tertinggi kompetisi di Indonesia diikuti oleh beberapa klub dari kota kecil. Misalnya, PSAP Sigli, PSSB Bireun, Persidafon Dafonsoro dan beberapa yang lain. Saya membayangkan kekuatan sumber dana mereka. Saya menghitung biaya tandang dari ujung Barat Indonesia ke pojok Timur Indonesia dan sebaliknya. Itu baru satu kali pertandingan. Ada berapa pertandingan dalam semusim dan seterusnya.
Bila dana diambil dari APBD, betapa absurd. Kawasan di seluruh pelosok Indonesia masih membutuhkan pembangunan infrastruktur. Puskesmas, rumah sakit, sekolah, dan sebagainya. Itu jauh lebih penting ketimbang hura-hura di sepakbola.
Lho, kompetisi kan boleh diikuti klub dari kota manapun, mas? Tak peduli dari kota besar atau kecil? Iya, tentu saja boleh. Tetapi proses kehadiran mereka harus ditegaskan dulu. Termasuk klub-klub besar tradisional. Selain pembinaan, esensi kompetisi adalah untuk mereka yang mampu. Apa parameter “mampu”? Itulah yang harus ditegaskan. Dihitung. Dipelajari. Dirumuskan.
Boleh saja tim seperti PSAP mengikuti kompetisi, tetapi harus atas dasar organik atau alami. Mereka ikut karena memang mereka benar-benar pantas dan mampu. Memenuhi persyaratan secara teknis atau non teknis yang terukur benar.
Bila pengelola MLS saja merasa perlu menerapakan syarat ketat dan melakukan riset pasar, maka kompetisi di Indonesia juga perlu melakukannya. Demi sistem yang baik dan cocok. Jangan lupakan pula kompetisi regional yang akan berguna bagi banyak klub di Indonesia. Klub bisa belajar mengukur diri. Belajar organik, sekaligus bertekad membuktikan kepantasan mereka agar dapat tampil di jenjang tertinggi.
Requirements come first, clubs will come after that.
---------- Post added at 09:08 AM ---------- Previous post was at 09:06 AM ----------
Nah, sepertinya masalah requirement ini telah dilanggar PSSI
Ketika PSMS (dan tim degradasi lainnya) masuk tiba-tiba ke
LPI.
Point plusnya, PSSI telah membuat requirement (soal lain
jika requirement itu akhirnya dilanggar sendiri). Minimal dah
ada niat. Harapan saya, musim depan lebih tegas lagi
dalam mematuhi requirement itu.
buat ngakak dan sekilas info, nemu di na6a
Spoiler for timnas juara:
![]()
^ hehehe...kok ngg kedengeran ya beritanya![]()
~Radio Kopimaya~
beneran kok, beberapa waktu lalu sempat liat di newsticker sih
ini beritanya
saosTimnas U-17 Sabet Juara di Hongkong
HONGKONG - Timnas U-17 Indonesia menjuarai HKFA International Youth Football Invitation Tournament 2012 setelah melibas Singapura 3-1 di Stadion Po Keung Tsuen Village, Minggu (29/1) siang. Hasil itu memastikan Garuda Muda membawa pulang trofi karena pada dua laga sebelumnya menang atas Hongkong dan Timnas Makau.
Di bawah suhu udara yang dingin sekitar 8 derajat Celcius, Garuda Muda sempat tertinggal lewat gol M. Hasyim Faiz menit ke-36, namun di babak kedua mampu membalikkan keadaan. Tiga gol pasukan Indra Syafri dicetak Sabeq Fahmi menit ke-55 dan '59, serta Evan Dimas Darmono dari titik penalti pada menit ke-69.
Sepanjang sejarah sepakbola Indonesia yang terdokumenasikan, Timnas U-17 Indonesia baru kali ini merebut gelar juara. Jika pun ada prestasinya, itu diperoleh Timnas Pelajar Indonesia setelah menjuarai Pelajar Asia di New Delhi 1984, dan tahun 1985 di Jakarta, 27 tahun yang lalu.
Para Pelajar Indonesia yang menjuarai dua turnamen Pelajar Asia itu merupakan produk 'naturalisasi' Ragunan. Saat itu Frans Sinatra Huwae dipercaya dua kali menjadi kapten tim oleh tim pelatih Burkhard Pape, Omo Suratmo dan Maryoto.
Sukses meraih kemenangan 3-1 atas Singapura menyempurnakan pencapaian Garuda Muda di Hongkong dengan nilai sembilan. Pada laga pertama, Indonesia menundukkan tuan rumah Hongkong 1-0, dan membantai Makau 4-1.
"Sangat menggembirakan. Semoga saja ini awal dari kebangkitan sepakbola nasional. Hal ini pun semakin menegaskan bahwa program pembentukan skuad tim nasional secara berlapis memang wajib dilaksanakan," kata Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin seperti siaran pers yang diterima Okezone, Minggu (29/1/2012)
Djohar juga berharap pemain yang ada di luar negeri bisa terpantau dengan baik sehingga mereka kelak bisa menjadi pemain tim nasional. "Timnas U-17 ini nantinya akan terus dibina. Paling tidak terjadi tambal sulam untuk menyiapkan pemain tim nasional," tambahnya.
Pelatih Timnas U-17 Indonesia, Indra Syafri mengaku cukup puas atas hasil yang dicapai anak asuhnya. Meski waktu persiapan cukup mepet, tapi bisa memberi hasil maksimal di Hongkong.
Indra Syafri juga mengungkapkan, keputusannya mengistirahatkan lima pemain utama nyaris membawa petaka. Sebab, Singapura yang semula diprediksi mudah ditaklukkan karena dilibas Hongkong 5-1, ternyata membuat perlawan yang berat.
"Keputusan yang nyaris membuyarkan harapan. Tetapi saya senang anak-anak bisa juara apalagi seluruh 18 pemain yang dibawa ke Hongkong semuanya diturunkan. Mereka masih muda sehingga harus diberi kesempatan bermain," kata Indra Syafri.
Mantan pelatih Timnas U-16 Indonesia itu juga mengatakan, tidak tertutup kemungkinan jika pemain muda ini dipromosikan ke level timnas yang lebih tinggi. “Jika berbakat, mereka bisa dipromosikan bahkan ke tim senior,” kata dia.
Ada beberapa pemain U-17 yang digadang-gadang memiliki potensi cerah di masa depan, di antaranya Sabeq Fahmi, Samsul Muhidin Pelu, dan Indra Kelana Nasution. Keberhasilan Garuda Muda di Hongkong memberi banyak komentar, di antaranya, trofi itu bukanlah tujuan tetapi bagaimana melakukan pembinaan usia muda secara berkelanjutan guna membentuk tim nasional yang berkualitas di kemudian hari.
Kalo dirunut ya..sering banget gw denger tim Junior Indonesia berprestasi..
cuma kalo udah masuk senior jadi bapuk
kapan ya liga nya bener nih...
~Radio Kopimaya~
jangan main di liga Indonesia
SAD yg di Uruguay itu lumayan berhasil kan ya kayaknya![]()
"Maybe not all of our efforts will be rewarded. But without effort, you will get nothing"
Takahashi Minami
------------------------------------------------------------------
Thread paling Hot dil AKB48 Glossary l 48Fams l My Blog
Baca koran warta kota hari sabtu bilang kalo kepengurusan Nurdin Halid itu korupsi, emangnya yang sekarang enggak?![]()
Jika menurutmu hidup ini tidak menarik, maka buatlah hidupmu semenarik mungkin - Shinsaku Takasugi
Impossible is nothing!
timnas U21 ikut turnamen di Brunei, kemaren sama singapur draw 1-1
parah lawan myanmar , lead 1 - 0 malah kalah 3-1
pemain karbitan semua, seleksinya cuma sebentar ,,,
cuma bawa andhik doang ...
BEYOND GENIUS !!!!!!!!
PSSInya bingung, yg dr LSI ga bole masuk timnas kan?
^
yang bingung pelatihnya....pssi nya sih masa bodo
kita liat aja bisa apa timnas tanpa pemain2 dari ISL
khusus buat timnas u-21 mainnya emang amburadul
pas lawan singapura aja sering banget salah oper. masa bola dioperin ke musuh![]()
"Maybe not all of our efforts will be rewarded. But without effort, you will get nothing"
Takahashi Minami
------------------------------------------------------------------
Thread paling Hot dil AKB48 Glossary l 48Fams l My Blog